-->

SMS Gratis

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Safinah Mahabbah

Zuhri KPK

“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”
“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”
Alunan Adzan membahana di seluruh penjuru Kota Pontianak khususnya di Jalan Sepakat II yang memiliki beberapa masjid dan surau. Tidak terkecuali pula Surau Umar milik Asrama Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya. Sosok-sosok bernyawa tergeletak tak beraturan di depan Televisi. Sungguh dua pasang mata mereka bak di lem hingga mereka tak mendengar alunan indah dari Khozin yang menyeru untuk menghadap kepada sang Ilahi. Udara pagi terasa menelusuk tulang hingga mendorong tepi mataku untuk menarik  semua bagian mata agar terpejam kembali. Gerak tubuhku juga turut menyempurnakan posisi tidurku agar semakin terasa nyaman. Musim hujan ini memang membuat aku selalu terlena dalam kenikmatan tidur. Cuaca dingin memaksaku untuk bermalas-malasan menghadap kepada Sang Pencipta.

Selasa, 30 Oktober 2012

Cerita Umi tentang Qurban


Funtea Kpk

Pra qurban, Umi punya beberapa cerita. Cekidot!!!
-=oOo=-

#Cerita1
Suatu sore di Majelis Ta’lim (MT), beberapa minggu silam.
Ibu MT 1         : “Wah, lebaran haji nanti ni, surau komplek kita ade 2 sapi, ni.”
Umi                 : “Disalurkan kemana nanti tu Bu?”
Ibu MT 1         : “Untuk kite-kite sini jak, Bu.”
Ibu MT 2         : “Iiii, kebanyakan lah kalo motong sampe 2 ekor, Bu. Satu jak. Yang satunye untuk taon depan, Bu!”
Ibu MT lainnya: “Iye Bu boleh tu kayak gitu!”
Umi                 : (melengos, bingung harus bilang apa)

Kamis, 02 Agustus 2012

Benih-Benih Kerinduan

Tiara Satya KPK

Gelap malam berhasil menjaringku ke dalam sepi yang membius isi dunia. Semua terlihat diam.

Selasa, 26 Juni 2012

Caca, Sahabatku

Ariyanti Ammara Kpk

Siang itu aku pergi dengan terburu-buru. Setengah berlari aku keluar dari rumah sambil menenteng beberapa buku. Bruukk.. Aduh. Buku-bukuku berserakan. Cepat ku ambil. Astaghfirullah..

Jumat, 25 Mei 2012

Kan Indah Pada Waktunya

Tiara  Satya KPK

Gadis itu masih menatap bayangannya di cermin. Sepertinya ia belum ingin beranjak dari tempat itu. Akhir-akhir ini sepertinya banyak sekali masalah yang menyesakkan hatinya. Ia melihat dirinya nampak sedikit lebih kurus. Kerudung biru muda itu telah terpasang dengan rapi dan menambah keanggunannya. Sesaat kemudian ia tersenyum menyadari dirinya masih mampu tegar menghadapi semua ini. Sekali lagi ia memeriksa tas yang akan di bawanya. Sebuah album foto yang tergeletak di atas meja cukup menguatkan hatinya. Setelah itu ia berangkat.

Mengukir Tetesan Embun Cinta

Rafa Al Qinansa KPK
 

“Ran, ada bunga untuk kamu.” seru Tita dengan senyum.
“Dari siapa, Ta?”

“Aku tidak tahu. Coba kamu baca aja tulisannya.”

Ranya membuka lipatan kertas di dalam bunga itu. Di halaman depan tertulis kata “LOVE” lengkap dengan gambar hati memenuhi sampul depan itu. Isinya :

Ketika cinta itu tulus


Kana Effendi

Hujan. Mungkin sebagian orang akan menyikapinya dengan (dalam bahasa halusnya) “mengeluh”. Sebagian lagi memilih untuk bermalas-malasan. Namun, lain halnya dengan seseorang yang kukenal. Gerak-geriknya yang sangat kuhapal, pasti ia akan duduk disamping jendela kamarnya, membiarkan matanya menatap kearah luar jendela, menatap pasukan barisan hujan, seakan nggak mau ketinggalan sebutir pun rintik-rintiknya. Ia selalu menatap hujan dengan penghayatan mendalam, penuh arti. Seolah rintik-rintik hujan itu adalah jejeran huruf yang bertransformasi menjadi kalimat dan mengajaknya bicara. Selalu ia tersenyum, kemudian memejamkan matanya cukup lama.

Jumat, 27 April 2012

Story Of Sang Pemilik Ilmu

Warami Nurbiyanti **
Kakiku terasa berat melangkah, seperti ada seribu makhluk malas yang menempel dikakiku. Mereka seakan-akan merasuki jiwaku yang tak bernyawa hinggalah aku malas dibuatnya. Ibuku berteriak-teriak dari arah luar kamarku, sembari menggedor-gedor pintu kamarku.“ Rudi ooooo Rudi, macam mana kau ni nak. Tiap pagi dibangunkan jak terus, dak malu kah nak didengar tetangga, tiap pagi rumah ni ke rumah nijak terus yang ribut bangunkan kau”. Terdengar jelas suara omelan ibuku dari arah luar kamarku.Aku sih sebenarnya sudah bangun, tetapi untuk beranjak bangun dari tempat tidur dan melangkah untuk mandi itupun malas benar rasanya. Pastilah hari ini aku terlambat lagi deh. Emmmm biar aja dah. “lagi-lagi Rudi”, yah selalu seperti itulah dosen berkata padaku ketika memergokiku telat. Rudi Ardiansyah. Itu nama pemberian kedua orang tuaku, 19 tahun yang lalu aku terlahir di Bumi Khatulistiwa ini. Sebenarnya aku ini hidup untuk apa sih? makan untuk hidup atau hidup untuk makan. Aku pun bingung. Padahal umurku sudah 19 tahun, sudah sepantasnya aku ini dewasa. Kata orang-orang, aku ini anak mamakku yang paling cakep tapi kata mereka juga aku yang paling nakal. Hahahahaha..... Aku mah kagak peduli lah omongan orang, yang penting aku jalani hidup ini dengan santai aja. Kuambil handuk dan kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Wah celap sekali pagi ini,tetapi aku hantam sajalah. Air dingin itu kubiarkan saja mengalir ke tubuhku dari shower yang ada dikamar mandi. Sedangkan diluar, masih saja kudengar omelan ibuku. Ibu,,,,,ibu walaupun engkau terdengar cerewet dimataku, engkau tetap yang kusayang. Biar kata orang aku ini bandel,tetapi yang tak bisa aku lakukan adalah melawan kedua orang tuaku. “Ooo mak ai,,,,bayaham ngomel pagi-pagi, nanti cantiknya hilang pula”. Gurauku kepada ibuku dari arah dalam kamar mandi, dan ibuku pun tiba-tiba berhenti mengomel. emmm,,, lega. .................................................................................. Waduh,ruanganku jauh sekali,aku lupa kalau hari ini kuliahnya di gedung E gumanku dalam hati. Dengan langkah cepat aku bergerak dan bergegas,seperti dikejar-kejar polisi saja aku ini. “Rudi lagi, Rudi lagi” tiba-tiba bapak dosen itu keluar dari arah kelasku dan langsung menegurku, padahal kakiku ini belum sampai masuk ke kelas. Kubalas dengan senyuman saja perkataan dosen itu. Cuek sajalah, kutampakkan wajah tak berdosaku. “Bapak tu mau kemana woy....” Tanyaku kepada Reni teman sekelasku. “Way woy way woy, orang punya nama kali boy” balasnya dengan ketus sambil berlalu dan duduk di kursi yang ada didekatnya. “Emmmm,,,, iyalah Reni yang cantik, Reni yang langsing, bapak tu tadi kemana?” “Langsing kayak aku, gendutnya macam mana?”Mendengar celetukan Reni itu teman-temanku jadi tertawa puas. Reni ini sebenarnya tidak langsing, justru Reni ini wanita paling subur di kelasku alias bongsor. Tapi aku suka saja menggoda dirinya. “Dari pada kau, muke cakep, tampang keren, tapi bah malas e tu dah dak bisa dipedah agik. Mau jadi apa kalo kau gitu terus. Bagus kau gantikan Patung Bujang Beji jak sana”. Kubalas lagi dengan nad meledek “Aku mau jadi Reni, mau jadi gendut” aku pun tertawa sendiri mendengar jawabanku itu. Tiba-tiba Reni berdiri dihadapanku dan berkata........... “Eh pak Rudi, saye bilang ye pak. Mamak ma bapak kau tu letih-letih bangun pagi, dah tu pergi ke pasar, bedagang sampai sore. Sadar dak tu untuk sapa? pasti kau dak sadar. habis telinga kau tu tak pernah bayar pajak. Untuk biayain kau sekolah Rud, untuk hidup dan kebutuhan kau. Tapi kau balas apa coba? kau balas dengan gaya kau sekarang ni. Kau bangga kah dikasih predikat mahasiswa bandel? kalo aku mah malu oy. Kau ke kampus ni niat dak sih? Kita tak tau umur Rud, kalo Tuhan ambil nyawa orang tua kau duluan macam mane? Nangis darah kali kau. Aku bilang gini karna aku sayang kau teman”. Panjang lebar Reni berkata di hadapanku, omelannya melebihi omelan mamakku. Sejenak ku renungkan perkataan Reni itu. Tidak ada yang salah dengan omongannya. Dan aku memang seperti yang diucapakan Reni. Aku tidak tersinggung dan aku tidak membalas ucapannya. Aku memang dikenal sebagai mahasiswa bandel, sebenarnya aku tidak bangga, tapi aku merasa biasa saja dengan predikat itu.Kalimat yeng paling menggetarkan hatiku ketika Reni mengatakan bagaimana jika kedua orang tuaku tiba-tiba meninggalkanku untuk selamanya. Sedih sekali hati ini. Reni tau meskipun aku seperti ini namun aku tak bisa pisah jauh dari kedua orang tuaku. aku sangat menyayangi mereka. Dan bapak dosen itu pun kembali lagi ke kelasku. Suasana belajarpun kembali normal lagi. Sama seperti mata kuliah lainnya, aku tidak terlalu merespon penjelasan dosen-dosen itu. Aku terlalu meremehkan apapun yang ada di hadapanku, dan jarang sekali merespon meski itu hal sensitif. Perkuliahanpun usai.............. Aku menghampiri Reni yang sedang menunggu jemputan ayahnya. “Ren, aku minta maaf ya, karna tadi cara begurau aku terlalu berlebihan, sebenarnya aku cuma begurau aja Ren. Hinggalah sampai kau ngomelkan aku macam mamak aku jak” “Halah Rud, tak apa beh, santai magang jak. aku dak marah kok, akupun minta maaf ya udah ngomelin kau kaya tadi” “Dak apa juga Ren, dak ada yang salah dengan perkataan kau tadi. Memang semuanya benar. justru omongan kau tadi tu rasanya buat aku jadi agak mulai paham untuk apa aku ni hidup?” “iyalah Rud, hidupmu untuk makan jak kan? kan kata mamak kau, kau tu anak mamak kau yang paling cakep. Tapi cerdas dak?” ejek Rini lagi padaku. “iyelah, mang kau jak lah yang paling pintar. Aku senang siang ni Ren” “Senang ngapa?” “aku senang duduk di samping truk gandeng”. mendengar ucapanku itu, Kami jadi tertawa bersama di ruang tunggu itu. Suara kami berdua saja yang paling ribut. Rini,,, Rini kau memang teman terbaikku. Terima kasih sahabat, kritikan orang selama ini tak pernah kuhiraukan. tapi justru kritikan dibalik candaanmu itu yang mampu menggetarkan hatiku akan pentingnya mencari ilmu, tak hanya datang. duduk, diam jak dalam kelas tu. tapi datang, dengar, dan pintar. .................................................. “Tumben anak bapak yang cakep ni datang ke warung. Nak minta duit kah apa nak?” Ejek bapakku sampil mengelus-ngelus rambutku. “Bapak tau jak. Abang mang mau minta duit. Tapi untuk beli buku boleh kan pak? “Buku apa sayang?” mamakku pun ikut bertanya juga. “Buku tentang mata kuliah yang abang ambillah mak. Tapi kata Reni bukunya tu rata-rata adanya di Pontianak, dak ada di Sintang”. “Oh iyalah. Tar minta tolong kakak aja ya doy yang beli, kakak kan di sana pasti tau tempatnya. Tar mamak telfon kakak ya, tapi tunggu dah pulang bedagang ni”. Aku pun mengangguk tanda setuju. Aku jarang sekali datang ke warung orang tuaku ini, padahal dari warung inilah Tuhan memberikan rezeki kepada kedua orang tuaku untuk membiayai kami. Sambil makan siang aku memperhatikan kedua orang tuaku yang sedang melayani para pembeli. Terlihat keletihan diwajah mereka, dengan rambut yang telah di tumbuhin oleh uban-uban putih. keringat keletihan itu kadang bercucuran diwajah kedua orang tuaku. tetapi mereka tetap tersenyum di depan orang-orang yang belanja. Y Allah, sungguh aku telah membalas semua keringat kedua orang tuaku dengan kesia-siaan. Aku jarang sekali mengikuti kehendak mereka. Miris sekali aku melihat tingkahku selama ini. Aku berkata kalau aku sayang mamak dan bapakku, tapi rasa sayang itu tak pernah aku tampakkan. Mereka selalu mengiyakan keinginanku, terkecuali jika memang ibuku tidak ada uang, tapi balasanku apa????? Semakin ku mengingat-ingat kesalahanku rasanya semakin cepat aku ingin memperbaiki diriku. Ya, itulah janji yang ku tulis di dalam hatiku, dan akan aku buktikan dengan sikap dan tingkah lakuku. ........................................................... Meski teman-temanku memberikan aku predikat mahasiswa bandel, dan pemalas. tapi aku tak pernah meninggalkan sholat. Hanya saja biasanya habis sholat subuh aku langsung tidur, tapi pagi ini aku tak ingin mengikuti hawa nafsuku untuk tidur kembali. Aku ingin mengantar ibuku ke warung dan berbenah rumah. Melihatku bangun pagi, dan mengantar mamakku kepasar, tapi mamak kok gak ada komentar ya? Emmmm sudahlah. Sebelum ke kampus, mamak menyuruhku sarapan terlebih dahulu. Aku pun sarapan dengan penuh rasa semangat, dan segera ku bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Aku menghidupkan motor, dan ku panaskan sejenak motorku. Kali ini aku tak ingin telat ke kampus. Wah ternyata benar, aku tidak telat. justru aku menusia pertama yang hadir di kelasku. Emmm inilah akibat tidak ada jadwal mata kuliah, awal yang baik. Tak apalah, aku pun duduk di depan kelasku. Teman-temanku satu per satu pun hadir. Terlihat keanehan di wajah mereka, “Tumben,,,, tumben,,, tumben,,,” kata itu yang mereka lempar untukku. Aku hanya membalas dengan senyuman, kali ini aku tak ingin membalas omongan mereka, sudah terlalu sering aku membalas perkataan mereka. Suasana kelas begitu hangat, kulihat mereka saling bercerita, entah apa yang dicerita. aku mencoba ikut bergabung dan mereka menerimaku dengan baik. Teman di kelasku memang baik-baik, hanya aku saja yang terkadang jarang merespon mereka. Ternyata enak juga seperti ini saling bercanda dan tertawa riang. Lagi asyik-asyiknya bercerita, HP ku bergetar ternyata ada SMS dari mamakku. : Anak mamak yang paling cakep, yang rajin ya nak kuliahnya. Abang anak mamak yang paling pintar. Mamak selalu berdoa semoga Allah menjauhkan abang dari segala yang ingin mencelakai abang. Allah pasti kabulkan doa mamak kan bang? Hari ini mamak yakin abang bisa jauh lebih baik dari hari kemarin. Abang tu pintar, cuma abang belum sadar jak kalau abang tu pintar. Semoga abang nanti jadi pemilik ilmu ya nak ya, anak mamak yang bisa jadi orang sukses. Mamak tunggu abang wisuda nanti, insya Allah” Air mata ku mengalir membaca SMS itu. Aku menangis. AMIIIN mak. Semoga abang bisa jadi pemilik ilmu, gumanku dalam hati. ............................................................................................................................................. The End Keterangan arti: Celap = Dingin, Bayaham = Jangan, Dipedah agik = Dibilang lagi. { Bahasa Melayu Sintang}

Senin, 23 Januari 2012

Kisah Tikus dan Pengkhianatan Amanah

By : Akhiarden KPK


Suatu hari segerombolan tikus mengadakan rapat tahunan. Agenda rapatnya, ancaman eksistensi tikus dari predator berkumis (Kucing). Rapat itu berlangsung sangat menarik dan dipenuhi dengan nuansa kekeluargaan. Suguhan makanan berupa padi-padian yang baru dipetik dari sawah petani, buah mentimun segar hasil panenan tadi pagi dan beberapa makanan lezat lainnya menambah asyiknya rapat tahunan itu. Musik-musik cericitan dari bayi-bayi tikus yang dibawa oleh bapak ibunya mengikuti rapat semakin menambah serunya suasana rapat. Dengan keterbatasan dana menyewa baby sitter, bayi-bayi lucu yang masih merahpun mau gak mau harus dibawa. Lagipula ini rapat tahunan, tak satupun tikus yang mendapat jabatan mengurusi umat melewatkannya.

Jumat, 06 Januari 2012

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Jalan

By : Ariyanti Ammara
Seorang anak ditanya, kamu gak pulang?”
“Belum. Belum tau ni kapan sempatnya. Masih ada amanah yang belum diselesaikan.”
Jika kita renungi kalimat yang terlontar sebagai jawaban di atas, maka akan terasa bagaimaa rasa kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya. Ada lagi kalimat seorang anak, “Sebenarnya aku mau di sini saja (di kota, jauh dari orang tua). Cuma kasihan orang tuaku. Mereka hanya berdua di rumah. Saudara-saudaraku sedang liburan. Dan mereka menginginkan aku pulang..”


Sebuah kalimat yang sekilas terkesan sebagai anak yang berbakti. Namun bila dihayati lagi, pernyataan itu seperti sebuah pernyataan karena paksaan. Bukan karena rasa rindu dan cinta yang membuncah, namun lebih dikarenakan rasa kasihan dan tuntutan untuk berbuat baik dan menuruti kemauan orang tua.
Sangat kontras jika kita bandingkan dengan cinta kasih orang tua kepada anaknya. Sedari di dalam kandungan, orang tua senantiasa menantikan kehadiran buah hatinya untuk lahir ke dunia.

Setiap malam ia mengusap-usap perutnya dengan sayang. Di setiap habis sholatya tak luput ia mendoakan akan keselamatan, kesehatan dan kesholehan anak yang tengah bersemedi dalam rahimnya. Di setiap hela nafasnya, selalu terselip harapan-harapan yang besar untuk calon mujahid/mujahidahnya.
Setiap detik, menit, jam, hari dan bulan yang berlalu, semakin bertambah beban yang ia bawa. Kemanapun ia melangkah. Tidur, masak, makan, menyapu, mencuci, belanja, dan lain sebagainya. Tidak pernah sedetikpun ia meninggalkan kita. Ia tak pernah mengeluh, tak pernah merasa kelelahan. Andaipun rasa lelah dan letih itu ada, ia akan segera sirna dengan harapan yang senatiasa menyeruak dalam dada. Harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Saat kita memasuki usia sembilan bulan, semakin terasalah rasa berat yang ibu tanggung. Semakin sering perut terasa sakit. Dan saat-saat mendebarkan itupun semakin mendekat. Waktunya semakin dekat.
Perih yang terasa semakin menjadi. Sakit sekali. Saat itu ia mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan kita. Tak peduli lagi ia akan sakit yang didera. Saat itu semua otot terasa putus.

Namun, ketika terdengar tangis memecah suasana yang mencekam itu, segala sakit dan nyeri mendadak sirna. Hilang begitu saja berganti dengan kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Laksana pelangi yang muncul setelah badai.
Lalu sampai dua tahun lamanya, ibu menyusui kita. Menggendong kita kemana pun kita mau. Bahkan tak jarang, ketika kita sedang sakit, ibu menggendong kita semalaman. Berjaga semalaman demi menjaga kita. Matanya tak kan berhenti sedetikpun menjaga kita. Tak kan mungkin rela ia jika anaknya sakit, meskipun hanya disentuh oleh seekor nyamuk. Terlebih lagi saat kita harus menjalani sakit. Ibu iba-tiba terjaga dari tidurnya. Tergagap dan segera memeriksa keadaan kita. Menyentuh dengan lembut dahi kita, leher kita, merasakan apakah tubuh kita masih panas atau tidak. Kemudian perlahan mencium kening kita.

Memandangi kita untuk sekian detik lamanya. Mengusap-usap wajah kita dan menyenandung lirih doa-doa untuk kesembuhan dan kesehatan kita. Saat itu, perhatian Ibu tumplek blek pada kita. Lalu ibu beranjak sholat, dan di akhir sholatnya ia menengadahkan tangan dan lirih mengucapkan doa. Saat itu, puluhan bahkan mungkin ratusan doa menari dan berpilin naik ke angkasa .
Menginjak usia 4 tahun, ia mulai mengantarmu tiap pagi ke sekolah. Menungguimu di hari-hari pertama dan bertanya pada gurumu tentang perkembanganmu. Begitu sampai bertahun-tahun kemudian. Hingga sampai engkau menginjak bangku sekolah menengah pertama.

Saat itu kau mulai mengenal dunia luar. Menganggap dirimu sudah remaja. Menyukai lawan jenismu. Ketika itu engkau mulai menjauh dari ibumu. Begitu juga ketika engkau menginjak bangku SMA. Engkau mulai pulang malam dan ketika ibu bertanya darimana, engkau menjawabnya dengan “Ah, ibu mau tau saja urusan orang.”
Dan kini, engkau sudah berada di bangku kuliah. Pertama mengantarkanmu ke kota, ia menahan tangisnya agar tak jatuh ketika melepasmu. Di setiap malam ketika kau tak di rumah, ia tetap setia melantunkan doa-doanya tiap malam. Berharap akan keselamatanmu. Memohon akan tercapainya cita-citamu. Berharap pada-Nya agar mengabulkan segala pintamu dan mewujudkan segala cita-citamu.

“Ya Allah, jagalah anak-anakkku, wujudkanlah cita-citanya, ya Allah.”
Meskipun ibu tak tahu apa yang kita cita-citakan, namun ia senentiasa mendoakan kita. Bukan. Bukan karena ia tak peduli apa yang kita cita-citakan. Namun karena ia ingin melepaskan angan-anagn masa depan kita sesuai harapan dan mimpi kita sendiri. Harapan itu tidak akan pernah berhenti dalam doanya.

Ketika kita jauh dari ibu karena harus menyelesaikan studi, ia tak akan pernah mau untuk menganggu kosentrasi kuliah kita. Ia senantiasa paham bahwa apa yang kita lakukan di kota adalah suatu kebaikan. Karenanya ia tak akan pernah memaksa kita untuk pulang, serindu apapun ia pada kita. Ia selalu bisa menutupi perasaannya ketika kita mengatakan, ”ma’af ya, Bu. Aku belum bisa pulang.” Ia mengesampingkan perasaannya sendiri kala itu. Ia paham, benar-benar paham, bahwa kita sibuk. Sibuk dengan urusan kita. Sibuk dengan kuliah, sibuk dengan amanah. Tapi, bukankan berbakti pada orang tua adalah kewajiban??

Bahkan ketika liburan telah tiba, kita tak juga kunjung pulang. Ketika itu, ia sangat merindukamu. Sangat merindukamu. Bahkan ketika ia menelponmu, engkau katakan (lagi), “ma’af bu, aku belum bisa pulang lagi. Masih ada amanah yang harus diselesaikan.” Dan setelah itu, ia menutup telponnya dengan senyum getir. Lagi-lagi ia harus mengerti.

Sahabatku, saudaraku, orang tua kita pasti tidak akan pernah memaksa kita untuk pulang, untuk hanya sekedar makan bersama atau menonton TV bersama. Ia juga tidak akan pernah marah ketika kita katakan belum punya waktu untuk pulang. Tidak. Ia tidak aka pernah marah. Engkau tahu kenapa?? Karena ia selalu bisa mengerti. Karena ia selalu bisa mengerti.

Namun, pengertiannya yang begitu besar belum tentu bisa menutup rasa sedih dalam hatinya. Ia mengerti, namun bukan berarti ia tak sedih. Ia tersenyum melihat kita hidup bahagia, menggapai cita-cita, namun bukan berarti ia tak berharap dapat bersama lagi dengan kita. Bahkan, ia hanya mengharap sedikit saja perhatian dan kasih sayang kita untuknya. Untuk hanya sekedar melepaskan rindu dan mengenang kebersamaan dulu. Mengenang kebersamaan saat kecil dahulu. Ia akan sangat bahagia memandangi anaknya yang sudah semakin dewasa.

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,……..( Q.S Al An'aam: 151)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. (Q.S Al Israa': 23)

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabuut: 8)

Semoga kita bisa menyeimbangkan antara amanah dan orang tua kita. Amin.

Rabu, 21 Desember 2011

Bunda di Ufuk Timur

By : Kana Effendi KPK






“…… jangan pernah meratapi sesuatu yang memang telah jadi scenario-Nya. Jalani dan tapaki itu dengan hatimu yang tenang. Masih banyak jalan yang siap menantimu dan siap untuk kamu arungi. Jangan menyerah dengan hidup. Bersemangatlah menjalani hidup ini. Percayalah, ada sesuatu yang menunggumu diujung sana dan akan membawamu pada kebahagiaan. Berikan yang terbaik dalam hidup yang singkat ini……”
Malam itu, dingin dan kaku. Malam itu mencekam. Malam itu semuanya terjadi begitu cepat. Kegaduhan yang sunyi nan memilukan. Hanya tangis yang bicara. Keputusasaan berjalan cepat. Semangat luntur. Kaki-kaki tak tenang. Berjalan mondar-mandir. Malam yang nggak akan bisa aku lupakan……

^^^
Pagi yang cerah kembali datang. Mentari dengan malu-malu membayang dicelah awan-awan putih. Langit bersih tanpa mendung. Burung-burung kecil dibelakang rumah bercicit rendah, bersenda gurau dalam balutan hangatnya sinar mentari. Ranting-ranting dengan kokoh menopang tubuh kecil mereka. Bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, mengajak kupu-kupu untuk mulai menghisap madu manisnya. Ayam-ayam mematuk rumput di halaman. Entah apa yang membuat mereka terlihat asyik. Benar-benar pemandangan yang menghibur. Dan adalah kehidupan pagi dengan wajah cerianya. Ya… aku selalu terpesona dengan indahnya pagi.

Yak… cukup dengan lamunanku. Kewajibanku harus segera dilaksanakan.
“Pagi ayah, pagi Noli!”. Sapaku pada Ayah dan Noriko, adik semata wayangku. Kenapa dipanggil Noli? Karena Noriko belum fasih mengucapkan huruf “R” dan sepertinya lebih unik dipanggil Noli… hehe.

“Pagi Kak Lunna!” jawab Noli dengan roti ditangannya. Ayah hanya menganggukkan kepala, rongga mulutnya masih dipenuhi oleh makanan.

Aku mengambil kursi disamping Noli dan segera menikmati makanan. Sarapan pagi ini adalah “Nasi goreng telur mata sapi ala chef Lunna”. Dengan keterbatasan naluri koki yang kumiliki, aku ingin memberikan cita rasa yang terbaik untuk makanan yang aku masak. Khusus untuk Noli, setiap pagi dia sarapan roti dan susu kesukaannya, tapi ini semenjak aku yang mengambil alih pekerjaan dapur.

“Sudah selesai sarapannya?”. Tanya Ayah kemudian. Aku dan Noli mengangguk bersamaan. “OK. Kita berangkat sekarang!!”. ujar Ayah semangat beriring senyum. Ya… hampir disetiap pagi Ayah selalu menyemangati kami.

Aku bergegas ke kamar untuk mengambil tas punggung kesayanganku yang dengan setia menemani kemanapun aku pergi. Ketika semua sudah siap, aku keluar kamar dan nggak sengaja mataku menangkap potret gambar dalam pigura di ruang keluarga.
“Lunna! Lunna!” Ayah memegang bahuku.

“Ah… eh, iya Yah!”, bulir hangat menyembul dipelupuk mataku.
“Ayo kita berangkat. Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah.”
“Iya, Yah.” jawabku pelan. Andainya saja……

^^^
“Noli ingat pesan Bunda?” tanyaku.
Noli mengangguk. “Noli nggak boleh nakal dan halus lajin belajal.” Aku tersenyum mendengarnya. Jawaban polos dan menyentuh.

“Nah… Noli salam dulu sama Ayah,”
Noli meraih punggung tangan Ayah dan menciumnya. Ayah membelai rambut Noli dan mencium keningnya. Akupun melakukan hal yang sama pada Noli.
“Noli semangat ya… jangan lupa apa?” Tanya Ayah pada Noli.
“Beldo’a sebelum belajal. Hmmm… Noli ingat telus kok Yah, hehe…” Noli tertawa rendah dan sesaat memelukku. “Ayah, kak Lunna… Noli belajal dulu ya. Assalammu’alaikum,” ujarnya kemudian melambai dan tersenyum.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku bersamaan dengan Ayah.

“Kamu juga jangan larut dalam sedih. Tersenyumlah seperti Noli,”
Aku tersenyum hambar. Ya… Ayah benar, aku nggak boleh sedih.
Noli berlari-lari kecil. Terlihat ceria. Setelah bayangan Noli nggak terlihat lagi dan telah asyik bergabung dengan teman-temannya dalam canda “Taman Kanak-kanak”, Ayah mengantarkanku ke sekolah.
^^^
Ada bayangan disana. Berjilbab putih bersih ditimpa sinar terang dalam lorong gelap tempatku sekarang berjalan. Aku nggak tahu dimana. Tapi aku bisa merasakan rasa dingin dan hangat secara bersamaan. Aneh.

Aku menyipitkan mataku. Memastikan apa yang aku lihat itu adalah benar bayangan sesosok manusia. Aku semakin mendekat kearahnya yang membelakangiku. Dan entah kenapa nggak ada rasa takut dalam diriku, padahal aku ini takut dalam gelap. Aku pandangi terus sosok itu. Aku seperti mengenalnya. Dan aku merasa dekat. Dekat sekali. Aku terkesima, ketika sosok itu berbalik menghadapku. Wajahnya…
Dia…

Ada kerinduan dalam senyumnya. Seperti aku. Aku…
Aku sangat ingin memeluknya. Aku berlari untuk menggapai sosok itu. namun yang terjadi, jarak kami semakin jauh. Walau aku berlari, aku nggak bisa mendekatinya. Jauh… menjauh.
“Tunggu!!!”
“Tungguuuuu!!!”
Semakin jauh. Dan hilang…
Aku jatuh terduduk. Kenapa? Kenapa pergi?
Tolong, jangan pergi…

^^^
KLENTANG…
Terdengar bunyi sendok terjatuh. Mengejutkanku dari khayal mimpiku tadi malam. “Noli, kenapa sendoknya dibuang?” tanyaku halus dan memungut sendok yang dibuang oleh Noli.

“Noli nggak mau makan. Noli males mau makan.” Wajah Noli mengambek dan memeluk boneka panda kesayangannya. Ya… itu kebiasaannya kalau udah ngambek.
Aku mengambil sendok baru. “Noli jangan gitu dong. Noli harus makan. Biar tetap sehat. Makan, ya.” Bujukku semanis mungkin.

“Pokoknya Noli nggak mau makan.”
“Hmmm… atau Noli mau makan yang lain. Noli mau apa? Nanti Kak Lunna buatin.”
“Nggak! Noli nggak mau makan. Noli mau makan sama Bunda.”
“Noli… Noli anak pintar kan?! Makan ya, sayang…”
“NGGAK MAU!!!!” tangan kanan Noli meraih gelas plastik yang ada didepannya, kemudian menghamburkannya ke lantai.

Habis sudah kesabaranku. “NOLI!!! KAMU PIKIR KAK LUNNA NGGAK CAPEK NGURUSIN KAMU? CUMA DISURUH MAKAN AJA SUSAH. MAU KAMU APA SIH NOLI?!!” aku lepas kendali. Bisa kulihat dengan jelas wajah Noli yang ketakutan. Air matanya berlinang. Dan…
“KAK LUNNA JAHAT!!!!” Noli berlari ke kamar dengan isak tangis. Aku tertegun dengan ucapan Noli. Aku jahat?

Jujur, aku sama sekali nggak bermaksud membuat adik kecilku menangis dan meneriakinya seperti tadi. Aku benar-benar lepas kendali. Aku berlari mengejarnya. Tapi terlambat. Pintu kamar Ayah telah dikunci oleh Noli. Aku berulang kali mengetuk pintu kamar Ayah.

“Noli… maafin Kakak. Kak Lunna nggak bermaksud marahin Noli. Maafin Kak Lunna, Noli. Buka pintunya ya…” nggak ada jawaban. Hanya pecahan isak tangis Noli. Aku ingin sekali memeluknya. Ini salahku. Seharusnya nggak bersikap kasar seperti tadi.
“Noli, buka pintunya. Kakak mohon!!” tetap nggak ada jawaban.

Setengah jam aku duduk menunggu didepan pintu kamar Ayah. Noli masih tetap nggak bergeming. Ucapan… eh bukan, teriakanku tadi benar-benar telah menyakiti hati adik semata wayangku. Seharusnya kesedihan nggak membuatku menjadi kasar, sampai-sampai harus meneriaki adikku sendiri. Ternyata, aku belum dewasa dalam menghadapi masalah.

^^^
Aku memutuskan untuk menenangkan diri. Taman belakang menjadi pilihanku. Spontan mataku menatap jejeran bunga disudut pagar. Bunga-bunga mawar yang selalu terawat oleh penanamnya. Namun kali ini ada yang lain dari bunga mawar itu. Apa karena bukan penanamnya sendirilah yang merawatnya saat ini?

Walaupun begitu, bunga-bunga mawar itu mampu membuatku tersenyum. Satu hal yang masih kusuka, walaupun terlihat lain, bunga mawar itu masih mampu bermekaran dengan indah dan berseri. Seperti itukah hatimu saat ini Bunda?

Setelah merasa tenang, aku kembali masuk kedalam rumah. Aku mengamati seisi ruangan. Seperti tempat asing saja. Aku menyapukan tanganku pada vas bunga didekatku. Debu yang tebal dan abu kehitam-hitaman menempel dijari telunjukku. Aku tersenyum geli. Betapa selama satu bulan ini, aku membiarkan si debu berkeliaran bebas di rumah.

Sedetik kemudian aku teringat Noli. Aku mendatangi kamar Ayah. Aku pegang gagang pintu dan memutarnya. Masih terkunci.

Nggak terdengar lagi suara isak tangisnya. “Noli… Noli!!!” aku mencoba memanggil. Masih nggak ada jawaban. Apa Noli tertidur?
Dengan gontai aku melangkah ke kamarku. Aku benar-benar menyesal. Maafiin Kakak, Noli…

^^^
“Kak Lunna!” Samar-samar aku seperti mendengar suara Noli. “Kak Lunna!” kini giliran badanku digoyang-goyang oleh tangan mungilnya. Seperti mimpi. “Kak Lunna, bangun!!” Pintanya. “Noli mau minta maaf sama Kak Lunna.”
“Noli!!” Aku terkesiap dari tidur siangku dan spontan duduk.

“Kak Lunna, maafin Noli ya…”
“Sini, duduk dipangku Kakak.” Noli naik ke atas tempat tidur dan duduk dipangkuanku. “Iya deh, Kakak maafin Noli. Kak Lunna juga minta maaf ya, karena tadi udah marah-marah sama Noli.” Aku mencium pipinya yang gemuk.
“Noli… maafin Kak Lunna, OK.” Ia tertawa.
Aku memeluk erat Noli. Seperti nggak ingin lepas darinya. Ya... 13 tahun penantianku, akhirnya aku mendapatkan adik yang aammmaaaatt lucu. Seharusnya aku menjaganya dengan baik.
“Kak Lunna, Noli lindu sama bunda,”
“Hmmm?”
“Noli pengen lihat bunda,”
“Emmm… Noli sabar ya, besok kan kita pergi lihat Bunda. Ok!”
“Oki doki!” Noli menjawabnya dengan senang.
Aku mencoba ceria. Aku nggak ingin ngelihat Noli sedih lagi. Padahal, jauh didalam hatiku, aku lebih rapuh dari Noli.
Kruyuk… kruyuk…
“Kak… Noli lapal,” sontak aku tertawa.
Noli… Noli…

^^^
Waktu berjalan lambat tapi pasti. Malam berganti siang, siang kembali malam. Tiba-tiba hatiku mengharu. Detak jantung nggak menentu. Kerinduan berada pada batas puncaknya.

Noli yang berjalan, menggamit lima jariku, asyik bernyanyi, ceria tersenyum. Andai aku bisa seperti Noli. Aku menarik nafas panjang, melegakan pernapasan yang mencekat, melegakan suasana hati yang nggak karuan.

B 407. Kamar berukuran sedang, bercat putih bersih. Disanalah seseorang terbaring. Aku masuk perlahan seolah nggak ingin mengejutkan seseorang yang terbaring didalamnya. Semua sama. Sama seperti satu bulan, dan satu minggu lalu saat aku kesini. Yang terdengar adalah mesin detak jantung. Yang berjalan adalah cairan dalam selang infus itu.

“Nenek dan Bibi dimana, Yah?” tanyaku pada Ayah.
“Tadi Nenek dan Bibimu, Ayah suruh makan dulu.” Aku mengangguk. “Oh ya, Lunna. Kamu jaga Bunda ya… Ayah mau shalat Dhuhur dulu.”
“Iya, Yah.”
“Noli nggak boleh ribut. Jaga bunda baik-baik, ya…” pesan Ayah.
“He-em,”

Sepeninggal Ayah, aku mengambil kursi tak jauh tempatku berdiri dan meletakkannya tepat disamping kanan ranjang Bunda. Noli aku dudukan ditepian ranjang. Aku duduk, menghadap tubuh Bunda yang semakin menyusut. Wajahnya terlihat semakin tirus. Garis hitam dibawah matanya semakin melebar. Namun bagiku, itu sama sekali nggak mengurangi kecantikan Bunda sedikitpun.

“Bunda, hali ini Kak Lunna ulang tahun, loh…” Ujar Noli membuatku kaget. “Bunda nggak mau ngucapin selamat ulang tahun sama Kak Lunna? Noli kaangeeen… sama Bunda.” Kemudian Noli mengecup kening Bunda.

Ya… hari ini aku ulang tahun. Dan hari ini terjadi dua momen hari sekaligus, hari bahagia dan sedihku. Tadi sehabis shalat subuh, Ayah dan Noli berdiri didepan pintu kamarku untuk mengucapkan “selamat ulang tahun”. Kejutan sederhana penuh arti. Ayah menghadiahkanku kerudung putih yang saat ini kupakai. Sedangkan Noli memberiku bros lucu yang sekarang aku pakai juga. Namun, hadiah terbesarku yang sebenarnya adalah Ayah dan Bunda yang penyayang serta adik kecilku yang lucu. Mereka nggak akan tergantikan oleh hadiah mahal apapun.

“Bunda, ayo bangun!” bisik Noli pelan ditelinga Bunda.
Seketika ruangan itu sepi dari suara. Hanya terdengar suara detik jam dinding disudut kiri atas. Baik aku dan Noli, sama-sama diam terpaku…
Tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik…
Benarkah yang kulihat? Bunda membuka matanya. Oh, Ya Allah Bunda membuka matanya. Aku ternganga, terpana.

“Bunda!!” panggilku dan Noli bersamaan. Perlahan mata Bunda terkatup lagi. “Bunda!!”
Noli tersenyum senang. Aku juga nggak boleh nangis. Aku harus tegar. Mata Bunda yang terbuka untuk waktu 10 detik, aku artikan sebagai bahasanya mengucapkan selamat hari memabahagiakan untukku. Ulang tahun putrinya yang ke 6570 hari. Terimakasih Bunda…
^^^
Minggu pagi yang cerah. Aku masih teringat dengan peristiwa kemarin. Ayah yang aku ceritakan tentang peristiwa itu, berkali-kali mengucap syukur. Begitu mengesankan. Baru hari itu Bunda membukakan matanya, walau hanya sebentar.
Aku yang mengingat hal itu, nggak bisa tertidur lama. Disudut sana, Ayah dan Noli pulas tertidur diatas sofa. Mereka kelelahan. Aku menulisan sebait puisi untuk Bunda.

Syair Indah Untuk Bunda
Pernahkah kau melihat senyum termanis?
Itu adalah senyuman Bunda,
Pernahkah kau mendengar teriakan merdu?
Itu adalah Bunda ketika marah,
Bunda… kan kunanti saat-saat itu lagi…

Bunda, kaulah ufuk timur kami. Engkau selalu berdiri di ufuk timur untuk membangunkan dan mengingatkan kami. Cahaya yang dahulu muncul, bagiku adalah cahaya seorang Bunda. Sinar ufuk timur membawa harapan dan kehidupan baru, seperti itulah Bunda. Kau memberikan kehidupan baru dalam harapan kami. Kaulah sinar ufuk yang sesungguhnya.

Aku melihat wajah Bunda yang tirus itu. terlihat senyum berserinya walau samar. Ya Allah, tolong bangunkan Bunda dari tidur panjangnya dengan sinar cahaya-Mu. Ketika Bunda terbangun nanti, tak ada kata terucap selain kebahagiaan.
Bunda… Lunna tahu, Bunda selalu menyayangi kami. Lunna tahu, penyakit yang tengah menderamu, nggak menghalangi semangat Bunda untuk berjuang dan melawan penyakit itu. Lunna tahu, dalam diam pun hati Bunda nggak putus-putusnya melantunkan do’a, mengharapkan yang terbaik untuk kami. Begitupun juga kami. Bunda, berjuanglah. Kami menantimu. Cepatlah sembuh.
Bunda… we love you… (Ayah, Lunna, Noli).

T A M A T

Senin, 14 November 2011

Lebah Hutan

By : Uswatun Hasanah KPK
***
Pagi itu Mentari mengintip malu-malu, mengiringi nyanyian daun-daun yang melambai-lambai ditiup angin. Para petani, hilir mudik menuju ladangnya masing-masing menggunakan kendaraan khasnya “gerobak sapi”. Begitulah suasana desa tempat Ia dilahirkan dan dibesarkan. Daerah pegunungan bumi Sebalo yang jauh dari keramaian dan nuansa keangkuhan kota. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, termasuk orang tuanya. Gurunya menyebut daerah mereka sebagai surganya bumi sebalo, karena hampir semua tanaman perkebunan bisa tumbuh disana.
Disanalah Ia dilahirkan. Upsss… sorry tadi udah disebut di atas. He..
Ia telah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Kalau tidak ingin terlambat, sebelum pukul 06.30 ia harus sudah turun dari rumah. Rumah papan disamping balai desa itulah rumahnya. Rumah sekaligus istana bagi mereka sekeluarga. Di sana mereka tinggal ber-Empat. mas Adi setelah tamat SMA merantau ke kota, ngak mau jadi petani katanya. Nunggu bisa beli truk sendiri baru mau bertani. So.. tinggallah mamak, bapak, Ia dan adiknya si bunggsu.
“Ani.. ayo berangkat..” sapa windi dari jalan.
“Pak, mak.. Ani berangkat dulu..Assalamu’alaykum..”
Ia cium tangan kedua orang tuanya, dan secepat kilat ia sambar sepeda mini kesayangannya. Ia kayuh sepedanya mengikuti rombongan teman-teman yang baru lewat di depan rumah.
***
Teng… teng… teng…
Lonceng berbunyi nyaring, seolah-olah berbicara menggantikan bapak ibu guru untuk menyuruh murid-murid berkumpul di halaman sekolah. Lonceng tua yang di gantung di depan kantor itu, ketika di pukul akan menghasilkan tumbukan hebat, dan serta merta keluarlah gelombang bunyi dengan frekuensi tinggi yang bisa memekakkan telinga orang yang ada di dekatnya.
Ani dan kawan-kawannya baru memasuki gerbang sekolah ketika dentuman lonceng itu berbunyi.
“Ayo-ayo cepat.. udah kumpul tu..” Kata windi, kepada teman-temannya.
“ Nyantai teman.. ngak kena hukum bah..” Sahut temannya yang lain.
Mereka segera menaruhkan sepedanya digarasi, dan langsung berlari memasuki kerumunan murid-murid yang berkumpul di halaman sekolah. Biasa.. satu bulan sekali, tiap hari sabtu ada kerja bakti, jadi ngak belajar. Maklumlah.. sekolah di desa. kalau dibiarin lama-lama rumputnya bisa setinggi lutut.
Setiap sabtu pagi, mereka juga mengadakan senam bersama. SKJ 1997, membangkitkan semangat juang untuk menjaga kesehatan. He.. he.. itung-itung, sekalian buat pemanasan sebelum terjun kelapangan untuk membasmi rumput-rumput liar yang ada di halaman sekolah mereka. dan setengah jam kemudian, senam selesai… barisanpun dirapikan kembali.
“Anak-anak.. hari ini kita bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah kita. bapak harap tidak ada yang duduk-duduk nyantai dan main-main. Cepat selesai dan cepat bersih, setelah itu.. kita pulang.” Pak Tri, wakil kepala sekolah mengambil alih komando. Yap.. pak Tri salah satu guru yang disegani di sekolah mereka. Badannya tinggi, besar dan berwibawa. Anak-anak SMP itu, tidak ada yang berani melanggar apa yang di perintahkannya. Coba aja kalau ketauan ada yang bertingkah, walaupun nampak dari jauh, pasti langsung dihampirinya dengan membawa kayu kecil di tangannya.
***
“ Ndi.. mau kemana..?” tanyanya kepada windi.
“ Kekantin yok.. mau ikut..?” Sahut Windi.
“Ndak ah.. malas, aku nitip es ya..”
“ok..”
Ani dan beberapa temen cewek yang lain lebih suka bermain dan bercerita di kelas, atau sekedar menggambar indahnya panorama alam di papan tulis. Tapi keseringannya sih menggambar benang kusut. Atau kadang-kadang meniru gaya guru-guru menjelaskan pelajaran. Sedangkan anak-anak cowoknya, ah.. entahlah. Pada berhamburan ndak karuan. Ada yang lagi kejar-kejaran main bola di lapangan belakang sekolah, ada juga yang sedang memanjat pohon asam di dekat lapangan.
Ani menerawang menembus jendela kelasnya. Lapangan sepak bola yang letaknya tepat di belakang kelas 1 itu, dengan jelas dilihatnya. Temen-temannya yang cowok bermain sepak bola seperti ayam rebutan makanan. “apalah.. sukanya bermain sepak bola tu.. dahlah panas, capek..” Kata Ani pada temen-tmennya. Yang kemudian diiyakan sama beberapa temennya yang lain. Emanglah.. anak cewek kan ngak suka main sepak bola.
***
Teng.. teng.. teng…
Loncengpun kembali berbunyi. dan sekarang tidak perlu menunggu aba-aba lagi. Tanpa penghormatan, Bubar Jalan!! Belum disuruh bubarpun, semuanya sudah berhamburan seperti anak ayam. Saatnya mereka pulang.
Ani dan temen-temannya keluar dari kelas dan berjalan ke garasi samping sekolah. Jarak kelasnya lumayan agak jauh dari garasi sepeda.
“ Ayo cepat teman-teman..” Teriak Anton pada teman-temannya yang cowok dari kejauhan.
Ani ngak tau apa yang sedang mereka lakukan. Pas nyampai di depan perpustakaan sesaat kemudian terdengar teriakan.
“Lari………..!!” Seperti satu komando, temen-temannya segera berlarian semua.
Ani ngak tau apa yang terjadi, karena posisinya paling belakang. Dan kemudian,
“Aduh…” setengah teriak ani menahan sakit, seperti ada sesuatu yang menghantam kepalanya.
“Ani ndak apa2..” Tanya Windi
“Ndak.. ndak papa kok.. yok cepat pulang yok…” Muka Ani memerah menahan rasa marah, sakit dan air mata. Namun tidak di nampakkannya kepada teman-temannya.
Sepanjang jalan ia tak banyak bicara, di kayuhnya sepedanya cepat-cepat. Jarak rumahnya ke sekolah bukannya dekat, butuh waktu 30 menit untuk bersepeda. Untung aja waktu pulang jalannya banyak turunannya ketimbang tanjakan. Beda ketika waktu ia berangkat sekolah, perlu 3 kali turun dari sepeda ketika naik tanjakan yang tinggi, ya iyalah.. jalan di desa. gi mana enggak coba.. jalannya naik turun, terus aspalnya sudah berlobang-lobang dan batunya betebaran di sepanjang jalan. kalau ngak hati-hati, wah gawat.. bisa jatuh berkali-kali. Kalau jadi kodok sih tinggal lompat. Tapi kalau jatuh terus ketimpa sepeda.
“Kenapa harus aku.. coba mereka aja.. dasar anak cowok suka usil!” gerutunya dalam hati. Ia belum habis pikir ketika Anton sama teman-temannya merencanakan agenda perusakan rumah itu. “Bukankah mereka tidak mengganggu, kenapa harus di ganggu, dan sekarang kenapa aku yang harus kena getahnya..” Rasanya ingin sekali ia marah. Kalau ia bisa, di marahnya habis-habisan anton sama teman-temannyanya itu. Tapi, ia paling tidak suka berhubungan dengan makhluk yang namanya cowok.
***
“Assalamu’alaykum..”
“wa’alaykumsalam..” jawab anti (adeknya) dari dalam rumah.
Ani kemudian masuk dan langsung ke belakang. Ia cuci tangan, kaki dan muka. Kepalanya masih terasa sangat sakit. Mamak sama bapaknya belum pulang dari ladang, karena baru pukul 10.20. Setiap kerja bakti, sekolah biasanya memulangkan murid-muridnya lebih awal.
“ ndok… ambilkan mba’ minyak atau balsam..” mintanya pada adeknya.
“oleskan di kepala Mb’ ya… sakit…” Air matanya udah mau keluar menahan rasa sakit, untung aja ngak sampai matanya ikut-ikutan bengkak. Cuman kepalanya yang belakang ada dua benjolan, ya.. tidak terlalu besar lah, tapi kalau di sentuh pakai tangan, terasa benjolannya dan rasa sakit nya yang pasti.
“ Kena apa mba’..”
“ Di sengat lebah..” Jawabnya singkat.
“Kok bias sih ngak ketauan kalau ada lebah..”
“Iya.. tau.. tapi mba’ ngak sempat lari tadi… temen-temen mba’ sih.. usil, udah tau rumah lebah tu besar, masih di jolok2 pakai galah.. kalau joloknya ngak ada orang sih urusan dia.. tapi ini.. orang lagi pada lewat..” Hatinya belum bisa menerima, rasanya masih kesal sama anton dan temen-temannya yang menggagu rumah lebah tadi.
“mba’ kesal.. ma mereka, Bukan hanya karena mba’ yang jadi korbannya, tapi lebih karena sifat mereka yang jahil dan suka usil yang membuat mba’ lebih geram. Ngak mikir apa kalau perbuatannya itu juga akan merugikan orang lain.” Ia nyerocos mengungkapkan kekesalannya.
“ Ya udah lah mab’.. mau gi mana lagi coba.. nanti juga mereka bakalan nerima akibat perbuatannya sendiri..” hibur adeknya.
“Mba’.. tadi adek ada dapat cerita dari guru agama di sekolah.. mau dengar nggak..?“
“Ngak mau.” Jawabnya singkat dengan muka yang masih agak cemberut.
“Mba’.. dengarkan, pokoknya harus dengarkan..” Sambil digoncang-goncangnya tubuh Ani.
“Iya.. iya.. mba’ dengarkan.. ceritalah..” Ani mengiyakan adeknya, dari pada badannya sakit semua. Adeknya memang seperti itu, kalau punya kemauan harus dituruti.
“Mba’.. tadi Pak guru menceritakan tentang sifat terpuji.” Adeknya memulai cerita.
“ Pak guru mencontohkan tentang lebah.. kata pak guru, lebah itu tidak suka usil… tidak suka mengganggu kalau tidak ada yang menyakiti.. terus katanya lagi, Lebah itu sukanya hanya makan sari-sari bunga yang baik. dan menghasilkan madu yang baik yang sangat bermanfaat bagi manusia..”
Ani hanya diam mendengarkan adeknya bercerita.. “ terus apa lagi..” katanya.
“ makanya kata pak guru, kita harus mencontoh lebah.. tidak boleh suka mengganggu, terus kita juga harus berbuat baik kepada semua orang.. sama orang tua, kakak, adek, teman-teman.. sama semuanyalah.. termasuk sama tumbuhan dan binatang.. gitu..”
“Iyalah tu.. sip.. sip..” Ani menambahkan.
“jadi.. yang mba’ kena sengat lebah tadi tu.. ada hikmahnya juga.. he..”
“ O.. gitu ya.. hmm.. iyalah bu guru…” Ani mengacau adiknya.
“he..he..” sang adik mengekeh kecil memecahkan suasana.
Adek manjanya yang manis, selalu bisa membuatnya tersenyum. Tidak ada satu haripun yang terlewatkan tanpa cerita-ceritanya. Canda tawa merekalah yang selalu menghiasi istana kecil mereka di pegunungan pinggiran bumi Sebalo.





Jilbabku,Kau tak Akan Kuikat Lagi

By : Uswatun Hasanah KPK
***
Langit kapuas yang memancarkan cahaya jingga menyambutnya dengan senyuman hangat. Sejenak ia tertegun mendengar sayup-sayup semilir angin yang berbisik “ selamat datang teman”. Daun-daunpun segera melambaikan tangan menyambutnya dengan penuh keriangan. ia merasa sangat.. bahagia, bisa kembali ke tempat ini. Memasuki pintu gerbang universitas tertua yang ada di bumi Khatulistiwa. ini adalah kali ke dua ia memasuki pintu gerbang itu, dan sekarang ia telah resmi menjadi salah satu penghuni di dalamnya.
“
Na.. kita udah nyampai.. ini kos kita.” kata kak Lia membuyarkan lamunannya.
“ he.. iya.. kosnya nggak terlalu jauh ya kak dari kampus..”
“ iya.. nggak jauh kok.. jadi ntar bisa jalan kaki..”

Nana segera mengikuti kak Lia menuju kamar mereka. Nana memang sebelumnya tidak pernah melihat atau mencari kos untuk ia tinggal. Untung ada kak Lia yang baik hati yang menawarkan tempat untuknya. Walaupun mereka baru kenal, kak Lia telah menjadi sosok seorang kakak baginya. Kak Lia orangnya sangat supel, jadi bisa mengimbangi sifat Nana yang masih canggung dan cenderung agak pendiam. Mungkin disebabkan Nana masih baru disana.
***
Pagi ini ia kebingungan.. setiap mahasiswa baru diwajibkan berkumpul di kampus. Ia belum tau jalan ke kampus lewat mana. Belum lagi ia tidak punya baju, bajunya masih di paketkan di taksi, karena kemaren ia berngkat pakai motor sama kak Lia. Kak Lia sepertinya tau apa yang ia bingungkan..

“ Na.. ntar kalau ke kampus, sama kak dhe dan angah aja.. satu kampuskan... nanti insyaAllah paketannya kakak ambil, hari ni pakai baju kakak dulu ya..”

“hmm.. iya kak.. makasih kak ye..”

Ia telah bersiap-siap pergi ke kampus.. memakai baju kak Lia… sepertinya ada yang agak aneh.. bawahan baju kak Lia rok.. semua, nggak ada yang celana. dalam hati ia berkata, “kok rok semua.. celana panjangnya mana?? Kan lebih enak kalau pakai celana.”

Iapun berangkat bersama-sama kak dhe dan angah, teman barunya yang ia kenal tadi malam. Kak dhe dan angah sama seperti Nana, mahasiswa baru di kampus orange. Mereka jalan kaki sama-sama, dan sepanjang jalan itu, mereka saling bertanya dan bercerita. Nana agak penasaran dengan teman barunya. Sosok dua orang temannya yang baru di kenal ini emang agak aneh.. dengan jilbab yang melambai-lambai dan rok lebarnya.

“ kak dhe sama angah satu sekolah ya.. dari pesantren mana??” tanyanya kemudian.
“ Iya.. satu sekolah.. Kak dhe ma angah bukan dari pesantren.. tapi dari SMA.. ada apa Na..?? ada yang anehya..?? jawab kak dhe. Sepertinya ia tau apa yang dipikirkan Nana.

“Oh.. dari SMA. Nggak kok.. kirain tadi dari pesantren.. berarti Nana salah dong.. hmm.. jadi malu.. he..” jawabnya sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
Tadinya ia beranggapan temannya itu dari pesantren.. karena selama ia sekolah, belum pernah ia menemukan yang pakaiannnya seperti ini. Bahkan di sekolahnya sekalipun.. yang notabenenya sekolah Islam, karena Nana lulusan dari Madrasah Aliyah. Pada saat itu Nana benar-benar malu dengan teman barunya.. “ masa aku yang dari MAN masih seperti ini sih..” pikirnya dalam hati.

***
“Na.. mau kemana?? Tanya kak Lia.
“Nana mau ke warung kak.. kakak mau nitip ke??”
“O.. ke warung.. belikan sabun ya..” kata kak Lia kemudian. “Pakailah kaos kakinya..”

“ emang ngapa kak..” jawab Nana polos.
“hmm.. Kakikan aurat..” kata kak Lia..
“ iya ya kak.. jadi harus pakai kaos kaki lah ya..”
Ia bertanya pertanyaan yang tidak perlu di jawab. Dalam hati ia agak keberatan, “masa mau keluar ke warung sebentar harus pakai kaos kaki sih.. ”. Tapi kata-kata kak Lia tidak dapat ia tolak. kemudian iapun memakai kaos kakinya, sebuah kebiasaan yang sangat aneh baginya.

Nana tipe orang yang pengikut.. ia tidak suka membantah. Namun bukan berarti ia suka ikut-ikutan.. ia tetap punya prinsip dalam hidupnya. Ketika apa yang disampaikan itu baik dan benar, maka ia tidak punya alasan sedikitpun untuk menolak. “lihatlah apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan”. Sama seperti apa yang yang dikatakan oleh kak Lia hari ini. Ia tau benar tentang hal itu. Bahkan tiga tahun selama ia di Madrasah Aliyah, cukup baginya untuk memahami tentang batasan-batasan aurat laki-laki maupun wanita. Ia masih teringat ketika guru fiqihnya menjelaskan tentang masalah aurat, “ laki-laki itu, auratnya dari pusat sampai ke lutut. Kalu wanita auratnya seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, jadi semuanya harus tertutup, tidak boleh transparan dan menampakkan lekuk tubuhnya.” Ia tidak bisa melupakan begitu saja ilmu yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah.

Pikirannya galau. Ia masih memikirkan dua kejadian yang dialaminya hari ini, hari pertama ia menghabiskan seluruh waktunya di bumi Khatulistiwa.
Ada perdebatan hebat antara nafsu dan nuraninya, nafsu yang sulit untuk di kekang dan cenderung menyeretnya ke lembah kehinaan. Namun hati nuraninya yang disinari cahaya iman, tidak akan pernah sedikitpun berbohong. “kenapa aku tidak pernah memikirkan ilmu-ilmu agama yang aku pelajari di madrasah.

Jadi.. Untuk apa ilmu yang aku pelajari.. tapi ternyata selama ini masih banyak yang belum aku aplikasikan..” Ia teringat akan nasehat gurunya, “ilmu itu ibarat sebuah pohon, ia akan berguna ketika di amalkan, pohon itu akan bermanfaat ketika berbuah. Ilmu yang tidak di amalkan ibarat pohon tanpa buah yang akhirnya akan mati”. Sungguh.. hari ini, menjadi hari yang penuh perenungan bagi nya.

***

Waktupun terus berlalu, Ia mulai belajar membiasakan diri menutup aurat dengan sempurna. Ia bersyukur Allah menyadarkannya lebih cepat .
hampir satu semester ia kuliah. Pada liburan semester ini ia wajib mengikuti PPM yang di laksanakan oleh Himanya.

Hari ini ia berencana membayar uang PPM, kepada bendahara PPM. Ia masuk ke ruang kelas sebelah. Dilihatnya masih ada bebarapa kakak senior di sana.
Tiba-tiba ada seorang kakak menghampirinya..
“ Dek… coba jilbabnya ndak usah di ikat.. ikatannya di lepas aja.. nah kayak gini.. kan bagus.. lebih anggun..” kata kak Nuri sambil melepaskan ikatan jilbab Nana yang masih terikat rapi di depan dada.

Seorang kakak yang sangat ia kenal dan ia segani. Ia tidak sadar bahwa selama ini kakak itu selalu memperhatikannya. Dan ia juga tidak sadar ternyata selama ini, gaya jilbabnya masih sama seperti saat ia masih di Madrasah Aliyah, diikat pas di depan dada. Itu tandanya ia belum berjilbab dengan sempurna, karena jilbabnya belum ia ulurkan menutupi dada.

Ia merasa malu. malu.. sekali.. Teguran lembut kak Nuri ibarat angin puting beliung yang tiba-tiba menghempaskannya.. menyeret dan menyadarkannya. Kak Nuri tidak banyak berkata, ia langsung menunjukkan dengan perbuatannya.
Sejak saat itu ia tidak pernah lagi mengikat jilbabnya. Bisikan-bisikan “Angin Hidayah” mulai merasuki relung-relung hatinya. Dalam diam ia berdo’a, “ Ya Allah.. Jadikanlah aku muslimah seutuhnya.. yang tetap istiqomah untuk melaksanakan perintahmu.”

“jilbabku!! sekarang aku tidak akan pernah mengikatmu lagi. Aku bebaskan engkau menjuntai menutupi tubuhku..”

Dan katakanlah kepada pada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan jangnlah menampakkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya (Q.S An-Nur : 31)

Minggu, 13 November 2011

Gara-gara Flasdisk

by: Rafa Alqinansa


Aku tak ingin semua berlalu begitu saja. Aku ingin di setiap detik aku hidup bisa menjadi sejarah indah yang bisa kukenang seumur hidup. Dan akan kuceritakan itu pada anak cucuku di masa tuaku. Masih banyak target-target hidup yang belum ku jalankan, walupun sudah terencana dalam benakku. Aku ikut banyak organisasi untuk pendewasaan diriku dan aku usahakan untuk aktif di lima organisasi yang telah aku ikuti.
Hari-hari ku lalui dengan kesibukan. Bahkan, aku sering pulang larut malam karena kegiatanku. Aku merasa tak enak hati dengan orangtuaku. Hanya di pagi hari saja aku bisa membantu membersihkan rumah. Setelah itu, aku pergi dan kembali bergelut dengan organisasi-organisasi. Yah, begitulah aku yang sekarang. Walau kadang aku kecewa dengan diri sendiri, karena belum bisa membuat kedua orangtuaku bangga.
^_^

Saat itu aku sangat lelah. Aku baru saja pulang mengajar les privat. Tapi aku harus kembali mengerjakan laporan kegiatan yang belum rampung kukerjakan dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Aku segera mengobok-obok tasku untuk mengambil flashdisk yang berisi data-data penting. Dari mulai urusan kuliah, urusan organisasi, hingga urusan pribadi yang tak boleh diketahui orang lain. Tapi, aku tak menemukan keberadaan flashdisk-ku. Padahal di hari itu, aku tak meminjamkan pada siapapun flashdisk itu.

“Ma…ada liat flashdisk Ribka nggak?”, tanyaku pada Mama yang sedang membuat kue.
“Loh, mama nggak tahu..Ribka kan nggak pernah naruh flashdisk sembarangan..”, jawab Mama enteng sambil mengadon kue.
“Yah..jadi kemana dong?”
“Mungkin jatuh di kampus…”

Hmm..mungkin yang dikatakan Mama benar. Lalu, aku menghubungi teman-teman yang bersamaku dikampus hari ini. Tapi, tak ada satupun yang tahu perihal flashdisk-ku. Kali ini aku menghubungi orang yang tak bersamaku di hari ini. Tapi entah kenapa, pikiranku tertuju pada Mas Rangga, abang kelasku saat SMA yang sudah lama akrab denganku. Ia keturunan Jawa tulen, oleh karena itu aku memanggilnya dengan sebutan “Mas”. Orang yang berlainan dengan kampusku, dan aku tidak bertemu dengannya hari ini. Tapi, aku bertemu dengannya kemarin. Lalu, aku memutuskan untuk meneleponnya.

“Halo, Assalamu’alaikum..”, sapaku membuka pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam. Ada apa nih, Rib? Tumben nelpon? Kangen yah? Atau kamu…”, sahutnya tanpa memberiku kesempatan berbicara.

“Ntar dulu! Ribka belom ngomong udah nyerocos aja nih!”, kataku ketus.
“Iya, iya, maaf…trus ada apa?”
“Hmm…liat flashdisk Ribka nggak?”

“Loh, jauh banget nanyain flashdisk sampai ke Mas? Ribka mikir Mas yang ngambil flashdisk-nya ya?”, kata Mas Rangga dengan nada curiga.
“Bukan gitu maksudnya, Ribka kan cuma nanya. Kali aja bener Mas yang megang flashdisk Ribka sekarang”, kataku.

“Oh, gitu..selamat ya!”, suaranya bernada mengejek.
“Selamat buat apaan? Orang lagi mumet juga!”, geramku.
“Selamat mencari flashdisk! hahaha..”katanya sambil tertawa.
“Tapi…”,
Tut, tut, tut, tut…

Tiba-tiba Mas Rangga menutup telepon. Padahal aku masih ingin bertanya-tanya.

Duh…siapa sih yang resek bawa flashdisk ku? Untung saja, data-data kuliah dan organisasi sudah aku salin ke Chiba, laptopku. Tapi di flashdisk itu, ada data yang benar-benar aku perlukan. Ada cerpen yang telah ku buat untuk kukirimkan ke koran. Dan cerpen itu adalah tiketku agar bebas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah yang berkaitan dengan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sudah kebiasaanku, setiap menulis cerpen hanya ku simpan di flashdisk. Tapi, sekarang aku kehilangan cerpen itu saat aku benar-benar membutuhkannya. Aku hanya bisa cemberut.
^_^

Tiga hari berselang…
Aku masih belum menemukan Klik, flashdisk-ku tersayang. Yang nggak cerewet dan selalu bebas virus-virus berat yang membahayakan PC orang lain. Tapi, terkadang mengandung virus-virus ringan yang sangat banyak. Yah, begitulah Klik. Hehehe…

Malamnya, Mas Rangga bertandang kerumahku untuk menitip pamflet acara di kampusnya. Seperti biasa, ia enggan masuk kedalam rumahku. Aku kembali menanyakan flashdisk-ku.
“Beneran nggak ada ngeliat flashdisk Ribka?”
“Emang isinya apaan sih?”
“Isinya itu, ada cerpen yang udah selesai dan mau Ribka kirim ke koran. Supaya bebas UAS. Hehehe…”
“Oooh...kasihan, mau ngirim cerpen supaya bebas UAS, malah flashdisknya nggak ada”, ejeknya.
“Ih, udah ah! Bukannya bantu nyariin, malah bantu ngeledekin Ribka mulu nih!”, kataku ketus.
“Ya udah…kalo gitu gini aja…Abang pulang dulu ya…Assalamu’alaikum”, dengan segera Mas Rangga menstarter motornya dan berlalu dari pandanganku. Dasar menyebalkan!
“Wa’alaikumsalam”, jawabku lirih.
^_^

Keesokan paginya, aku bergegas ke kampus. Aku bangun kesiangan karena membuat cerpen hingga larut malam. Tapi, cerpennya masih belum selesai. Aku ketiduran di depan Chiba. Tapi, nasib baik masih berpihak padaku. Dosen menyeramkan itu belum masuk ke kelas. Setidaknya, ada sedikit waktu untukku menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. Betapa leganya aku…
“Teman-teman, hari ini Pak Theo nggak masuk karena ada urusan di luar kota. Aku baru aja dapet SMS nya nih…”, kata Bobi, ketua tingkat kami sambil menunjukkan ponselnya.

Fiuh…aku lega sekali mendengarnya. Jadi, aku masih bisa melanjutkan membuat cerpen. Cerpen ku berjudul Perginya Sang Adinda, yang mengisahkan kasih sayang kakak kepada adiknya yang cacat fisik dan memiliki komplikasi berbagai penyakit dalam. Cerpenku ini penuh dengan keharuan dan perjuangan. Rencananya akan ku kirim besok saja, kalau hari ini aku bisa merampungkannya. Dan aku harap bisa diterima di koran. Semoga.
^_^

1 bulan kemudian…
Klik-ku belum juga ditemukan. Aku bingung dan resah. Apa sih untungnya ngambil flashdisk yang harganya nggak seberapa, dengan kapasitas Cuma 1 GB? Kalo ketemu dengan orang yang ngambil, bakal aku tabok! Bila perlu akan ku jadikan tukang ojekku antar jemput kuliah selama masa hilangnya flashdisk itu. Lumayan, ngirit bensin. Hehehe…

Hari ini hari Minggu. Papa ku biasa membeli koran hari Minggu. Aku selalu menunggu beliau membeli koran di hari Minggu. Dan berharap cerpenku dimuat tentunya.
Benar saja, aku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Cerpenku dimuat! Tertulis nama lengkapku dan nama kampusku. Aku bersorak dalam hati dan juga bersorak sorai dengan suara. Sehingga rumah ribut karena teriakan girangku. Dan adik-adikku mengomel karena keributanku.

“Alhamdulillah, ya Allah..cerpenku diterima. Itu artinya Ribka bebas UAS! Ma…Pa… Ribka nggak ikut UAS dan langsung dapat nilai sempurna. Ribka senang banget!”, ceritaku pada orang tuaku yang sedang bercengkrama sambil loncat-loncat kegirangan.

“Haduh…lihat deh, Pa. Begini nih kalo lagi senang berlebihan. Hati-hati nak, nanti perutnya sakit gara-gara kebanyakan loncat-loncat”, kata Mama mengingatkan.
“Masa sih bisa di muat? Coba sini Papa lihat”, kata Papa ku seraya mengambil koran yang sudah nggak karuan bentuknya. Lalu, Mama juga ikut melihatnya. Mereka tersenyum bersamaan. Membuatku tersenyum lebih mengembang lagi. Sampai kurasakan pegal bibirku puas tersenyum. Tapi, tiba-tiba Mama mengernyitkan dahinya.

“Rib, kamu yakin ini cerpen yang kamu kirim kemarin?”, tanya Mama.
“Yakin dong, Ma. Memangnya kenapa?”, tanyaku lagi.
“Hmm…Mama sempat lihat cerpen kamu waktu kamu ketiduran di depan laptop. Tapi, judulnya bukan ini, deh… Coba kamu lihat,” ujar Mama sambil mnyerahkan koran kepadaku.
Dan betapa terkejutnya aku, judul cerpen yang ku lihat bukanlah yang ku kirim kemarin. Aneh, judul cerpen itu adalah judul cerpen yang hilang bersama Klik. Timbul tanda tanya besar dalam hatiku. Siapa yang mempublikasikan cerpenku hingga di muat di koran? Pasti ia yang telah mengambil Klik.
^_^

UAS pun tiba. Untuk mata kuliah yang satu ini, aku senang bukan kepalang. Aku bebas UAS. Aku hanya mengumpulkan guntingan cerpenku kepada dosen.

“Wah…bagus,bagus…karya kamu sudah bisa diterima di koran. Nanti akan ibu baca cerpennya. Kamu ibu nyatakan bebas UAS dan langsung mendapat nilai sempurna”, tutur beliau.
Aku benar-benar bahagia bisa lolos dari UAS mata kuliah ini. Yang bebas UAS hanya aku dan Airin, sahabatku. Kami merasa tidak enak juga dengan teman-teman. Tapi, kami sudah berusaha untuk ujian ini. Dan alhamdulillah karya kami mendapat respon positif dari media. Aku dan Airin menjauh dari lokasi UAS. Kami tak ingin mengganggu konsentrasi teman-teman yang sedang berjuang. Semangat teman!

“Rin, sebenarnya cerpen yang dimuat dikoran itu…”
“Kenapa cerpennya, Rib? Yang jelas, kamu nggak plagiat kan?”, tanya Airin.
“Nggak kok, Rin…itu murni karyaku. Kamu tau kan flashdisk-ku hilang sekitar 1 bulan yang lalu?”, tanyaku.

“Iya, aku tau… Kalo nggak salah, kamu bilang disitu ada cerpen yang udah kamu siapin buat dikirim kan?”, kata Airin mencoba mengingat-ingat.
“Nah, itu dia, Rin… Cerpen yang dimuat itu, cerpen yang ada di flashdisk-ku! Aneh kan?”, kataku.
“Hah, masa sih, Rib? Kok bisa?”
“Aku nggak tau, Rin… Kenapa yang ngambil itu nggak permisi dulu ke aku?”, kataku lesu.
“Ah, kamu ini… Kalo pake permisi bukan hilang flashdisk-nya, tapi dipinjem! Ngelawak bu?”, kata Airin yang dilanjutkan dengan tertawa. Aku menggembungkan pipi sambil cemberut melihatnya. Ia salah tingkah, lalu berusaha mengendalikan dirinya.

“Tiap lagi mumet, aku di ketawain. Sama aja tuh kayak Mas Rangga! Sebeeeeell tau!!”, gerutuku.
“Iya deh, maaf yaa…sahabatku yang centil, Ribka Arsya Maharani…”, kata Airin mengejek.
Aku masih cemberut dan tak menanggapi Airin. Tapi, Airin kelihatan berpikir sambil menaruh jari telunjuk menopang dagunya. Lalu tiba-tiba…

“Aha! Kamu udah coba tanya sama Bang Rangga?”,kata Airin mengejutkanku.
“Bikin kaget aja kamu, Rin! Udah aku tanyain sama dia. Seingatku, aku nanyain sejak… tiga hari flashdisk-ku hilang!”, kataku dengan nada meninggi.
“Jiaah…coba deh kamu tanya lagi. Bisa jadi dia tuh yang ngambil flashdisk kamu. Coba aja lagi..”, kata Airin menyarankan.

“Ntar malem deh, aku coba tanyain lagi. Jam segini dia sibuk”, kataku.
“Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin. Ke kantin yuk?”, ajak Airin.
“Yuk, lagian udah haus juga nih…hehe”
^_^
Malamnya, aku ingin mencoba menanyakan kembali tentang flashdisk itu. Pada saat aku ingin menelepon, ponselku bordering. Ku lihat layar ponselku.
 Mas Rangga Jelek
memanggil…
Segera ku jawab telepon darinya.
“Halo, assalamu’alaikum”, sapanya lembut. Ini tak biasanya.
“Wa’alaikumsalam, Mas. Ribka mau nanyain tentang…”,kata-kata ku terpotong.
“Flashdisk kan?”, terka Mas Rangga.
“Iya. Kok Mas tau? Jangan-jangan beneran Mas nih yang ngambil? Haduh, kenapa nggak mau ngaku sih?”, tanyaku penasaran.
“Selamat ya cerpen kamu dimuat di koran”,tuturnya.
“Ih, lain ditanya lain yang dijawab. Jawab dulu dong!”,kataku yang mulai kesal.
“Yeee….kok maksa banget sih? Memang Mas kok yang ngambil flashdisk Ribka! Puas?”, katanya menantangku.

“Hah? Buat apa Mas ngambil flashdisk-nya? Jahat!”, kataku yang hampir saja menangis.
“Awalnya, Mas cuma pengen ngerjain. Habisnya pas kemaren kita ketemu, kamu tinggalin flashdisk-nya gitu aja. Ya udah, Mas ambil aja. Trus, kamu bilang mau ngirim cerpen ke koran. Ya udah, Mas kirimin aja ke koran pake nama kamu dan nama kampus kamu. Alhamdulillah diterima kan? Hahaha… Jangan marah ya, Rib… Ntar manisnya hilang loh! Hahaha…”, ujarnya bercerita dibumbui dengan meledekku.
“Tapi, Mas udah buat Ribka panik sebulan tau! Nyebelin banget!”, kataku menahan kesal.

“Nah, Mas nggak bakalan ngasitau dan ngembaliin flashdisk kamu kalo nggak keterima di koran. Padahal, rencananya mau nahan flashdisk-nya 1 ½ bulan sejak Mas kirim. Tapi, udah terbit duluan. Alhamdulillah dong…hehehe…”,katanya dengan cengengesan.
“Hmm…oke, oke! Mumpung belom terlalu malem, balikin sekarang! Nggak pake lama!”, kataku memerintah.
“Siap, Bos! Mas Rangga yang ganteng akan segera meluncur…Assalamu’alaikum”, katanya menutup pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam…”, jawabku.
^_^

Setelah menunggu sekitar 1 jam, Mas Rangga baru nongol. Dan aku yang menunggu pun makin dongkol.
“Assalamu’alaikum”, sapanya dari atas motor.
“Wa’alaikumsalam”, jawabku. Lalu, keluar rumah menghampirinya.
“Ini flashdisk nya. Eit…eit…eit…”, ia memain-mainkan flashdisk-ku sehingga membuatku sulit mengambilnya.
“Ooh…mau diteriakin maling nih?”, tanyaku menantang.
“Iya deh, iya…nih”, sambil memberikan flashdisk ku.
Mas Rangga sudah memutar stang motornya hendak bergegas pulang. Tapi, aku buru-buru mencegatnya.

“Jangan pulang dulu… Ada oleh-oleh khusus nih, buat Mas. Satu aja nggak apa-apa kan?”,tanyaku sambil bersiap-siap.
“Memangnya apaan?”,tanya Mas Rangga.

BUKK!!
Tabokanku menyentak bahunya dengan keras. Ia mengaduh sambil minta ampun.
“Ampun, Rib… satu aja nggak apa-apa kok. Malah Mas nggak mau dua kali… ampun…ampun…”, katanya memelas.
“Dasar wanita!”, gumamnya. Dan aku mendengar itu.
BUKK!! Untuk yang kedua kalinya.

“Haduh…kan tadi udah dikasih satu…kok jadi gratis satu lagi sih naboknya? Langsung pegel nih badan. Ayo pijitin!”,protes Mas Rangga.
“Ooh..minta sekali lagi?”, tanyaku menahan geram.

“Nggak, nggak… udah baikan kok… ini udah bugar habis di tabok”, sambil memperagakan gerakan bahu yang biasa dipakai senam.
“Halah… Oh iya, satu lagi, Mas harus antar jemput Ribka selama flashdisk itu hilang dari Ribka!”, pintaku.
“Hah? Nggak ada syarat lain?”, tanya Mas Rangga.
“Nggak ada! Deal?”, kataku.

“Terpaksa, deal. Daripada nggak di maafin seumur hidup. Huh…”, keluh Mas Rangga.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Hal ini akan membantuku menghemat uang jajanku sebulan. Lumayan, uang bensin bisa dipakai untuk nabung. Terima kasih Mas Rangga yang baik hati. Hehehe…

Ingin Kumulai Lagi

By Arie Ammara

Langkahku mulai lunglai. Panas benar rasanya hari ini. Alam benar2 tidak bersahabat padaku. Matahari terasa seperti jilatan api yang membakar kulitku. Hufh! Kuseka keringat yang mulai membanjiri muka. Perjalanan masih sekitar 800 meter lagi. Lumayan. Kulirik monol putih yang melingkar dipergelangan tangan kiriku, 13.16. Pantas saja cuaca demikian panasnya.
Ingatanku melayang pada sosok yang kutemui tadi. Ia begitu anggun dengan balutan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya. Balutan jilbab coklat tuanya serasa kontras dengan muka dan matanya yang bulat. Manis. Menarik. Dan aku merasakan kesejukan ketika berbincang dengannya. Tutur bahasanya teratur, diksinya bagus, dan yang paling penting senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya yang tipis. Ramah. Demikian kesan pertama yang aku dapatkan sesaat setelah perkenalan kami. Di antara ratusan orang yang memiliki kesibukan yang sama, kebingungan yang sama denganku, namun hanya dia yang menghampiriku dan mengajak menyelesaikan tugas ini bersama-sama.

“Assalamu’alaykum.” Sapanya.” Daftar ulang juga ya? isi sama-sama yuk..” Ajaknya ramah.
“Tari..” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku, setelah cukup lama kami menerobos kerumunan orang untuk dapat keluar ruangan sekedar mencari tempat yang nyaman untuk menulis.
“Mala. Zakiyah Kemala Dewi.” Tanpa diminta aku mulai mengenalkan namaku.

“Subhanallah, namamu bagus. Zakiyah artinya cerdas. Pasti kamu gadis yang cerdas.” Ocehnya. Aku hanya tersenyum menanggapi komentarnya. Ya. Banyak orang yang berkata demikian. Zakiyah berarti cerdas. Dan itu tidak terlalu meleset dari aku yang sebenarnya. Hampir setiap kali terima raport seumurku sekolah, aku tak pernah absen menyabet peringkat tiga besar di kelas, dan tak kurang dari lima kali menyabet juara umum. Aku memang cerdas.
“Kamu sendirian aja?” tanyanya.
Aku mengangguk. Gak lihat apa dari tadi sendiri, batinku.
“Asal mana?” lanjutnya.
“Kapuas Hulu.” Jawabku singkat. Aku memang suka berkenalan dengannya, tapi tidak suka banyak berbicara dengan orang yang baru dikenal, meskipun kelihatannya ia orang baik.
Banyak bertanya pada orang yang baru dikenal malah akan terkesan basa-basi dan buang-buang waktu.

Melihat responku yang biasa saja, ia pun memutuskan untuk focus mengisi beberapa titik-titik yang masih belum terisi di lembar formulirnya.
“Emmm, kamu mau kembalikan formulirnya hari ini juga?” Tanyanya lagi setelah beberapa saat kami saling diam.

Sekali lagi aku hanya mengangguk.
“Kamu bawa raport?” Lanjutnya.
Mengangguk, sekali lagi.
“Aku lupa bawa, jadi terpaksa aku bawa pulang dulu formulirnya. Besok aja deh, aku kembalikan.” Jelasnya.
Aku kan gak tanya. Batinku.
Kulirik monolku lagi. 13.25. Sekitar 400 meter lagi. Keringat di mukaku semakin banyak. Sedikit menyesal juga aku tolak tawaran Tari untuk mengantarku tadi. Seandainya aku terima tawarannya, pasti sekarang aku sudah bisa beristirahat dan merasakan segarnya kipas angin membelai-belai wajahku, sehingga pikiranku melayang-layang dan aku benar-benar beristirahat. Hmmm… Sedapnya…..

*********
Hari ini hari kedua PAMB. Saat waktu dzuhur tiba, aku memilih untuk ikut gabung dengan yang tidak sholat. Tentu saja dengan beralasan aku sedang berhalangan. Nanti ajalah sholatnya, di kost aja, pikirku. Sepertinya ribet sholat di sini. Pasti antri. Akupun mulai bergabung dan mengikuti permainan yang kakak panitia ajarkan. Seru juga. Tapi kita kan capek, masak dikasi’ pemainan terus. Beberapa saat berikutnya sepertinya kakak itu seperti mendengar ocehan dalam hatiku. Ia pun mengganti perminan dengan bercerita tentang kisah seorang istri Nabi, Aisyah.

“Di sini ada yang kenal dengan Aisyah ra, istri Nabi Muhammad saw yang.....
Kakak itu mengkisahkan dengan sangat menarik. Seluruh tubuhnya seperti ikut berekspresi menggambarkan bagaimana. Matanya sesekali membesar dan menyipit. Tangannya bergerak ke sana-kemari dan jilbabnya yang lebar sesekali bergoyang tertiup angin. Cerita dan piawainya dalam membawakan cerita itu membuat kami yang mendengarkan terkesima dan dapat memahami apa yang ia sampaikan sepenuhnya. Kecuali nama-nama yang sangat aneh itu. Aku tak ingat. Jangankan ingat, mengucapkannya kembalipun aku tak bisa.

Sempat terlintas dibenakku. Apa sih yang membuat orang-orang berjilbab besar itu memakai jilbab seperti itu?? Apa enaknya coba. Bukannya suasana di sini luar biasa panasnya. Isssh, tak ku bayangkan jika aku yang memakainya. Dengan rambutku yang sebahu dan selalu ku ikat kucir kuda inipun aku masih selalu merasa panas, apalagi dengan jilbab lebar seperti itu. Dan belakangan aku tahu, jilbab mereka berlapis. Waw!!!

Mendung menggelayut di angkasa. Hanya tinggal menghitung detik saja maka bumi akan segera basah oleh guyuran air dari langit. Teman-temanku yang lain sudah berhamburan pulang dari tadi. Tinggal aku dan beberapa orang laki-laki yang ada. Ini semua gara-gara kami harus menghadap abang PM untuk mempertanggungjawabkan kesalahan kami. Aku terlambat datang tadi pagi, memakai sepatu berlist putih dan tidak membawa roti untuk sarapan. Itu semua gara-gara aku tak bisa tidur tadi malam. Pikiranku benar-benar kacau. Berbagai pikiran terlintas dan membuatku resah. Entah apa yang membuatku demikian galau, perasaanku benar-benar tak nyaman. Baru lewat jam empat pagi mataku perlahan-lahan mulai mengatup dan tak sadarkan diri. Alhasil, aku bangun saat sinar matahari yang menerobos lewat celah jendela kamar kos ku dan tepat mengenai mataku. Bergegas kusingkap selimut dan kulirik sekilas jam weker berbentuk kucing tepat di samping kepalaku. Jam 6:42???!! Tamatlah riwayatku. Aku baru teringat belum membeli persiapan untuk PAMB hari ini. Roti belum dibeli. Sepatu basah karena aku lupa memasukkannya ke dalam, padahal tadi malam hujan turun dengan lebatnya. Terpaksa aku memakai sepatu ber list putih. Hmmmm. Benar-benar tamat riwayatku hari ini. Dan benar saja, aku dapat tugas dari abang PM untuk mencari kenalan senior sebanyak 50 orang selama satu minggu. Yang benar saja?? Aku adalah orang yang paling tidak suka basa-basi. Bagaimana mungkin aku bisa memperoleh kenalan senior sebanyak itu dalam waktu satu minggu??? Satu tahun pun aku tak yakin. Karena selama tiga tahun di SMA, aku hanya memiliki empat orang teman.

Kupercepat langkahku, berharap bisa mengalahkan kecepatan hujan yang mulai turun dan mungkin sekarang butir-butir air itu tengah berebut untuk sampai ke bumi.
“Assalamu’alaykum..” sebuah suara mengejutkanku.
“Wa’alaykumussalam.” Reflek kujawab dan kudapati kakak yang tadi siang bercerita tentang Aisyah berada tepat di sebelahku.
“Pulang kemana? Kakak antar yuk..” Pintanya
Aku sedikit ragu.
“Gak usah kak. Udah deket kok.” Bohongku. Padahal perjalananku masih sekitar 20 menit lagi.
“Sudah hampir hujan, ni. Gak apa-apa yuk, kakak antar.” Bujuknya.

Hm, boleh juga. Degan cepat aku melompat di jok belakang mio nya. Benar saja, baru sekitar lima menit kami berjalan, hujan seperti mengguyur tanpa ampun. Membuat tubuh kami basah. Untungnya tak lama kemudian kami telah sampai di kos ku. Bajuku belum terlalu basah. Namun baju kakak yang telah menolongku telah basah kuyup. Aku melihat sekilas bibirnya bergetar menahan dingin.
“Alhamdulillah sampai, kakak pulang dulu ya.. Assalamu’alaykum..” Pamitnya.
“Wa’alaykumussalam.” Jawabku yang pasti tidak terdengar oleh kakak tadi. Dia sudah melaju meninggalkan aku yang telah ditolongnya. Menerobos butir-butir air yang turun dengan suka cita ke bumi. Tak ada pertanyaan apa-apa di sepanjang perjalanan tadi. Karena mungkin memang kami sibuk dengan doa kami masing-masing agar hujan kalah cepat dengan kelajuan motor yang kami kendarai.

Sekali lagi malam itu aku tak bisa memejamkan mataku dengan cepat, padahal aku ingin segera mengistirahatkan seluruh tubuh yang cukup lelah dengan aktivitas sehari tadi. Mencoba memaksa namun tetap saja mata ini tak mau terlena. Kuraih handphone hadiah terakhir dari abangku satu-satunya dua tahun yang lalu. Ku buka inbox, beberapa buah sms dari nomor baru yang tak ku kenal. Dua hari ini ada nomor baru yang mengirimkan sms ke hp ku.

Janganlah kau memperkecil nilai kebaikan walaupun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (tidak muram). H.R Muslim.

“… Mulailah segala sesuatu dari hati, dilakukan dengan sepenuh hati, dan pahami suasana hati… jika sudah.. maka lihatlah bagaimana banyak hati member hati terhadap hati yang tulus member arti… Indahnya saling berbagi dengan hati.”

Ingatanku kembali kepada kakak yang menolongku sore tadi. Siapa gerangan namanya? Tinggal dimana? Teringat sorot matanya yang teduh dan keningnya yang sedikit menghitam. Aku sering melihat orang-orang dengan kening menghitam adalah orang-orang yang taat. Rajin sholat tahajud, kata orang. Kok kakak itu mau ya menolong orang yang belum dikenalnya?? Tiba-tiba ingatanku meloncat lagi pada Tari. Dari sekian banyak orang hanya Tari yang menghampiri, menyapa dan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Dengan sikapku yang cuek, dia tetap saja berlaku baik padaku, bahkan menawarkan diri mengantarku pulang. Perasaanku mulai gundah lagi. Berkali-kali aku membalik-balik badanku ke kanan dan ke kiri, tetap saja hatiku tak tenang. Tak terasa hati ini merasa sedih sekali dan tanpa kusadari air mataku mengalir begitu saja. Entah mengapa.

*****

“Untung ada seorang kakak yang mengantarku pulang kemarin, kalau tidak pasti aku gak bisa ikut PAMB hari ini. Aku gak bisa kena hujan, pasti langsung demam.” Samar-samar ku dengar seorang perempuan berbicara di depanku saat berjalan menuju kampus.
“Kakak siapa?” Tanya temannya.
“Wah, aku gak sempat tanya namanya. Itu lho kakak yang kemarin ceramah tentang Aisyah..”
Kakak itu.
Sesampainya di kampus, mataku berkeliling mencari sosok kakak yang kemarin menolongku. Kemana dia?? Aku ingin bertanya siapa namanya. Namun sampai waktu istirahat sholat dzuhur juga aku belum menemuinya.
“Hay, Assalamu’alaykum.. Kamu Mala kan??” Sapa seseorang mengejutkanku.
“Tari? Apa kabar?” Sahutku dengan senyum. Entah mengapa bahagia rasanya bertemu Tari pada saat-saat seperti ini.
“Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana?”
“Baik juga.”
“Sholat sama-sama yuk.”
Sesaat aku ragu. Tapi akhirnya kali ini aku ikut ajakan Tari. Tiba-tiba langkahku terhenti. Aku ingat, aku tidak membawa mukena.
“Kenapa?” Tanya Tari.
“Aku gak bawa mukena.”
“O, gampang. Nanti aku carikan pinjaman. Yuk.”
Terpaksa aku harus menunggu jamaah sholat gelombang pertama selesai. Namun Tari memang bisa diandalkan. Berkat bantuannya aku mendapat pinjaman mukena. Hmmm.. banyak juga teman Tari, padahal kita baru tiga hari jadi mahasiswa. Tapi sudah hampir setiap orang Tari kenal.
Seusai sholat, aku masih belum menyerah mencari-cari dimana gerangan kakak yang menolongku kemaren. Mataku masih saja menyapu sekitar, namun nihil.

*****

Sore ini hujan turun lagi. Aku belum bisa pulang jika hujan belum juga berhenti. Untuk itu aku memutuskan untuk berteduh di mushola kampusku. Hanya ada satu pasang sandal di tempat akhwat, begitu yang tertera pada papan kecil di luar ruangan. Aku mendengar samar-samar orang melantunkan Al-Qur’an di dalam mushola. Ku putuskan untuk mengisi saat-saat menunggu hujan reda dengan berteduh di dalam mushola. Baru beberapa menit aku dikejutkan oleh sapaan perempuan yang tadi.

“Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam.” Aku terkejut bercampur senang. Ternyata yang menyapaku adalah kakak yang selama ini aku cari. Setelah hampir satu minggu barulah aku bertemu dengannya.
Kami pun akhirnya berkenalan. Namanya Dewi, mahasiswi tingkat enam prodi Kimia. Dia juga tengah menunggu hujan reda. Ketika hujan mulai reda, dia menawarkan kebaikannya sekali lagi untuk mengantarkanku pulang. Aku tak menolak. Aku merasakan kedamaian dan ketenangan saat berbincang dengannya.

Entah kenapa, hatiku merasakan kesejukan saat aku bersama Kak Dewi. Sosoknya yang biasa, mampu menyentuh sisi gelap dalam hatiku. Senyum tulusnya mampu menyihir mataku. Tuturnya yang lembut seperti merasuk dalam hatiku dan menggetarkannya.

Sesampai di kos, aku lalu membersihkan badanku. Matahari telah beranjak ke peraduannya. Kubuka lemari pakaianku. Terlihat di sana mukena yang terlipat rapi karena jarang kusentuh. Bismillah… aku ingin memulainya lagi.

Masih terdengar sayup-sayup orang mengaji di kejauhan.
Ya Allah, masihkah kau terima sholat hamba-Mu ini???

Ditinggal Pergi

bY : Ari Ammara KPK

“Tahu. Tahu…..” Suara itu terdengar lagi olehku yang tengah asyik mengocok telur di dapur, sama seperti dua hari terakhir pada kepulanganku saat ini. Seperti biasa, rutinitas pagi yang kujalani saat pulang kampung. Memasak, mencuci, dan mengerjakan pekerjaan perempuan lainnya. Seperti saat ini, aku sedang membuat sarapan.

“Ndok1), mau beli tahu ndak?”
“Boleh juga, mak2).” Sahutku pada yang bertanya. Ia adalah ibuku. Ia sedang sibuk di depan mesin jahitnya, menyelesaikan beberapa lembar pakaian pesanan para pelanggannya.

Aku segera beringsut dan menghentikan sejenak pekerjaanku. Klik. Kumatikan kompor yang tadi sudah kunyalakan. Aku tak ingin ‘bulek3) tahu’ (sebutanku untuk orang yang jualan tahu) terlalu lama menungguku. Kudengar tadi ibuku sudah memberi aba-aba pada bulek tahu bahwa kami akan membeli tahunya. Kusambar jilbab dan segera berlari kecil menuju depan rumah.

“Tahunya, bulek.” Sapaku

“Tahu apa mbak? Tahu Pontianak opo4) tahu kempong?” Tanyanya dengan logat jawanya yang kental.

“Pinten regane5)?” Tanyaku dengan bahasa jawa halus.

“Seng6) tahu Pontianak lima ngatus7), tahu kempong rongatus seket8). Pileh seng endhi9)?” jawabnya.

“Tahu Pontianak e gangsal10), tahu kampong sedhoso11). Niki yotro ne12).” Jawabku sambil menyerahkan satu lembar uang puluhan ribu.

Sebagai keturunan orang jawa, ibuku selalu bilang, untuk menghormati orang yang lebih tua, sebaiknya kita menggunakan bahasa jawa halus bahasa jawa halus dalam berkomunikasi. Tapi itu juga bukan suatu kewajiban, si. Jika bisa, lebih bagus. Tapi jika tidak bisa, ya tidak mengapa. Namanya juga anak ‘sekarang’, demikian kata mereka. Aku sendiri, tidak terlalu menguasai, tapi cukup tahu sedikit-sedikit.

“Niki13) tahunya, niki kembaliannya. Matur nuwun14) nggeh15), Mbak..” katanya sambil memberikan uang kembalian padaku.

“Sami-sami16), Bulek..” Jawabku.

Ibu itu terus menaiki sepedanya lagi. Tapi, sepertinya ada yang aneh. Kuperhatikan ibu itu seperti kesulitan saat hendak duduk di sedel. Saat itulah baru aku sadar bahwa kakinya kecil sebelah. Mataku terus menatapnya sampai ia hilang dari pandanganku. Tiba-tiba aku merasakan perasaan yang aneh. Entah apa. Sepertinya gerimis tipis mulai turun di hatiku.

***********************

“Dia itu orang baru di sini. Baru dua minggu.” Ujar Ibuku memberikan jawaban saat kutanya perihal bulek penjual tahu tadi pagi. Matanya tak bergeming menatap bordiran pakaiannya, sambil tangannya terus menjahit.

“Rumahnya di mana, Mak?” Tanyaku.

“Rumahnya di samping rumahnya Bu Darso. Depan sana tu lho. Beliau itu masih saudaranya Bu Darso.”

“Rumah yang kosong itu?” Tanyaku lagi

“Iya.. Kata Bu Darso, daripada kosong, lebih baik ditinggali saja. Biar ada yang merawat, meskipun ndak bayar uang sewa.” Jawab Ibuku lagi.

“Memangnya Bulek itu pindahan dari mana?”

“Namanya Bulek Surti. Dari Madiun. Mamak juga kurang kenal si. Setahu Mamak, bulek itu uwes17) gak punya suami. Wong18) sehari-harinya sendiri. Kenapa? Kok dari tadi kamu nanyain Bulek itu terus.” Tanya ibuku heran.

“O. Ndak. Ndak papa kok, Mak.” Jawabku.

Sejak saat itu, pikiranku seperti dihantui bulek Surti. Rasa penasaran akan seluk beluk bulek Surti semakin menggebu-gebu. Hingga beberapa hari selama aku berada di rumah, aku menjadi langganan tahu bulek Surti. Tak pernah absen membeli tahu. Ia mengambil tahu dari produsen dan menjualnya keliling ke rumah-rumah. Begitu kesehariannya tiap pagi. Siangnya, ia mengolah kebun di belakang rumahnya dengan menanaminya berbagai macam sayuran, seperti kangkung, bayam, tomat, dan juga cabe.

*************************

Langit gelap. Aku yakin, tidak sampai lima menit lagi, butir-butir air akan sampai dan membasahi bumi yang sudah mulai berdebu. Dengan gelisah aku menunggu dilayani. Lumayan ramai juga yang belanja sore ini, sehingga antrian lumayan panjang dan sempat terlintas dibenakku untuk pulang saja tanpa menunggu lebih lama lagi. Tapi aku menurungkan niatku itu.

“Beli apa, Mbak?” Tanya si penjual.

Alhamdulillah. Desahku dalam hati. Akhirnya tiba juga giliranku.

“Tepung 1 kg, telurnya lima.” Jawabku.

“Apalagi?” Tanyanya lagi.

“Udah, Mbak.” Jawabku.

“Dua belas ribu lima ratus.” Katanya sembari menyerahkan barang belanjaanku.

“Makasi, Mbak.” Kataku sambil menerima bungkusan plastik itu dan menyerahkan uang pas.

Segera kustater Beatku. Aku tak mau kalah dengan laju air dari langit. Angin mulai menerpa wajahku dengan kuat. Menerbangkan ujung-ujung jilbabku. Tak berapa lama setelah itu, air seperti tercurah dari langit. Membasahi bumi dan tentu saja aku. Jalanan jadi licin karenanya. Dalam sekejap saja, aku sudah basah kuyup. Sesekali aku mengelap mukaku dengan tangan kiriku. Sementara tangan kananku tetap mengendalikan motorku. Saat mataku sedang terpejam, ban motorku tergelincir karena jalanan tanah putih semakin licin. Tanpa ampun, motorku tumbang dan aku jatuh ke tanah. Kaki kiriku tertimpa motor. Sementara rok, baju dan kaus kakiku sudah penuh dengan lumpur jalanan.

Ughh.. Astaghfirullahhal’adziim.. Sakit sekali kakiku. Aku berusaha melepaskan kakiku dari himpitan motor. Tapi tak bisa. Tiba-tiba kulihat seorang ibu tua berlari kecil mendekatiku. Larinya pincang , dengan paying di tangan kanannya. Dengan segera ia beririkan motorku, menstandarkannya. Lalu ia menarik tanganku.

“Ya Allah, ngger19)…. Iki mau piye lo kok iso tibo20)??” Tanyanya panik.

Aku hanya bisa meringis menahan perih luka-lukaku.

“Ayo. Mamper21) ke tempat Bulek.” Ajaknya sambil menuntunku berjalan.

***************

Kusapu pemandangan disekelilingku. Rumahnya cukup rapi dan luas. Ada satu set sofa yang warnanya sudah mulai pudar. Busa-busanya pun sudah mengempis, sehingga lekungan-lekungan itu terlihat jelas. Ada sebuah meja tua di pojok kanan ruangan. Di atas meja yang kakinya sudah mulai lapuk dimakan rayap itu, terdapat sebuah bingkai foto dengan beberapa foto berukuran kecil. Foto-foto itu seperti diatur sedemikian rupa, sehingga meskipun sederhana, namun ia tertata sangat menarik. Kudekati dan kuamati foto itu.

“Itu anak-anak Bulek.” Kata Bulek mengejutkanku.

“Alhamdulillah sekarang mereka sudah hidup bahagia.” Katanya sambil meletakkan sepiring singkong goreng dan teh hangat di meja. Lalu matanya menerawang menembus tembok rumah dan melesat sampai batas yang tak kuketahui. Kulihat senyum bahagia di bibirnya, namun aku juga merasakan aura kekecewaan dari sorot matanya. Aku duduk di sampingnya.

Tib-tiba, ia tersadar dari lamunan sekejapnya.

“Eh, Nak. Monggo22) di makan singkong gorengnya. Tehnya diminum. Biar anget23).” Katanya padaku.

Aku hanya mengangguk.

“Anak Bulek kemana?” Tanyaku hati-hati sebelum menyeruput teh hangat. Alhamdulillah. Tubuhku terasa hangat sekarang.

Ia tersenyum sesaat.

“Anak Bulek ada tiga orang, dua laki-laki dan satu orang perempuan. Yang mbarep24), namanya Wahid. Setelah lulus SMA, dia minta dikuliahkan. Waktu itu Bulek ndak ada biaya. Suami Bulek hanya buruh tani. Penghasilannya ndak tentu. Sementara Bulek, dulu itu jualan pecel di depan rumah. Tapi karena si Wahid itu punya kemauan keras untuk kuliah, dia nekat merantau ke kota untuk kuliah sambil bekerja. Ya, Bulek cuma bisa ngirimin sedikit-sedikit tiap bulannya. Karena memang, penghasilan kami yang sedikit, selain untuk kebutuhan dapur, juga harus dibagi-bagi untuk keperluan adik-adiknya juga.” Ia kembali terdian dan menatap jauh ke depan. “Tapi Alhamdulillah, sekarang Wahid sudah berhasil. Dia punya beberapa bengkel mobil di Semarang sana, dan sekarang sudah berkeluarga. Anaknya sudah dua.” Lanjutnya. Kali ini dengan snyum tulus tersungging di bibirnya.

“Yang ini, yang nomor dua.” Lanjutnya sambil menunjukkan padaku gambar seorang anak perempuan yang manis dengan rambut sebahu. “Namanya Isnaini. Sama seperti masnya, dia juga nekat kuliah. Semua biaya ya, kami yang menanggungnya. Untuk membiayai kuliah Isnaini ini, kami sangat bekerja keras. Ini, kaki Bulek sampai seperti ini.” Katanya sambil menunjukkan kakinya yang tak sempurna itu. “Ini karena banyak bekerja. Tapi alhamdulillah juga, Isnaini sekarang sudah jadi guru dan sudah menikah. Sekarang dia ikut suaminya di Jogja. Terakhir Bulek dengar, dia sudah melahirkan anak pertamaya.”

Kulihat mata Bulek memerah dan berkaca-kaca. Tapi ia masih bisa menahan supaya air bening itu tak jatuh. “Kalau yang ini, namanya Ragil.” Lanjutnya sambil mengalihkan tangan menunjuk gambar seorang bocah laki-laki kecil dengan seragam SD. “Allah lebih sayang padanya daripada Bulek. Umur delapan tahun, ia harus dipanggil kembali oleh-Nya. Ia meninggal karena demam tinggi. Pada waktu itu, kami terlambat membawanya ke dokter,” Kali ini, Bulek tak kuasa menahan air matanya untuk meleleh di pipi tuanya. Aku tak sampai hati untuk tidak menenangkannya. Kuusap-usap bahunya untuk sekedar menenangkan hatinya.

“Suami Bulek sudah meninggal, dua bulan yang lalu. Rumah Bulek di Madiun sana Bulek jual dan Bulek pindah ke sini. Bu Darso ini, masih keluarga jauh Bulek.” Katanya sembari menyeka air mata di pipinya.

“Terkadang Bulek kangen banget sama anak-anak. Tapi Bulek juga sadar, mungkin mereka sibuk sehingga ndak punya waktu untuk Bulek. Biarlah Bulek akan tunggu mereka di sini, sampai mereka sadar dan ingat untuk mengunjungi Bulek. Bulek selalu doakan mereka” Katanya sambil berusaha tersenyum dan terus mengusap air mata yang semakin deras di pipinya.

Hujan sudah mulai mereda. Tinggal gerimis tipis yang masih tersisa. Namun, gerimis di luar sana dan tak sesetia gerimis di hati bulek Surti dalam menanti kehadiran anak-anaknya.



Foot Note's:

1) Panggilan kesayangan orang jawa untuk anak perempuan

2) Emak; ibu

3) Bibi; Tante

4) Apa

5) Berapa harganya

6) Yang

7) Lima ratus

8) Dua ratus lima puluh

9) Pilih yang mana

10) Lima

11) Sepuluh

12) Ini uangnya

13) Ini

14) Terima kasih

15) Ya

16) Sama-sama

17) Sudah

18) Orang

19) Sayang

20) Ini tadi bagaimana, kok bisa jatuh?

21) Singgah

22) Silahkan

23) Hangat

24) Pertama