-->

SMS Gratis

Senin, 23 Januari 2012

Kisah Tikus dan Pengkhianatan Amanah

By : Akhiarden KPK


Suatu hari segerombolan tikus mengadakan rapat tahunan. Agenda rapatnya, ancaman eksistensi tikus dari predator berkumis (Kucing). Rapat itu berlangsung sangat menarik dan dipenuhi dengan nuansa kekeluargaan. Suguhan makanan berupa padi-padian yang baru dipetik dari sawah petani, buah mentimun segar hasil panenan tadi pagi dan beberapa makanan lezat lainnya menambah asyiknya rapat tahunan itu. Musik-musik cericitan dari bayi-bayi tikus yang dibawa oleh bapak ibunya mengikuti rapat semakin menambah serunya suasana rapat. Dengan keterbatasan dana menyewa baby sitter, bayi-bayi lucu yang masih merahpun mau gak mau harus dibawa. Lagipula ini rapat tahunan, tak satupun tikus yang mendapat jabatan mengurusi umat melewatkannya.

Sabtu, 14 Januari 2012

Peringatan dari Tuhan

By : Ariyanti Ammara
Allahu akbar, Allahu akbar..
Allahu akbar, Allahu akbar
Asyhadu anal illahaillallah…..

Suara adzan dzuhur menggema di mushola tak jauh dari kost temanku. Muadzin itu melantangkan suaranya untuk sekedar mengingatkan pada kaum muslimin bahwa waktu untuk menghadap Allah SWT telah tiba. Tik. Tik. Tik. Perlahan aku terus melanjutkan ketikanku. Tugas yang dosenku berikan kali ini benar-banar menguras tenaga, waktu dan yang pasti pikiranku. Tugas fonologi, membuat daftar symbol-symbol huruf dalam kata. Ribet. Membuat kepalaku hampir pecah. Mana deadline pengumpulan tugasnya tinggal satu hari lagi. Jadilah siang ini aku harus full berada di kost temanku untuk mengerjakan tugasku itu. Itu karena aku harus meminjam laptop temanku.

Aku belum memiliki laptop atau notebook atau computer Pentium 4 sekalipun. Manalah, orang tuaku yang hanya petani sanggup membelikanku benda-benda mewah itu. Dapat membiayai kuliahku pun sudah sangat senang sekali. Seperti mendapatkan mutiara di dasar lautan setelah lama menyelam. Sebuah keberuntunga yang hampir tidak dapat dipercaya oleh orang-orang di kampungku. Bahkan oleh orang tuaku dan aku sekalipun.

Tik. Tik. Tik. Aku masih melanjutkan kerjaanku. Sementara sudah lewat sekitar 3 menit sang musdzin tadi mengumandangkan adzan. Tik. Tik. Tik. Melanjutkan mengetik. Sambil sesekali men-delete kata-kata yang salah. Maklumlah, aku baru belajar mengetik, jadi masih sering salah-salah dan luambaaaaaaat sekali. 
“Sholat dulu yuk, Fa.” Ujar teman kostku yang wajahnya sudah basah oleh air wudhu.
“Iya. Kamu sholat aja dulu. Aku nanti aja di rumah. Tinggal dikit lagi ni. Nanggung.” Sahutku.

“Eee… Udah. Berhenti dulu sebentar. Sholat dulu, yuk.” Rayunya.
Aku menoleh dan hanya melemparkan cengiran padanya. Bentar lagi ya..
Tik. Tik. Tik. Mengetik lagi. Temanku pun segera mengenakan mukena putihnya dan mulai “menyerahkan” diri kepada Sang Maha Pencipta. Menghadapkan diri dan memasrahkan seluruh hidunya kepada Allah.

“Inna sholati wanusuuki wamah yaya wamah maati lillahirrabil ‘alamin…
Samar-samar kudengar potongan doa iftitah yang ia baca. Sesunggungnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya untuk Allah semata. Aku tidak terlalu memperdulikan temanku yang sedang khusyuk dalam sholatnya itu. Aku masih sibuk menyelesaikan tugasku yang sedikiiiiit lagi akan selesai. Jika tugasku sudah selesai, lalu akan langsung aku print dan jilid. Setelah itu, tenanglah hatiku dan aku bisa membaca novel kesukaanku lagi yang belum sempat aku tamatkan. Yes. Senangnya… Ayo Iffa, semangat. Batinku menyemangati diri sendiri.
Tugasku hampir 90% selesai. Tinggal beberapa kata lagi. Yap. Ayo Iffa…. Kamu bisa.. Sedikiiiiit lagi…

“Sholat aja dulu, Fa.” Kata temanku lembut setelah ia menyelesaikan kewajibannya kepada Allah, sembari menanggalkan mukena dan menggantungnya dengan rapi. Ah, Diana memang sosok yang lemah lembut dan taat. Lihatlah bagaimana kamarnya tertata rapi dan segala urusannya dapat diselesaikannya tepat waktu dan rapi. Termasuk juga ia hampir tidak pernah menunda sholatnya meskipun tugasnya sedang menumpuk, seperti saat ini.

“Iya.” Jawabku singkat. Sementara mataku tak lepas dari pandangan di layar laptop temanku itu. Tik. Tik. Tik. Tetap mengetik.
“Jawabnya iya. Tapi kok belum juga beranjak?”
“Iya, iya Bu Ustadzah… .” Jawabku lagi.
“Kalau ada apa-apa, jangan salahkan aku ya.”

Aku hanya tersenyum menagggapi dan masih tetap bergeming di tempatku. Sementara Diana sudah sibuk kembali mengerajakan tugasnya. Mencoret-coret kertas buram. Entah apa yang ditulisnya. Coretan-coretan angka yang tak dapat kubaca. Sesekali ia memencet-mencet tombol kalkulatornya. Berpikir keras sampai-sampai keningnya berkerut sambil memain-mainkan pensilnya. Menggaruk-garuk kulit kepala yang dibalut kerudung biru muda lembut.

Aku dan Diana memang teman akrab semenjak daftar ulang mahasiswa baru dulu, meskipun kami beda prodi. Aku yang senang sastra memilih jurusan Bahasa Indonesia, sementara dia yang senang berlogika dan berfikir ilmiah, memilih fisika. Namun perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi persahabatn kami. Kedekatan kami semakin hari semakin erat. Itu mungkin karena karakter kami yang cocok. Aku yang melankolis sangiunis dan Diana yang Plegmatis melankolis. Jadi saat sanguinisku dominan, banyak cerita dan tak bisa diam, maka plegmatis Diana yang akan mengimbangiku. Ia akan mendengarkan aku dengan sepenuh hati. Ikut tersenyum, tertawa, bahkan juga ikut menangis. Ia benar-benar sahabat yang mengerti dan mudah bersimpati serta berempati kepada sahabatnya. Aku benar-benar beruntung punya sahabat sepertinya. Diana, I Love You. Lha?? Hehe.. jangan kaget dulu. Aku masih normal kok. . Aku hanya ingin mengekspresikan rasa sayang dan senangku pada Diana.

“Iffa… Udah hampir jam satu tu.” Kata Diana mengingatkan lagi.
“Iya, Iya Bu Usta..”
Pet. Tiba-tiba layar laptop temanku gelap, membuat kata-kataku tadi tak rampung aku ucapkan. Aku syok. Sesaat tubuhku terpaku dan ku rasa dunia berhenti berputar. Beberapa detik kemudian tubuhku mulai lemas. Ragaku seperti kehilangan tulang-belulangnya.

Lunglai aku menyusuri jalan. Panas yang terik membuat cairan dalam tubuhku menguap, menjadi bulir-bulir keringat di wajah dan bagian-bagain tubuhku yang lain. Kerongkonganku juga terasa kering kerontang. Perasaanku tak menentu. Sedih, menyesal, merutuki diri sendiri, kesal dan sebagainya. Tiba-tiba aku berpapasan dengn teman satu kelasku. Mungkin ia baru saja dari warung membeli lauk untuk makan siang. Ku lihat ia menenteng satu kantung plastik kecil.
“Udah selesai, Mbak?” Sapanya.

Aku menggeleng lesu dengan raut muka yang sangat menyedihkan.
“Bukannya dari pagi tadi? Kok belum selesai?”
Mati lampu. Aku lupa nge-save. Laptop Diana pas gak pakai batrai. Jadi hilang semua.” Ratapku

“Innalillah… sabar ya, Mbak.” Hiburnya. “Sekarang Mbak mau kemana?”
“Pulang. Aku mau istirahat dulu. Udah ya.”
“Iya. hati-hati Mbak.” Katanya simpati.
Aku hanya mengangguk dan meneruskan langkahku.

Dalam balutan mukena, aku baru saja menuntaskan tasyahud akhir sholat dzuhurku. Jarum jam wekerku menunjukkan pukul 13.45. Setelah bertasbih, bertahmid dan takbir serta menyampaikan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, aku menengadahkan tangan. Saat itu perasaan dalam hatiku tak terbedung lagi. Ia pecah bersamaan air mata yang perlahan mengalir dari kedua mataku. Semakin lama semakin deras. Dan aku semakin tak kuasa untuk tidak terisak.

Ya Allah…. Ampuni hamba-Mu yang telah mengabaikan-Mu.
Ampuni hamba yang sangat sombong kepada-Mu.
Ampuni hamba yang tidak bersegera menyambut seruan untuk menghadap kepada-Mu
Ampuni hamba yang sombong, angkuh dan tidak tahu diri ini…
Ampuni hamba atas segala kebodohan dan kesombongan hamba, Ya Allah…..
Aku semakin terisak lagi. Aku bukan hanya menyesali tugasku yang hilang begitu saja setelah kurang lebih empat jam aku kerjakan, namun aku lebih sedih menyadari diriku yang ternyata masih begitu sombongnya terhadap Allah yang telah berbuat sangat baik padaku.

Aku tahu, Allah bukan marah kepadaku dengan adanya peristiwa ini. Aku justru berfikir bahwa itu tandanya Allah masih sayang padaku. Itu teguran yang Allah sampaikan padaku. Kalau peringatan dari Diana tidak mempan, maka peringatan dari Allah ini harus bisa membuatku berubah.

Ya Allah…
Terima kasih telah mengingatkan hamba-Mu yang sering khilaf ini. Terima kasih Engkau masih mencintai hamba dengan memberikan peringatan itu.
Semenjak saat itu, aku hampir tidak pernah lagi menunda sholat. Ketika adzan berkumandang, aku segera hentikan aktivitasku. Apapun itu. Kecuali hal-hal yang mendesak yang syar’i. Aku harus lebih mendahulukan Allah daripada apapun. Aku yakin, ketika kita mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan menolong dalam setiap aktivitas kita. Tidak ada urusan yang tidak mungkin jika Allah turut di dalamnya.

Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi kita bersama. Amin

Jujur Semakin Gugur

By : Rafa Al Qinansa
Ditengarai lampu temaram
menemani di sepanjang malam
berjalan orang kikuk disana
membawa besarnya gulana


begitu berarti harta itu
tak sadar ia sedang tertipu
oleh alunan dunia yang merdu
namun hanya fana beradu

perintis kemakmuran
ayah dari segala keseganan
tak peduli hiruk pikuk tirani
entah dimana nuraninya kini

bohong!
dengan begitu meyakinkan
semua terpana tertipu tertekan
betapa hebatnya silat lidah
hingga nuranipun bisa kalah

begitu sulit mencari suatu sikap
suatu kata
suatu yang langka
hanya sedikit yang terungkap

dan kenyataannya
jujur semakin gugur

Sebuah Sajak Cerita

By : Rafa Al Qinansa
Tersibak di antara pohon bambu
Jatuh dari mega nirwana
Kau dan aku berdiri bersisian
Memandang lengkungan apik sinar terang

Kata orang
Segeralah kau meminta inginmu
Pada terangnya yang jatuh di retina
Berharap semua yang indah
Semua yang lalu ingin terulang

Namun kiranya masa itu adalah kecerobohan
Tak kah kau ingin menatap hari esok?
Daripada menunggu inginmu dikabulkan
Oleh sinar silau melampau

Kuberikan sebuah sajak cinta
Berisi rintihan hati dan harapan
Untukmu yang kupuja
Inginku bersuara
Tuhan, Kau bersinar dalam jiwaku

Kidung Kisi-Kisi Hatiku

By : Rafa Al Qinansa
Apa yang terjadi dengan hatiku ?
Ku slalu merasa sendiri…
Sepi yang tak pernah bertepi
Yang selalu menghantuiku

Dimana belahan jiwaku ?
Yang menjadi sandaran hati
Saatku dahaga
Dan disetiap saat suasana hatiku


Yang selalu ada ketika hatiku sedih
Yang selalu ada ketika hatiku gundah
Yang selalu ada ketika hatiku bahagia

Sekian lama ku mencari
Dalam dahaga perjalanan hatiku
Akhirnya kutemukan
Sandaran hatiku yang sebenarnya
Yang selalu mendampingiku
Di sepanjang hidupku

Setiap detik
Setiap waktu
Dan ku tak pernah lepas dari
Belai lembut kasih sayang
Yang selalu menyejukkan jiwa
Menenangkan kalbu…..

Jumat, 13 Januari 2012

Dimalam ini Aku Menulis

By : Akhiarden KPK

Dimalam ini aku menulis.
Menulis apapun yang bisa aku tuliskan
Menghimpun ide-ide yang berceceran
Menyatukan kata-kata yang berserakan

Dimalam ini aku bercerita
Bercerita apa saja yang bisa aku ceritakan
Tentang suatu harapan yang didamba
Tentang cita-cita yang mampu direalisasikan

Dimalam ini aku berkarya
Berkarya untuk mewariskan sejarah peradaban
Peradaban yang akan dikenang setiap orang
Pembawa ide segar untuk menciptakan perubahan

Dimalam ini aku berceloteh
Berceloteh panjang tentang sebuah keinginan
Keinginan-keingan yang telah lama kutuliskan
Namun belum mampu aku tunaikan

Dimalam ini aku mulai menyadari
Menyadari hidup bukan hanya sekedar bermimpi
Tapi menuntut realisasi dengan penuh kesungguhan
Kita bebas berccita-cita dan berkeinginan
Tapi kita hanya punya satu jalan mewujudnya
Dengan kerja nyata yang dilapisi kesungguhan

Jum'at, Ba'da Qiyamullail


Jumat, 06 Januari 2012

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Jalan

By : Ariyanti Ammara
Seorang anak ditanya, kamu gak pulang?”
“Belum. Belum tau ni kapan sempatnya. Masih ada amanah yang belum diselesaikan.”
Jika kita renungi kalimat yang terlontar sebagai jawaban di atas, maka akan terasa bagaimaa rasa kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya. Ada lagi kalimat seorang anak, “Sebenarnya aku mau di sini saja (di kota, jauh dari orang tua). Cuma kasihan orang tuaku. Mereka hanya berdua di rumah. Saudara-saudaraku sedang liburan. Dan mereka menginginkan aku pulang..”


Sebuah kalimat yang sekilas terkesan sebagai anak yang berbakti. Namun bila dihayati lagi, pernyataan itu seperti sebuah pernyataan karena paksaan. Bukan karena rasa rindu dan cinta yang membuncah, namun lebih dikarenakan rasa kasihan dan tuntutan untuk berbuat baik dan menuruti kemauan orang tua.
Sangat kontras jika kita bandingkan dengan cinta kasih orang tua kepada anaknya. Sedari di dalam kandungan, orang tua senantiasa menantikan kehadiran buah hatinya untuk lahir ke dunia.

Setiap malam ia mengusap-usap perutnya dengan sayang. Di setiap habis sholatya tak luput ia mendoakan akan keselamatan, kesehatan dan kesholehan anak yang tengah bersemedi dalam rahimnya. Di setiap hela nafasnya, selalu terselip harapan-harapan yang besar untuk calon mujahid/mujahidahnya.
Setiap detik, menit, jam, hari dan bulan yang berlalu, semakin bertambah beban yang ia bawa. Kemanapun ia melangkah. Tidur, masak, makan, menyapu, mencuci, belanja, dan lain sebagainya. Tidak pernah sedetikpun ia meninggalkan kita. Ia tak pernah mengeluh, tak pernah merasa kelelahan. Andaipun rasa lelah dan letih itu ada, ia akan segera sirna dengan harapan yang senatiasa menyeruak dalam dada. Harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Saat kita memasuki usia sembilan bulan, semakin terasalah rasa berat yang ibu tanggung. Semakin sering perut terasa sakit. Dan saat-saat mendebarkan itupun semakin mendekat. Waktunya semakin dekat.
Perih yang terasa semakin menjadi. Sakit sekali. Saat itu ia mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan kita. Tak peduli lagi ia akan sakit yang didera. Saat itu semua otot terasa putus.

Namun, ketika terdengar tangis memecah suasana yang mencekam itu, segala sakit dan nyeri mendadak sirna. Hilang begitu saja berganti dengan kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Laksana pelangi yang muncul setelah badai.
Lalu sampai dua tahun lamanya, ibu menyusui kita. Menggendong kita kemana pun kita mau. Bahkan tak jarang, ketika kita sedang sakit, ibu menggendong kita semalaman. Berjaga semalaman demi menjaga kita. Matanya tak kan berhenti sedetikpun menjaga kita. Tak kan mungkin rela ia jika anaknya sakit, meskipun hanya disentuh oleh seekor nyamuk. Terlebih lagi saat kita harus menjalani sakit. Ibu iba-tiba terjaga dari tidurnya. Tergagap dan segera memeriksa keadaan kita. Menyentuh dengan lembut dahi kita, leher kita, merasakan apakah tubuh kita masih panas atau tidak. Kemudian perlahan mencium kening kita.

Memandangi kita untuk sekian detik lamanya. Mengusap-usap wajah kita dan menyenandung lirih doa-doa untuk kesembuhan dan kesehatan kita. Saat itu, perhatian Ibu tumplek blek pada kita. Lalu ibu beranjak sholat, dan di akhir sholatnya ia menengadahkan tangan dan lirih mengucapkan doa. Saat itu, puluhan bahkan mungkin ratusan doa menari dan berpilin naik ke angkasa .
Menginjak usia 4 tahun, ia mulai mengantarmu tiap pagi ke sekolah. Menungguimu di hari-hari pertama dan bertanya pada gurumu tentang perkembanganmu. Begitu sampai bertahun-tahun kemudian. Hingga sampai engkau menginjak bangku sekolah menengah pertama.

Saat itu kau mulai mengenal dunia luar. Menganggap dirimu sudah remaja. Menyukai lawan jenismu. Ketika itu engkau mulai menjauh dari ibumu. Begitu juga ketika engkau menginjak bangku SMA. Engkau mulai pulang malam dan ketika ibu bertanya darimana, engkau menjawabnya dengan “Ah, ibu mau tau saja urusan orang.”
Dan kini, engkau sudah berada di bangku kuliah. Pertama mengantarkanmu ke kota, ia menahan tangisnya agar tak jatuh ketika melepasmu. Di setiap malam ketika kau tak di rumah, ia tetap setia melantunkan doa-doanya tiap malam. Berharap akan keselamatanmu. Memohon akan tercapainya cita-citamu. Berharap pada-Nya agar mengabulkan segala pintamu dan mewujudkan segala cita-citamu.

“Ya Allah, jagalah anak-anakkku, wujudkanlah cita-citanya, ya Allah.”
Meskipun ibu tak tahu apa yang kita cita-citakan, namun ia senentiasa mendoakan kita. Bukan. Bukan karena ia tak peduli apa yang kita cita-citakan. Namun karena ia ingin melepaskan angan-anagn masa depan kita sesuai harapan dan mimpi kita sendiri. Harapan itu tidak akan pernah berhenti dalam doanya.

Ketika kita jauh dari ibu karena harus menyelesaikan studi, ia tak akan pernah mau untuk menganggu kosentrasi kuliah kita. Ia senantiasa paham bahwa apa yang kita lakukan di kota adalah suatu kebaikan. Karenanya ia tak akan pernah memaksa kita untuk pulang, serindu apapun ia pada kita. Ia selalu bisa menutupi perasaannya ketika kita mengatakan, ”ma’af ya, Bu. Aku belum bisa pulang.” Ia mengesampingkan perasaannya sendiri kala itu. Ia paham, benar-benar paham, bahwa kita sibuk. Sibuk dengan urusan kita. Sibuk dengan kuliah, sibuk dengan amanah. Tapi, bukankan berbakti pada orang tua adalah kewajiban??

Bahkan ketika liburan telah tiba, kita tak juga kunjung pulang. Ketika itu, ia sangat merindukamu. Sangat merindukamu. Bahkan ketika ia menelponmu, engkau katakan (lagi), “ma’af bu, aku belum bisa pulang lagi. Masih ada amanah yang harus diselesaikan.” Dan setelah itu, ia menutup telponnya dengan senyum getir. Lagi-lagi ia harus mengerti.

Sahabatku, saudaraku, orang tua kita pasti tidak akan pernah memaksa kita untuk pulang, untuk hanya sekedar makan bersama atau menonton TV bersama. Ia juga tidak akan pernah marah ketika kita katakan belum punya waktu untuk pulang. Tidak. Ia tidak aka pernah marah. Engkau tahu kenapa?? Karena ia selalu bisa mengerti. Karena ia selalu bisa mengerti.

Namun, pengertiannya yang begitu besar belum tentu bisa menutup rasa sedih dalam hatinya. Ia mengerti, namun bukan berarti ia tak sedih. Ia tersenyum melihat kita hidup bahagia, menggapai cita-cita, namun bukan berarti ia tak berharap dapat bersama lagi dengan kita. Bahkan, ia hanya mengharap sedikit saja perhatian dan kasih sayang kita untuknya. Untuk hanya sekedar melepaskan rindu dan mengenang kebersamaan dulu. Mengenang kebersamaan saat kecil dahulu. Ia akan sangat bahagia memandangi anaknya yang sudah semakin dewasa.

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,……..( Q.S Al An'aam: 151)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. (Q.S Al Israa': 23)

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabuut: 8)

Semoga kita bisa menyeimbangkan antara amanah dan orang tua kita. Amin.

Habiburrahman El Shirazy


Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 35 tahun) adalah Novelis No. 1 Indonesia (dinobatkan oleh INSANI UNIVERSITAS DIPONEGORO (UNDIP) Semarang). Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair.

Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem.

Pendidikan


Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.


Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Kang Abik pernah memimpin kelompok kajian MISYKATI (Majelis Intensif Yurisprudens dan Kajian Pengetahuan Islam) di Kairo (1996-1997). Pernah terpilih menjadi duta Indonesia untuk mengikuti "Perkemahan Pemuda Islam Internasional Kedua" yang diadakan oleh WAMY (The World Assembly of Moslem Youth) selama sepuluh hari di kota Ismailia, Mesir (Juli 1996). Dalam perkemahan itu, ia berkesempatan memberikan orasi berjudul Tahqiqul Amni Was Salam Fil ‘Alam Bil Islam (Realisasi Keamanan dan Perdamaian di Dunia dengan Islam). Orasi tersebut terpilih sebagai orasi terbaik kedua dari semua orasi yang disampaikan peserta perkemahan tersebut. Pernah aktif di Mejelis Sinergi Kalam (Masika) ICMI Orsat Kairo (1998-2000). Pernah menjadi koordinator Islam ICMI Orsat Kairo selama dua periode (1998-2000 dan 2000-2002). Sastrawan muda ini pernah dipercaya untuk duduk dalam Dewan Asaatidz Pesantren Virtual Nahdhatul Ulama yang berpusat di Kairo. Dan sempat memprakarsai berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kairo.
[sunting] Selama di Indonesia

Setibanya di tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, (Juni 2003). Ia juga diminta menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedia Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya, (terdiri atas tiga jilid ditebitkan oleh Diva Pustaka Jakarta, 2003).

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta.

Kini novelis tersebut tinggal di kota Salatiga. Aktivitas kesehariannya lebih banyak digunakan untuk memenuhi undangan mengisi seminar dan ceramah, di samping juga menulis novel yang menjadi pekerjaan utamanya dan sesekali menulis skenario sinetron untuk Sinemart (sebuah rumah produksi yang menaungi karya-karyanya di dunia perfilman dan persinetronan).
[sunting] Prestasi

Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994). Ia juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.

Dari novelnya yang berjudul "Ayat-ayat Cinta" dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.

Karya-karyanya

Selama di Kairo

Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul 'Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYKATI Kairo, 1998). Berkesempatan menjadi Ketua TIM Kodifikasi dan Editor Antologi Puisi Negeri Seribu Menara Nafas Peradaban (diterbitkan oleh ICMI Orsat Kairo)


Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah Ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), dan Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004).

Karya puisi

Sebelum pulang ke Indonesia, di tahun 2002, ia diundang Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia selama lima hari (1-5 Oktober) untuk membacakan pusinya dalam momen Kuala Lumpur World Poetry Reading ke-9, bersama penyair-penyair negara lain. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi Dunia PPDKL (2002) dan Majalah Dewan Sastera (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu. Bersama penyair negara lain, puisi kang Abik juga dimuat kembali dalam Imbauan PPDKL (1986-2002) yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (2004).
Karya sastra populer

Beberapa karya populer yang telah terbit antara lain, Ketika Cinta Berbuah Surga (MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Republika, 2005), Ayat-Ayat Cinta (Republika-Basmala, 2004), Diatas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Bertasbih (Republika-Basmala, 2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Republika-Basmala, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta (Republika-Basmala, 2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, dan Dari Sujud ke Sujud (kelanjutan dari Ketika Cinta Bertasbih).

Karya film


Sebagai sutradara Kang Abik mengawali debutnya dengan film Dalam Mihrab Cinta yang diangkat dari novelnya dengan judul yang sama.

SUMBER :http://id.wikipedia.org/wiki/Habiburrahman_El_Shirazy

Rabu, 04 Januari 2012

Pembelajar Sejati

By : Akhiarden KPK
Sesungguhnya samudera ilmu di dunia ini teramat luas untuk diselami.Hujan-hujan ilmu pengetahuan juga senantiasa mengucur deras dari langit hikmah.Embun-embun petunjuk dapat senantiasa dinikmati setiap harinya untuk menghilangkan kegersangan pikiran kita

Cahaya-cahaya ilmu tersedia tanpa batas buat menerangi kegelapangan pemahaman kita.Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi pembelajar sejati.Pembelajar yang dapat mengobati kerinduannya akan ilmu pengetahuan.Pembelajar yang menyenangi proses dan upaya meningkatkan kualitas diri.Memperbanyak mencari tahu tentang apa saja yang belum diketahuinya.Memilki semangat pantang menyerah sebelum ilmu yang diingini dikuasai.Bersabar jalani proses-prosesnya.Rendah hati dalam menjalaninya.Meskipun yang menyampaikan ilmu kepada nya seorang anak yang muda usia.Pembelajar sejati,belajar dari siapa saja.

Belajar Hingga Nafas Terhenti

Ada sebuah kisah menarik dari seorang yang bernama Abu Ar Raihan,seorang ahli falak,sejarawan sekaligus sastrawan.Abu Ar Raihan sakit keras ditengah usianya mencapai 78 tahun.kala itu nafasnya terdengar mengorok ditenggorokan dan beliau terlihas susah bernafas.Dalam keadaan demikian,beliau mengatakan kepada Al Walwaji,seorang seorang fakih dimasanya sekaligus sahabatnya.”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari,mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?”

“Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas masalah itu)? Jawab Al Walwaji menaruh belas kasihan.”Wahai Al Walwaji saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini,lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya.”

Akhirnya Al Walwaji mengulang apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya kepada Abu Raihan.Dan beliau menghafalnya.Tidak lama kemudian Al Walwaji keluar,dan saat dijalan beliau mendengar teriakan yang mengabarkan kepergian sahabatnya itu.Abu Raihan telah wafat dalam keadaan menghafalkan ilmu.Sebuah episode akhir kehidupan yang mengagumkan.

Kisah diatas mengajarkan kita tentang aktivitas pembelajar sejati yang sangat mengagumkan,bahkan ketika detik-detik menjemput kematian pun masih dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan menguasainya.Tarbiyah Madal Hayah.Belajar hingga menutup mata.

Rasulullah SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan didunia ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir.Seandainya besok kita tahu akan datang kiamat pun,kita mesti belajar dan menanami pohon-pohon kebaikan sebanyak-banyaknya.Artinya kita harus mengambil manfaat dan menyebarkan manfaat dari siapapun dan kepada siapapun.Seperti Abu Raihan,jauh lebih indah meninggalkan dunia ini dalam keadaan mengetahui jawaban dari sesuatu daripada membawa rasa penasaran yang tak terjawab ke liang lahat.

Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya


Pembelajar sejati adalah mereka yang senantiasa melewati perputaran usianyanya untuk menambah ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan.Mereka tak pernah menyerah sebelum ilmu yang diinginkannya berhasil dikuasai. Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya.Namanya Muhammad bin Sahnun (256 H).

Dia adalah orang yang senantiasa menyibukkan waktunya untuk membaca,menelaah ilmu dan menulis.Aktivitas itu dia lakukan hingga larut malam.Mengetahui majikannya sibuk,pembantunya yang biasa dipanggil ummu Mudam menyediakan makanan,lalu mempersilahkan Sahnun untuk makan.Akan tetapi Sahnun hanya menjawab,saya sedang sibuk”.Dia tetap asyik dengan tulisan dan sedikitpun tidak menyentuh makanan yang disediakan.Hal itu mendorong Ummu Mudam berinisiatif menyuapkan makanan itu kemulut sang majikan.Suapan demi suapan ia berikan hingga makanan itu tandas.Saat Adzan shubuh berkumandang,kepada pembantunya Sahnun mengatakan,saya telah menyibukanmu tadi malam,Wahai Ummu Mudam.Sekarang mana makanan itu?”.Pembantu itu menjawab,”Demi Allah wahai Tuan,saya telah menyuapkannya kepada anda.”Sahnun heran,”saya tidak merasa.”

Kisah diatas menggambarkan kepada kita,bahwa pembelajar sejati sangat pelit dengan waktunya,bahkan untuk makan sekalipun.Keasyikannya menelaah ilmu membuatnya seakan-akan melupakan aktivitas yang lain.Waktu baginya moment-moment yang sangat berharga dalam mengaharungi samudera ilmu.Waktu adalah harta teramat mahal baginya untuk senantiasa dibelanjakan pada warung-warung ilmu dimanapun dia menjumpaianya.Waktu baginya adalah pedang yang setiap saat siap memenggal umurnya.Oleh karena itu ia akan senantiasa memanfaatnya untuk aktivitas mencari ilmu,menelaah,mengajarkan dan mewariskannya.

Hidup yang sesekali didunia ini harus disisi dengan aktivitas positif dan produktif.Ia harus disisi dengan belajar.Jangan pernah sia-siakan waktu tanpa belajar.Belajarlah dari kisah Sulaim bin Ayyub ar Ra-zi.Ia adalah pembelajar sejati yang sangat menghargai waktu.Ia tidak mau membiarkan waktu yang dimiliki berlalu barang sebentar tanpa ada gunanya sama sekali.Ia biasa gunakan untuk menulis,belajar,membaca,dan seterusnya.

Suatu saat Sulaim bin Ayyub datang kerumah muridnya,Syeikh Abu Faraj Al-Isfirayini.Ketika hendak pamit karena telah selesai keperluannya,Sulaim bin Ayyub berkata,”Dalam perjalananku kesini tadi aku berhasil membaca satu juz.”Suatu hari yang lain Sulaim terlihat memperbaiki penanya yang patah ketika sedang dipakai untuk menulis,sementara sepasang bibirnya bergerak-gerak.Rupanya sambil memperbaiki penanya yang patah,Sulaim juga melakukan aktivitas membaca.

Ada juga kisah hebat pembelajar sejati bernama Ibnu Aqil Al Hanbali.Saya meringkas semaksimal mungkin waktu makan.Hingga saya memilih roti kering yang dicelup air dibanding khubz (roti lembab),karena perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk mengunyahnya.”

Jika waktu mengunyah saja amat diperhitungkan oleh Ibnu Aqil,tentu untuk perbuatan lain yang memakan waktu lebih lama akan dia perhatikan.Sekarang mari tanyakan kepada diri kita.Sudahkah kita memaksimalkan perputaran roda hari dalam kehidupan ini untuk belajar? Sudahkah waktu luang yang kita miliki digunakan untuk meningkatkan pengetahuan kita.Atau waktu luang itu kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia.Ngerumpi tanpa juntrungan,menonton tanpa kenal waktu,atau bahkan diisi dengan melamunkan sesuatu yang tak jelas.

Pembelajar sejati tak rela hujan ilmu pengetahuan yang mengucur dari langit hikmah tak ditadahnya kedalam relung-relung pikirannya.Setiap harinya dia akan menyelam di samudera ilmu dan berenang di kolam pengetahuan.Dia akan sibak kegelapan pikirannya dengan menggenggam cahaya ilmu yang disediakan mentari.
Menggandakan kesabaran

Seringkali selama proses belajar kita mendapatkan banyak tantangan dan godaan untuk menghentikan aktivitas belajar.Kita pun juga sering dihantui oleh perasaan putus asa akan kemampuan kita untuk menguasai ilmu yang sedang dipelajari.Ketahuilah pembelajar sejati senantiasa menggandakan kesabarannya.Melewati deraian-deraian air mata ujian dengan rasa optimis yang senantiasa membumbung tinggi.Tak akan menyerah sebelum apa yang diinginkan tergapai.

Imam Syafi’i pernah mengungkapkan”Tidak mungkin menuntut ilmu bagi orang yang pembosan dan sering berubah pikiran,serta merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya.Akan tetapi menuntut ilmu itu harus dengan menahan diri,kesempitan hidup,dan berkhidmat untuk ilmu tersebut.Pasti ia akan beruntung.”

Kenal dengan Prof.Dr.Ing.Bacharuddin Jusuf Habibie? Pastinya kita kena semua mengenalnya.Maestro dunia penerbangan dan teknologi dari Indonesia ini lahir di Pare-Pare,Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1939.Ia dikenal sabar dan tekun dalam menuntut ilmu.Setelah sempat kuliah di ITB Bandung (1954-1955).Beliau memperoleh beasiswa ke Jerman.Atas saran Prof M.Yamin dan ucapan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan teknologi penerbangan,akhirnya ia memutuskan mengambil jurusan pesawat terbang.

Di Jerman,Habibie nyaris tak punya waktu santai.Ia terus belajar dan bekerja dengan tekun.Kuliah yang berat harus ditambah dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.Maklum ongkos sehari-hari dan uang kuliah dibayar orang tuanya sendiri.Kadang seharian ia hanya makan beberapa keeping roti.Di Jerman,mantan presiden RI ke-3 ini,hidup dengan kondisi yang sangat sederhana.

Kondisi itu memompa semangatnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya.Pada masa liburan dia tetap belajar.Hasilnya dalam waktu empat tahun dia berhasil menggondol gelar insinyur Dipl.Ing (Diploma Ingineur) dengan nilai akademik rata-rata 9,5 (summa cumlaude) pada usia 24 tahun.Prestasi itu dia peroleh dengan tetap aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan.

Belajar dari Habibi,Prestasi lahir dari kemampuan untuk bertahan.Menggandakan kesabaran ditengah kesulitan-kesulitan yang datang.Seorang pembelajar sejati akan merasakan bunga-bunga kesuksesan setelah dia mampu bertahan menyirami bunga-bunga itu dengan kegigihan-kegigihan tak berkesdudahan.



Pembelajr Sejati Tinggalkan kampung halaman

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam dikampung halaman.Tinggalkan negerimu dan merantaulah kenegeri orang.Merantaulah,kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.Berlelah-lelahlah,manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.Jika mengalir menjadi jernih,jika tidak,kan keruh menggenang.Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam,tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.Bijih besi bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika didalam hutan
(Imam Syafi’i)


Tak ada pembelajar sejati yang mengurung diri dikampung halamannya.Pembelajar sejati adalah pengembara yang selalu ingin mengobati dahaganya akan ilmu pengetahuan.Imam Bukhari,Shahih Bukharinya diselesaikan selama enam belas tahun setelah berkeliling mencari hadist dari satu kota ke kota lainnya.Dari satu Negara ke Negara lainnya.Enstein juga meraih puncak kejayaannya setelah meninggalkan Jerman menuju Amerika Serikat.

Habibi meraih prestasi mengagumkan karena meninggalkan tanah kelahirannya.Andrea Hirata menjelajahi dunia karena kesungguhannya dalam belajar dan kemauan yang keras mengubah nasib.Menyeberangi ganasnya terjangan ombak,meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang tak ada sanak saudara.Mengatasi kesulitan-kesulitan hidup.Akhirnya namanya harum menjadi penulis buku mega best seller Indonesia.Ibnu Batutah penjelajah dunia,namanya harum karena meninggalkan kampong halaman.Belajar dari universitas kehidupan yang ditemuinya dimanapun dia menjejakkan kakinya.Masih banyak contoh para pembelajar sejati lainnya yang tak kan cukup berlembar-lembar tulisan menjelaskannya.Satu yang pasti,mereka semuanya adalah para pengembara,para musafir,para penjelajah,para hunter yang meninggalkan kampong halaman,menggapi cita-cita dan menggenapi keinginannya menguasai ilmu pengetahun.

Pembelajar sejati,

tak pernah mau mati sebelum rasa penasarannya terobati
tak pernah mau menyerah akan kesulitan-kesulitan yang menggerogoti
tak pernah mau bermimpi yang tidak akan direalisasi



Kalkulasi Amal dan Dosa

By : Akhiarden KPK


Hidup adalah sebuah kompetisi antara memilih menjadi manusia pengabdi atau pembangkang.Setiap hari menghadirkan tawaran mengerjakan kebaikan atau keburukan.Memang kita berbeda dengan malaikat yang selalu taat.Kita juga berbeda dengan iblis yang selalu membangkang. Kita bebas memilih menjadi taat atau sebaliknya.Setiap apa yang kita pilih selalu menghadirkan catatan-catatan.Ketika memilih melakukan dosa dan kemaksiatan,maka ada malaikat Atid yang istiqomah menuliskan catatan dosa tersebut .

Ketika memilih mengerjakan kebaikan maka ada malaikat Raqib yang tidak pernah tidur mencatatnya. Semua yang kita pilih menghadirkan konsekuensi amal dan dosa,sekecil apapun. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Seandainya sudah 20 tahun umur kehidupan kita didunia ini.Maka kita telah menghabiskan jatah hidup sebanyak 7.300 hari lamanya.Kemudian kita kurangi saat kita belum baligh (beleum diperhitungkan dicatatan dosa atau amal),misalnya dari 0 tahun-10 tahun.Berarti ada 10 X 365 hari= 3650 hari hari dimana ada catatan dosa dan amal dari yang kita lakukan.

Kalau kita melakukan dosa hanya satu setiap harinya,maka kita telah memiliki catatan dosa sebanyak 3650 kali . Padahal setiap hari kehidupan kita tidak pernah terlepas dari godaan dan rayuan maut syaitan durjana.Dia goda kita dengan memandang yang haram,mengingkari janji, menggibahi saudara,mengucapkan kata-kata yang menyakiti,membantah perintah orang tua,riya dengan amal yang dilakukan dan tawaran lain yang menjauhkan kita dari Allah.Lalu seandainya kita setiap harinya melakukan 5 perbuatan dosa,maka kita telah memilkiki catatan raport dosa sebanyak 31.750 kali.

Sekarang mari kita bandingkan dengan amal kebaikan kita.Misalnya sholat wajib yang kita lakukan sebanyak 5 kali dalam satu hari.Artinya amal kebaikan kita dari sholat wajib saja setiap harinya telah cukup mengimbangi dosa yang kita lakukan,sebanyak 10 tahun x 365 hari x 5 = 31.750 kali. Pertanyaannya dari sholat yang kita lakukan tersebut apakah kita bisa menjamin semuanya diterima Allah? Coba ingat bagimana kualitas sholat yang kita lakukan? Apakah dalam sholat yang kita lakukan kita telah benar-benar mengingat Allah.Betapa banyak kita tidak khusuk dalm sholat.Betapa banyak saat sholat kita memikirkan yang lain.Memikirkan pekerjaan yang belum selesai,memikirkan bagaimana cara menyelesaikan tugas yang sulit,memikirkan dimana dan bagaimana menemukan barang yang hilang.Betapa banyak sholat kita dilandasi keinginan dipuji dan disanjung manusia.Kalau sudah seperti ini apakah sholat kita bakalan diterima?

Ketahuilah Allah hanya menerima ibadah hambaNya yang Ikhlas.Kalau sholat yang merupakan tiang agama dan amal pertama yang dihisab di akhirat nanti saja kualitasnya diragukan,rasa-rasanya kita tidak perlu capek-capek mengkalkulasikan kebaikan yang lain.Sementara dosa yang kita lakukan setiap harinya pasti selalu diperhitungkan.Bagaimana kalau kita bertobat setelah melakukan dosa? Bukankah taubat kita mengurangi atau menghapus catatan dosa kita?

Memang benar taubat menghapus catatan dosa kita. Tapi coba kita tanya kepada diri kita sendiri.”Apakah kita benar-benar tulus bertobat kepada Allah atas dosa yang kita lakukan? Betapa banyak kita yang bertobat,yang kumat melakukan dosa itu lagi.Betapa banyak taubat kita hanya sebatas dibibir saja,tidak diikuti dengan tobat dihati dan perilaku kita. Kalau sudah tobat seperti ini,apakah catatan dosa itu terhapus? Sekali lagi dapatkah kita menjamin taubat kita diterima?

Belum lagi ditambah perilaku kita yang sering menganggap remeh dosa kecil.

“Suatu hari Rasulullah melakukan perjalanan bersama sahabat-sahabatnya di sebuah daerah yang dipenuhi dengan hamparan pasir,tak ada satupun pepohonan yang tumbuh ditempat mereka berhenti.Sesaat setelah mereka istirahat melepas lelah,Rasulullah memerintahkan sahabat untuk mengumpulkan ranting.Mendengar perintah tersebut,sahabat bertanya,”Wahai Rasulullah,mana ade ranting di gurun ni? Rasulullah menjawab,carek dan kumpolkan jaklah! Kemudian setelah 3 kali ditanya dan mendapatkan jawaban yang sama para sahabat akhirnya melakukan perintah tersebut.Ternyata hasilnya sungguh diluar dugaan,terkumpul begitu banyak ranting dari daerah gurun pasir yang tak ada satupun pohon tumbuh disana. Setelah ranting tersebut terkumpul,Rasulullah mengumpulkan sahabat untuk mengelilingi ranting tersebut dan memberikan pesan agungnya,”Wahai sahabatku,begitulah dengan dosa kecil yang kita lakukan,tidak tampak secara kasat mata,tapi ketika dikumpulkan akan menjadi banyak,”

Jangan pernah remehkan aktivitas dosa yang dilakukan sekecil apapun.Lama-kelamaan dosa itu akan menjadi banyak.Menghasilkan bintik-bintik hitam di qalbu kita.Semakin banyak bintik tersebut bercokol di qalbu,semakin hitamlah hati kita.Semakin sulitlah kita menerima cahaya kebenaran.Semakin malaslah kita melakukan amal kebaikan.Kalau sudah seperti ini,layakkah kita menikmati surgaNya?


Coba kita perhatikan dialog berikut!

Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 6 tahun,
Ibu : “Kamu nanti kalau sudah besar mau jadi apa nak?”
Dengan semangatnya sang anak menjawab,
Anak : “Aku mau jadi polwan bu.”
Dengan tegas ibunya menjawab,
Ibu : “Tidak boleh!”
Si anak merasa heran lalu mengganti jawabannya,
Anak : “Kalau tidak boleh, aku mau jadi peragawati saja bu.”
Kini si ibu semakin marah,
Ibu : “Apa-apaan kamu, masa mau jadi peragawati. Tidak boleh!”
Si anak mulai merasa takut, lalu menjawab dengan gemetar,
Anak : “Kenapa semua tidak boleh bu, apa aku cuma boleh jadi ibu rumah tangga saja?”
Si ibu sekarang tidak marah lagi, namun ia menangis dan memeluk anaknya dan berkata,
Ibu : …………………………..?

Kira-kira apa yang akan dikatakan ibu kepada anaknya dalam space kosong DIALOG diatas? Kenapa ibu itu menangis dan tidak membolehkan semua cita-cita yang diinginkan anaknya. Padahal kalau kita perhatikan cita-cita tersebut tampak gak ada yang aneh dan biasa-biasa saja. Umum dicita-citakan kebanyakan orang.Ternyata jawabannya sederhana”karena kau lelaki anakku”.

Sahabat,dialog diatas mengajarkan kita untuk hidup sesuai dengan apa yang diinginkan pencipta kita.Sesuai garis kebiasaan dan kodrat kita,” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(Adzariyat:56).

Kalau kehadiran kita di dunia ini untuk beribadah maka kenapa kita malah ingin menjadi ahli maksiat? Ingat setiap yang kita pilih pasti akan melahirkan konsekuensi dan tanggungjawab. Mari kita cerdas mengkalkulasikasikan jumlah dosa dan kebaikan yang kita lakukan setiap harinya.Let’s kita minimalkan dosa,sebaliknya kita tingkatkan kuantitas dan kualitas pengabdian kita kepada Allah SWT.Selagi masih ada kesempatn!

SUMBER: akhiarden-sardini.blogspot.com


ANDREA HIRATA

Andrea Hirata Seman Said Harun lahir di pulau Belitung 24 Oktober 1982, Andrea Hirata sendiri merupakan anak keempat dari pasangan Seman Said Harunayah dan NA Masturah. Ia dilahirkan di sebuah desa yang termasuk desa miskin dan letaknya yang cukup terpelosok di pulau Belitong. Tinggal di sebuah desa dengan segala keterbatasan memang cukup mempengaruhi pribadi Andrea sedari kecil. Ia mengaku lebih banyak mendapatkan motivasi dari keadaan di sekelilingnya yang banyak memperlihatkan keperihatinan. Nama Andrea Hirata sebenarnya bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuanya. Sejak lahir ia diberi nama Aqil Barraq Badruddin. Merasa tak cocok dengan nama tersebut, Andrea pun menggantinya dengan Wadhud. Akan tetapi, ia masih merasa terbebani dengan nama itu. Alhasil, ia kembali mengganti namanya dengan Andrea Hirata Seman Said Harun sejak ia remaja.

“Andrea diambil dari nama seorang wanita yang nekat bunuh diri bila penyanyi pujaannya, yakni Elvis Presley tidak membalas suratnya,” ungkap Andrea.

Sedangkan Hirata sendiri diambil dari nama kampung dan bukanlah nama orang Jepang seperti anggapan orang sebelumnya. Sejak remaja itulah, pria asli Belitong ini mulai menyandang nama Andrea Hirata. Andrea tumbuh seperti halnya anak-anak kampung lainnya. Dengan segala keterbatasan, Andrea tetap menjadi anak periang yang sesekali berubah menjadi pemikir saat menimba ilmu di sekolah. Selain itu, ia juga kerap memiliki impian dan mimpi-mimpi di masa depannya.

Seperti yang diceritakannya dalam novel Laskar Pelangi, Andrea kecil bersekolah di sebuah sekolah yang kondisi bangunannya sangat mengenaskan dan hampir rubuh. Sekolah yang bernama SD Muhamadiyah tersebut diakui Andrea cukuplah memperihatinkan. Namun karena ketiadaan biaya, ia terpaksa bersekolah di sekolah yang bentuknya lebih mirip sebagai kandang hewan ternak. Kendati harus menimba ilmu di bangunan yang tak nyaman, Andrea tetap memiliki motivasi yang cukup besar untuk belajar. Di sekolah itu pulalah, ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang dijuluki dengan sebutan Laskar Pelangi.

Di SD Muhamadiyah pula, Andrea bertemu dengan seorang guru yang hingga kini sangat dihormatinya, yakni NA (Nyi Ayu) Muslimah.

“Saya menulis buku Laskar Pelangi untuk Bu Muslimah,” ujar Andrea dengan tegas kepada Realita.

Kegigihan Bu Muslimah untuk mengajar siswa yang hanya berjumlah tak lebih dari 11 orang itu ternyata sangat berarti besar bagi kehidupan Andrea. Perubahan dalam kehidupan Andrea, diakuinya tak lain karena motivasi dan hasil didikan Bu Muslimah. Sebenarnya di Pulau Belitong ada sekolah lain yang dikelola oleh PN Timah. Namun, Andrea tak berhak untuk bersekolah di sekolah tersebut karena status ayahnya yang masih menyandang pegawai rendahan. “Novel yang saya tulis merupakan memoar tentang masa kecil saya, yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang,” tutur Andrea yang memberikan royalti novelnya kepada perpustakaan sebuah sekolah miskin ini.

Tentang sosok Muslimah, Andrea menganggapnya sebagai seorang yang sangat menginspirasi hidupnya. “

Perjuangan kami untuk mempertahankan sekolah yang hampir rubuh sangat berkesan dalam perjalanan hidup saya,” ujar Andrea.

Berkat Bu Muslimah, Andrea mendapatkan dorongan yang membuatnya mampu menempuh jarak 30 km dari rumah ke sekolah untuk menimba ilmu. Tak heran, ia sangat mengagumi sosok Bu Muslimah sebagai salah satu inspirator dalam hidupnya. Menjadi seorang penulis pun diakui Andrea karena sosok Bu Muslimah. Sejak kelas 3 SD, Andrea telah membulatkan niat untuk menjadi penulis yang menggambarkan perjuangan Bu Muslimah sebagai seorang guru. “Kalau saya besar nanti, saya akan menulis tentang Bu Muslimah,” ungkap penggemar penyanyi Anggun ini. Sejak saat itu, Andrea tak pernah berhenti mencoret-coret kertas untuk belajar menulis cerita.

Andrea Hirata, Biografi, novelis, penulis

Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, Andrea lantas memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta selepas lulus SMA. Kala itu, keinginannya untuk menggapai cita-cita sebagai seorang penulis dan melanjutkan ke bangku kuliah menjadi dorongan terbesar untuk hijrah ke Jakarta. Saat berada di kapal laut, Andrea mendapatkan saran dari sang nahkoda untuk tinggal di daerah Ciputat karena masih belum ramai ketimbang di pusat kota Jakarta. Dengan berbekal saran tersebut, ia pun menumpang sebuah bus agar sampai di daerah Ciputat. Namun, supir bus ternyata malah mengantarkan dirinya ke Bogor. Kepalang tanggung, Andrea lantas memulai kehidupan barunya di kota hujan tersebut.

Beruntung bagi dirinya, Andrea mampu memperoleh pekerjaan sebagai penyortir surat di kantor pos Bogor. Atas dasar usaha kerasnya, Andrea berhasil melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Merasakan bangku kuliah merupakan salah satu cita-citanya sejak ia berangkat dari Belitong. Setelah menamatkan dan memperoleh gelar sarjana, Andrea juga mampu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 Economic Theory di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, Inggris.

Berkat otaknya yang cemerlang, Andrea lulus dengan status cum laude dan mampu meraih gelar Master Uni Eropa. Sekembalinya ke tanah air, Andrea bekerja di PT Telkom tepatnya sejak tahun 1997. Mulailah ia bekerja sebagai seorang karyawan Telkom. Kini, Andrea masih aktif sebagai seorang instruktur di perusahaan telekomunikasi tersebut. Selama bekerja, niatnya menjadi seorang penulis masih terpendam dalam hatinya. Niat untuk menulis semakin menggelora setelah ia menjadi seorang relawan di Aceh untuk para korban tsunami. “Waktu itu saya melihat kehancuran akibat tsunami, termasuk kehancuran sekolah-sekolah di Aceh,” kenang pria yang tak memiliki latarbelakang sastra ini.

Kondisi sekolah-sekolah yang telah hancur lebur lantas mengingatkannya terhadap masa lalu SD Muhamadiyah yang juga hampir rubuh meski bukan karena bencana alam. Ingatan terhadap sosok Bu Muslimah pun kembali membayangi pikirannya. Sekembalinya dari Aceh, Andrea pun memantapkan diri untuk menulis tentang pengalaman masa lalunya di SD Muhamadiyah dan sosok Bu Muslimah. “Saya mengerjakannya hanya selama tiga minggu,” aku pria yang berulang tahun pada 24 Oktober ini.

Naskah setebal 700 halaman itu lantas digandakan menjadi 11 buah. Satu kopi naskah tersebut dikirimkan kepada Bu Muslimah yang kala itu tengah sakit. Sedangkan sisanya dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya dalam Laskar Pelangi. Tak sengaja, naskah yang berada dalam laptop Andrea dibaca oleh salah satu rekannya yang kemudian mengirimkan ke penerbit.

Bak gayung bersambut, penerbit pun tertarik untuk menerbitkan dan menjualnya ke pasar. Tepatnya pada Desember 2005, buku Laskar Pelangi diluncurkan ke pasar secara resmi. Dalam waktu singkat, Laskar Pelangi menjadi bahan pembicaraan para penggemar karya sastra khususnya novel. Dalam waktu seminggu, novel perdana Andrea tersebut sudah mampu dicetak ulang. Bahkan dalam kurun waktu setahun setelah peluncuran, Laskar Pelangi mampu terjual sebanyak 200 ribu sehingga termasuk dalam best seller. Hingga saat ini, Laskar Pelangi mampu terjual lebih dari satu juta eksemplar.

Penjualan Laskar Pelangi semakin merangkak naik setelah Andrea muncul dalam salah satu acara televisi. Bahkan penjualannya mencapai 20 ribu dalam sehari. Sungguh merupakan suatu prestasi tersendiri bagi Andrea, terlebih lagi ia masih tergolong baru sebagai seorang penulis novel. Padahal Andrea sendiri mengaku sangatlah jarang membaca novel sebelum menulis Laskar Pelangi. Sukses dengan Laskar Pelangi, Andrea kemudian kembali meluncurkan buku kedua, Sang Pemimpi yang terbit pada Juli 2006 dan dilanjutkan dengan buku ketiganya, Edensor pada Agustus 2007. Selain meraih kesuksesan dalam tingkat penjualan, Andrea juga meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada tahun 2007.

Andrea Hirata, Biografi, novelis, penulis
Lebaran di Belitong. Kini, Andrea sangat disibukkan dengan kegiatannya menulis dan menjadi pembicara dalam berbagai acara yang menyangkut dunia sastra. Penghasilannya pun sudah termasuk paling tinggi sebagai seorang penulis. Namun demikian, beberapa pihak sempat meragukan isi dari novel Laskar Pelangi yang dianggap terlalu berlebihan. “Ini kan novel, jadi wajar seandainya ada cerita yang sedikit digubah,” ungkap Andrea yang memiliki impian tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia yang terletak di pegunungan Himalaya. Kesuksesannya sebagai seorang penulis tentunya membuat Andrea bangga dan bahagia atas hasil kerja kerasnya selama ini.

Meski disibukkan dengan kegiatannya yang cukup menyita waktu, Andrea masih tetap mampu meluangkan waktu untuk mudik di saat Lebaran lalu. Bahkan bagi Andrea, mudik ke Belitong di saat Lebaran adalah wajib hukumnya. “Orang tua saya sudah sepuh, jadi setiap Lebaran saya harus pulang,” ujar Andrea dengan tegas. Di Belitong, Andrea melakukan rutinitas bersilaturahmi dengan orang tua dan kerabat lainnya sembari memakan kue rimpak, kue khas Melayu yang selalu hadir pada saat Lebaran. Kendati perjalanan ke Belitong tidaklah mudah, karena pilihan transportasi yang terbatas, Andrea tetap saja harus mudik setiap Lebaran tiba. Terlebih lagi, bila ia tak kebagian tiket pesawat ke Bandara Tanjung Pandan, Pulau Belitong, maka mau tak mau Andrea harus menempuh 18 jam perjalanan dengan menggunakan kapal laut.

Perasaan bangga dan bahagia semakin dirasakan Andrea tatkala Laskar Pelangi diangkat menjadi film layar lebar oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. “Saya percaya dengan kemampuan mereka,” ujarnya tegas. Apalagi, film Laskar Pelangi juga sempat ditonton oleh orang nomor satu di negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. “

Kini Laskar Pelangi memiliki artikulasi yang lebih luas daripada sebuah buku. Nilai-nilai dalam Laskar Pelangi menjadi lebih luas,” tutur Andrea

Menjadi seorang penulis novel terkenal mungkin tak pernah ada dalam pikiran Andrea Hirata sejak masih kanak-kanak. Berjuang untuk meraih pendidikan tinggi saja, dirasa sulit kala itu. Namun, seiring dengan perjuangan dan kerja keras tanpa henti, Andrea mampu meraih sukses sebagai penulis memoar kisah masa kecilnya yang penuh dengan keperihatinan.

Referensi :

- http://fajar-aryanto.blogspot.com/2010/02/andrea-hirata-penulis-novel-laskar.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Andrea_Hirata
- http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/10/biografi-andrea-hirata-penulis- novel.html

Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970; umur 41 tahun) adalah sastrawan, motivator menulis dan dosen. Helvy memperoleh gelar sarjana sastra dari Fakultas Sastra UI, gelar magister dari Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, dan kini tengah menempuh program doktoral di bidang Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Jakarta.

Helvy adalah salah satu dari 10 Perempuan Penulis Paling Terkenal menurut survey Metro TV 2009 dan merupakan satu dari 15 Tokoh Muslim Indonesia yang terpilih sebagai 500 Muslim Paling Berpengaruh di dunia, hasil penelitian The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan, bekerjasama dengan Georgetown University, 2009. Tahun 2010 dan 2011 The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan masih menempatkannya sebagai salah satu dari 500 muslim paling berpengaruh di dunia (untuk bidang Seni dan Budaya).Mantan Redaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001) ini, tahun 1990 mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan, menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater tersebut di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI serta keliling Jawa dan Sumatera.

Helvy merupakan pendiri dan Ketua Umum Forum Lingkar Pena/ FLP (1997-2005), sebuah forum penulis muda beranggotakan belasan ribu orang yang tersebar di 150 kota di Indonesia dan mancanegara. Bersama teman-temannya di FLP, ia mendirikan dan mengelola “Rumah baCA dan HAsilkan karYA” (Rumah Cahaya) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Selama 14 tahun keberadaannya, bekerjasama dengan puluhan penerbit, FLP telah meluncurkan lebih dari 2000 judul buku. Karena kegiatannya The Straits Times dan Koran Tempo menyebut Helvy sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia (2003). Tahun 2008, Helvy membawa FLP meraih Danamon Award--sebuah penghargaan tingkat nasional bagi mereka yang dianggap sebagai pejuang, dan secara signifikan dianggap berhasil melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar.

Tahun 1980-1990 Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis tingkat propinsi dan nasional. Namun menurutnya yang paling berkesan ketika ‘Fisabilillah” menjadi Juara Lomba Cipta Puisi Yayasan Iqra, tingkat nasional (1992), dengan HB Jassin sebagai Ketua Dewan Juri. “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000).

Lelaki Kabut dan Boneka mendapat Anugerah Pena sebagai Kumpulan Cerpen Terpuji (2002), sedangkan Bukavu masuk 10 Besar Khatulistiwa Literary Award 2008. Istri Tomi Satryatomo serta Ibu Abdurahman Faiz dan Nadya Paramitha ini mendapat SheCAN! Award dari Tupperware sebagai Wanita Inspiratif Indonesia (2009), Kartini Award sebagai salah satu The Most Inspiring Women in Indonesia dari Majalah Kartini (2009), terpilih sebagai Ikon Perempuan Indonesia versi Majalah Gatra (2007), Wanita Indonesia Inspiratif versi Tabloid Wanita Indonesia (2008), Tokoh Perbukuan IBF Award IKAPI (2006), Tokoh sastra Eramuslim Award (2006), Penghargaan Perempuan Indonesia Berprestasi dari Tabloid Nova dan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2004), Ummi Award dari Majalah Ummi (2004), Muslimah Berprestasi versi Majalah Amanah (2000), Muslimah Teladan versi Majalah Alia (2006), dll. Helvy sering diundang berbicara dan membacakan karya-karyanya dalam berbagai forum sastra dan budaya di pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Hong Kong, Jepang, Mesir, hingga Amerika Serikat, dll.

Mantan Sekretaris DPH-Dewan Kesenian Jakarta (2003) dan Anggota Komite Sastra DKJ (2003-2006), sehari-harinya adalah dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Tahun 2008 ia terpilih sebagai Dosen Berprestasi Universitas Negeri Jakarta. Kini Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara/ Mastera ini juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Liga Sastra Islam Sedunia / The International League of Islamic Literature, untuk Wilayah Indonesia, serta sejak 2011 dipercaya sebagai Anggota Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam, Majelis Ulama Indonesia.

Karya

Helvy menulis sekitar 50 buku. Beberapa karyanya telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman,Swedia, dll. Di samping itu ia adalah editor puluhan buku dan pernah menjadi juri lebih dari 100 sayembara penulisan di dalam dan luar negeri.
[sunting] Buku

Ketika Mas Gagah Pergi...dan Kembali (ANPH,2011)
Bukavu (LPPH), 2008)
Catatan Pernikahan (LPPH, 2008)
Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP 2006)
Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press 2005)
Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press 2005)
Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika 2005)
Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa 2004)
Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya (Syaamil, 2003)
Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press, 2002)
Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
Lentera (An Najah Press,1999)
Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll

(SUMBER :http://id.wikipedia.org/wiki/Helvy_Tiana_Rosa)

HARUN YAHYA



Harun Yahya adalah nama pena Adnan Oktar yang lahir di Ankara pada tahun 1956. Sebagai seorang da'i dan ilmuwan terkemuka asal Turki, beliau sangat menjunjung tinggi nilai akhlaq dan mengabdikan hidupnya untuk mendakwahkan ajaran agama kepada masyarakat. Adnan Oktar memulai perjuangan intelektualnya pada tahun 1979, yakni ketika menuntut ilmu di Akademi Seni, Universitas Mimar Sinan. Selama berada di universitas tersebut, beliau melakukan pengkajian yang mendalam tentang berbagai filsafat dan ideologi materialistik yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat sekitar. Hal ini menjadikan beliau lebih tahu dan paham dibandingkan dengan para pendukung filsafat atau ideologi itu sendiri.

Berbekal informasi dan pengetahuan yang mendalam ini, beliau menulis berbagai buku tentang bahaya Darwinisme dan teori evolusi, yang merupakan ancaman terhadap nilai-nilai akhlaq, terhadap dunia; serta buku tentang keruntuhan teori ini oleh ilmu pengetahuan. Majalah ilmiah populer terkenal New Scientist edisi 22 April 2000 menjuluki Adnan Oktar sebagai "pahlawan dunia" yang telah membongkar kebohongan teori evolusi dan mengemukakan fakta adanya penciptaan. Penulis juga telah menghasilkan berbagai karya tentang Zionisme dan Freemasonry, serta ratusan buku yang mengulas masalah akhlaq dalam Al-Qur'an dan bahasan-bahasan lain yang berhubungan dengan akidah.Nama pena Harun Yahya berasal dari dua nama Nabi: "Harun" (Aaron) dan "Yahya" (John) untuk mengenang perjuangan dua orang Nabi tersebut melawan kekufuran.

Buku-buku karya pengarang: 'Tangan Rahasia' di Bosnia, Kebohongan Holocaust, Di Balik Tirai Terorisme, Kartu-Kurdi Israel, Strategi Nasional bagi Turki, Moral Qur'ani: Solusi, Permusuhan Darwin Terhadap Bangsa Turki, Bencana Kemanusiaan Akibat Ulah Darwinisme, Kebohongan Teori Evolusi, Bangsa-Bangsa Yang Diadzab, Nabi Musa, Zaman Keemasan, Keagungan Warna Ciptaan Allah, Kebesaran Allah di Setiap Sudut Alam Semesta, Hakikat Kehidupan Dunia, Pengakuan Kaum Evolusionis, Kekeliruan Kaum Evolusionis, Sihir Darwinisme, Agama Darwinisme, Al-Qur'an Menuntun Kepada Ilmu Pengetahuan, Asal Usul Kehidupan yang Sesungguhnya, Penciptaan Alam Semesta, Keajaiban Al-Qur'an, Desain Pada Alam, Perilaku Pengorbanan Diri dan Kecerdasan Pada Dunia Hewan, Keabadian Telah Berlangsung, Anakku Darwin Telah Berbohong!, Berakhirnya Darwinisme, Bagaimana Seorang Muslim Berpikir?, Keabadian dan Hakikat Takdir, Jangan Berpura-Pura Tidak Tahu, Misteri DNA, Keajaiban Atom, Keajaiban Sel, Keajaiban Sistem Kekebalan, Keajaiban Mata, Keajaiban Penciptaan Tumbuhan, Keajaiban Laba-Laba, Keajaiban Semut, Keajaiban Nyamuk, Keajaiban Lebah, Keajaiban Biji, Keajaiban Rayap.

Karya penulis dalam bentuk booklet: Misteri Atom, Keruntuhan Teori Evolusi: Fakta Penciptaan, Keruntuhan Materialisme, Berakhirnya Materialisme, Kekeliruan Kaum Evolusionis 1, Kekeliruan Kaum Evolusionis 2, Mikrobiologi Meruntuhkan Teori Evolusi, Fakta Penciptaan, 20 Pertanyaan Yang Meruntuhkan Teori Evolusi, Kebohongan Terbesar Dalam Sejarah Biologi: Darwinisme.

Karya-karya pengarang yang berhubungan dengan Al-Qur'an: Pernahkah Anda Berpikir Tentang Kebenaran?, Mengabdi Hanya Kepada Allah, Meninggalkan Masyarakat Jahiliyyah, Surga, Teori Evolusi, Nilai Akhlaq Dalam Al-Qur'an, Ilmu Al-Qur'an, Index Al-Qur'an, Hijrah di Jalan Allah, Sifat Munafiq Dalam Al-Qur'an, Rahasia Orang Munafiq, Nama-Nama Allah Yang Agung, Berdakwah dan Berdebat Dalam Al-Qur'an, Konsep Dasar Dalam Al-Qur'an, Jawaban-Jawaban Al-Qur'an, Kematian, Kebangkitan dan Neraka, Perjuangan Para Rasul, Syaitan: Musuh Nyata Manusia, Agama Berhala, Agama Kaum Jahiliyyah, Kesombongan Syaitan, Doa Dalam Al-Qur'an, Urgensi Akal dalam Al-Qur'an, Hari Kebangkitan, Jangan Pernah Lupa, Hukum-Hukum Al-Qur'an yang Diabaikan, Karakter Manusia Dalam Masyarakat Jahiliyyah, Pentingnya Sabar Dalam Al-Qur'an, Pengetahuan Umum Dari Al-Qur'an, Memahami Iman dengan Mudah 1-2-3, Pemikiran Dangkal Kaum Kafir, Iman Yang Sempurna, Sebelum Anda Menyesal, Perkataan Para Rasul, Kasih Sayang Orang Mukmin, Takut Kepada Allah, Mimpi Buruk Kekafiran, Nabi Isa Akan Datang Kembali, Al-Qur'an Memberi Keindahan Pada Kehidupan, Beragam Keindahan Ciptaan Allah 1-2-3-4, Perbuatan Dosa Bernama: 'Mencela', Rahasia Ujian Kehidupan, Hikmah Yang Benar Menurut Al-Qur'an, Perjuangan Melawan Agama Kaum yang Tidak Beragama, Tarbiyyah Nabi Yusuf, Bersekutu dalam Kebaikan, Fitnah Terhadap Umat Islam Sepanjang Sejarah, Urgensi Mengikuti Perkataan yang Baik, Mengapa Menipu Diri Sendiri?, Islam: Agama Mudah, Kegembiraan dan Keteguhan dalam Al-Qur'an, Melihat Kebaikan pada Segala Hal, Bagaimana Orang Bodoh Menafsirkan Al-Qur'an?, Sejumlah Rahasia Al-Qur'an, Keberanian Orang Mukmin.

Buku-buku berjudul Kebohongan Teori Evolusi, Bangsa-Bangsa Yang Diadzab, Bagi Kaum yang Berpikir, Hakikat Kehidupan Dunia, Bagaimana Seorang Muslim Berpikir?, Jangan Berpura-Pura Tidak Tahu, Keajaiban Semut, Keagungan Warna Ciptaan Allah, Penciptaan Alam Semesta, Allah Dapat Diketahui Melalui Akal, Nilai Akhlaq dalam Al-Qur'an, Konsep Dasar dalam Al-Qur'an, Pernahkan Anda Berpikir tentang Kebenaran?, Pemikiran Dangkal Kaum Kafir, Urgensi Akal dalam Al-Qur'an, dan Keajaiban DNA telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Keajaiban Semut dan Allah dapat Diketahui Melalui Akal telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu. Kematian, Kebangkitan dan Neraka telah diterjemahkan ke bahasa Polandia. Bangsa-Bangsa yang Diadzab telah diterjemahkan ke bahasa Portugis, dan telah diterbitkan oleh berbagai penerbitan manca negara.

Banyak karya Harun Yahya yang kini tengah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Itali, Rusia, Spanyol, Arab, Portugis, Albania, Serbo-Kroasia (Bosnia), Polandia, Urdu, Indonesia, Melayu dan Malayalam. Tujuan utama kami adalah untuk menterjemahkan semua buku tersebut ke dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa lainnya pada tahun 2001 dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia agar bermanfaat bagi semua orang.

Dalam semua buku karya pengarang yang menggunakan nama pena Harun Yahya ini, semua topik yang disampaikan sangat sesuai dengan ajaran Al-Qur'an. Bahkan topik-topik yang disampaikan melalui bahasa ilmiah, yang kadang dianggap rumit dan membingungkan, diuraikan dengan sangat lugas dan jelas dalam buku-buku Harun Yahya. Tidaklah mengherankan jika buku-buku tersebut menarik semua orang dari segala umur dan lapisan masyarakat.


Buku-buku yang berhubungan dengan keimanan mendakwahkan tentang keberadaan dan keesaan Allah, dan ditulis dengan tujuan utama menyampaikan Islam kepada mereka yang jauh dari agama dan membuka hati mereka agar menerima kebenaran. Bagi pembaca Muslim, buku-buku tersebut berisikan nasehat dan peringatan. Penulis telah menerbitkan karya-karyanya tentang hal-hal pokok yang disebutkan dalam Al-Qur'an agar kaum Muslim dapat meningkatkan ketaqwaan dan kemampuan berpikir mereka secara mendalam.

Selasa, 03 Januari 2012

Siapa yang Memasang Loncengnya

Sekumpulan tikus berkongres. Tema sentral; bahaya kucing yang mengancam keles-tarian bangsa tikus. Banyak usulan cemerlang, tetapi semuanya termentahkan. Dari usulan mengkarantina anak-anak, sampai perondaan yang kontinyu. Akhirnya, seekor tikus junior mengajukan usulan "jenius" yang mencengangkan, "Leher setiap kucing diberi lonceng yang nyaring bunyinya agar anak-anak kita bisa segera masuk ke dalam lubang perlindungan." Usulan ini disambut dengan antusias sebagai usulan yang jenius.

Ketika semua merasa puas, seekor tikus senior berujar, "Arrayu shahih, wa-lakin man yualliqul jaras?" (Usulannya benar, tetapi siapa gerangan yang akan mengggantungkan lonceng itu?) Semua tertegun kembali denganputus asa. Fabel amsal ini memang rekaan, tetapi mencerminkan banyak hal; kearifan dan pada saat yang bersamaan keputusasaan. juga kecerdasan berbayang-bayang egosentris.Dalam implementasi, terkadang kelompok pesimistik mematahkan optimisme rekannya dengan amsal ini.
(Amsal,Rahmat Abdullah)




Beruang Setia

Cinta dan pengorbanan tanpa ilmu kadang berakibat fatal. Alkisah, seorang alim yang baik hati menemukan seekor beruang terjepit di antara batang pohon di hutan. Dengan kasih sayang ia bebaskan sang beruang. Klasik, siapa saja yang mendapat jasa tentu tak melupakan si pemberi jasa. Dengan sungguh-sungguh dan tulus hati, sang beruang berikrar untuk menjadi pengawal setia dan pelayan bagi syaikh. Kemana ia pergi, si beruang mengikuti dan mengawal.

Sampai suatu hari, sang beruang kesal lantaran tuannya terganggu istirahatnya oleh lalat-lalat yang kerap hinggap di wajahnya. Beruang menghalau dan lalat datang kembali beberapa saat. Hingga memuncaklah amarah sang beruang. la akan melakukan langkah pamungkas terhadap lalat-lalat jahanam itu. Ketika seekor lalat bertengger di wajah sang tuan, beruang mengangkat batu besar untuk dihantamkannya ke tubuh sang lalat. Dengan kelincahan luar biasa sang lalat melesat dan wajah sang tuan hancur tertimpa batu. (Amsal,KH.Rahmat Abdullah)

AMSAL

KH.RAHMAT ABDULLAH

Ketika anak-anak bangsa tak lagi mampu memahami sindir sampir,
petatah-petitih atau kias metafor, maka kiamat bangsa itu sudah di
ambang pintu. Tentu saja tidak dimaksud dengan kiamat itu kehancuran
fisik, melainkan kiamat nilai-nilai mulia yang selama ini mereka hayati.
Mereka telah hidup dalam dimensi-dimensi kebendaan yang pekat, dominan
dan refleks. Al Qur'an melancarkan seruan-seruannya, dengan sebagiannya
berbentuk amsal. "Itulah amsal-amsal (perumpamaan), Kami ajukan dan
tiada kan memahaminya kecuali
orang-orang yang alim."( QS. 29:43).

Kalau saja para koruptor itu punya kulit wajah yang cukup tipis dan urat yang cukup lembut untuk memahami sindiran halus, niscaya mereka akan
malu merampok kekayaan bangsa. Akan tetapi sayang sejuta kali sayang, kondisi mereka telah sampai pada apa yang diungkapkan seorang da'i yang dianggap keras, muka tembok urat badak, sehingga tak cukup sensitif terhadap penderitaan rakyat.


Sindiran-sindiran itu sudah terlalu vulgar bila ditampilkan dalam bentuk orasi, demonstrasi, pembacaan puisi, lagu-lagu kritik sosial atau pun lakon-lakon.Renungan tentang alam yang santun dan dunia hewan yang tahu batas. Harimau dan singa yang dikenal buas, tak pernah menumpuk buruan untuk beberapa hari ke depan, apalagi untuk beberapa keturunan.


Semut yang dikenal rajin, terorganisir dan berdisiplin tinggi, memang selalu mengumpulkan makanan untuk jangka waktu yang lebih panjang dari usia mereka. Tetapi itu dilakukan sebagai pemenuhan cadangan nasional, bukan kerakusan pribadi. Cukup dengan bercermin pada alam manusia dapat selamat, tetapi "Betapa banyaknya tanda-tanda Allah di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka tetap berpaling. Tiadalah kebanyakan mereka beriman, melainkan juga (dengan) melakukan
kemusyrikan." (QS. 12: 105-106)


Penenun yang Mengoyak Tenunannya


Betapa banyak energi yang dikeluarkan untuk menghasilkan tenunan yang
bagus. Ada unsur intelektual dan ada unsur moral. Tetapi hasil kerja yang melelahkan itu akan segera hancur dalam waktu singkat, karena unsur emosional yang tak terkendali. Jangan beri pekerjaan kepada orang yang usia semangatnya sudah larut senja atau kearifannya terlalu pagi. Kepanikan akan segera menyudahi pekerjaan itu. Kerja besar harus dihayati dengan hamasatus syabab fi hikmatis syuyukh(semangat pemuda dalam bingkai kearifan orang tua) dan tidak sebaliknya.Persatuan umat betapa sulit dibangun, namun betapa mudah dihancurkan.Seribu teman belum cukup, satu musuh terlalu banyak.Memang aneh, lelah menenun berbilang pekan, bahkan bulan, dikoyak dengan begitu mudah, karena urusannafsu yang tak terkendali. "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu
golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain..."
(QS.16:92)

Tetapi Siapa yang Menggantungkan Loncengnya?

Sekumpulan tikus berkongres. Tema sentral; bahaya kucing yang mengancam
keles-tarian bangsa tikus. Banyak usulan cemerlang, tetapi semuanya
termentahkan. Dari usulan mengkarantina anak-anak, sampai perondaan yang
kontinyu. Akhirnya, seekor tikus junior mengajukan usulan "jenius" yang
mencengangkan, "Leher setiap kucing diberi lonceng yang nyaring bunyinya
agar anak-anak kita bisa segera masuk ke dalam lubang perlindungan."
Usulan ini disambut dengan antusias sebagai usulan yang jenius.

Ketika semua merasa puas, seekor tikus senior berujar, "Arrayu shahih,
wa-lakin man yualliqul jaras?" (Usulannya benar, tetapi siapa gerangan
yang akan mengggantungkan lonceng itu?) Semua tertegun kembali dengan
putus asa.

Fabel amsal ini memang rekaan, tetapi mencerminkan banyak hal; kearifan
dan pada saat yang bersamaan keputusasaan. juga kecerdasan
berbayang-bayang egosentris. Dalam implementasi, terkadang kelompok
pesimistik mematahkan optimisme rekannya dengan amsal ini.

Rahimallahu Assariqul Awwal

Suatu desa mengalami kegemparan sangat. Pasalnya, muncul pencurian unik.
Setiap kali jenazah dikuburkan, esok kuburan yang rapi itu sudah
berantakan. Setelah diselidiki ternyata kain kafan sang mayat sudah
raib. Segala upaya untuk menangkap pencuri mengalami kegagalan. Mereka
geram, marah, putus asa, sampai suatu hari pencurian itu berhenti.
Rupanya sang pencuri mati.

Untuk beberapa lama keadaan kembali tenang. Tetapi mereka kembali
digemparkan oleh kasus-kasus pencurian yang sama, bahkan lebih unik;
sang mayat dionggokkan di atas kuburan tanpa kafan. Berbagai cara untuk
menangkap dan menangkal menemui kegagalan. Dengan putus asa akhirnya
mereka mengatakan, "Lebih baik maling yang dulu juga." Pepatah satir
Arab ini aslinya berbunyi, rahimallahu assariqul awwal, (Semoga Allah
mengasihi pencuri terdahulu).Kondisi ini, bila dianalogikan kepada politik, partai politik dan
pemilu, mewakili apatisme masyarakat yang tidak berjiwa pejuang, memilih dibodohi dan
diperkosa kembali.

Beruang Setia


Cinta dan pengorbanan tanpa ilmu kadang berakibat fatal. Alkisah,
seorang alim yang baik hati menemukan seekor beruang terjepit di antara
batang pohon di hutan. Dengan kasih sayang ia bebaskan sang beruang.
Klasik, siapa saja yang mendapat jasa tentu tak melupakan si pemberi
jasa. Dengan sungguh-sungguh dan tulus hati, sang beruang berikrar untuk
menjadi pengawal setia dan pelayan bagi syaikh. Kemana ia pergi, si
beruang mengikuti dan mengawal. Sampai suatu hari, sang beruang kesal lantaran tuannya terganggu istirahatnya oleh lalat-lalat yang kerap hinggap di wajahnya. Beruang menghalau dan lalat datang kembali beberapa saat. Hingga memuncaklah
amarah sang beruang. la akan melakukan langkah pamungkas terhadap
lalat-lalat jahanam itu. Ketika seekor lalat bertengger di wajah sang
tuan, beruang mengangkat batu besar untuk dihantamkannya ke tubuh sang
lalat. Dengan kelincahan luar biasa sang lalat melesat dan wajah sang
tuan hancur tertimpa batu.



Setiap Orang Ingin Jadi Mekanik


Setelah melaju beberapa saat, kendaraan dengan banyak penumpang itu
memasuki medan berat. Di atas jalan bebatuan besar-besar itu kendaraan
terguncang-guncang, membuat tak nyaman para penumpang. Ada yang pusing,
ada yang mual, bahkan banyak yang muntah. Sebagian sudah lupa ke mana
mereka menuju, sedang lainnya ingat tujuan tetapi kehabisan kesabaran.

Seorang penumpang dengan dahi yang dikerut-kerutkan mengesankan intelek
berujar, "Berhenti dulu, pastilah mesinnya rusak." Dia memaksa untuk
bongkar mesin, keadaan tak bertambah baik. Datang seorang dengan
tampilan post intelek, menawarkan gagasan cemerlang. "Ini gara-gara
kerusakan pada kaca spion, salah posisi," ia copot kaca spion dan bus
tetap berguncang-guncang. Seorang berujar dengan piawainya, "Tadi jalan
begitu mulus, karena saya ikut dalam bus ini." Ketika ditangkal dengan
mengatakan, sekarang ia juga masih ikut, tetapi tetap berguncang. la
menyergah, "Sekarang karena

dasar mobilnya yang tak bermutu!"

Entah berapa banyak orang yang menghujat kitab suci dan warisan Nabi.
Mereka bukan memikirkan rekayasa medan, mengubah persepsi masyarakat
atau menyadari medan serta dinamika da'wah selalu bergelombang. Mengapa
kita tidak perbaiki sistem kerja dan iklim berfikir masyarakat dengan
da'wah yang ber-manhaj, agar perjalanan da'wah bisa lancar, daripada
menyalahkan risalah kiriman Allah. Berpura-pura netral dan tidak
emosional ketika Allah dilecehkan, atau dengan PD tapi modal cekak
berani membunyikan pesan sponsor yang begitu dendam kepada umat.


Senin, 02 Januari 2012

Warna-warni Persahabatan

By : Akhiarden KPK

“Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW,Siapakah sahabat paling baik bagi kami? Nabi SAW menjawab,”seseorang yang apabila kamu memandangnya,akan teringat kepada Allah SWT,apabila kamu mendengar ucapannya akan bertambah pengetahuanmu tentang islam dan apabila kamu melihat kelakuannya,kamu teringat kepada hari akhirat”

Pernah mendapatkan teman seperti yang dicirikan Rasulullah diatas?.
Pernah mendambakan bertemu dengannya?.
Pernah mendambakan jadi orang yang memiliki ciri-ciri tersebut?.
Pernah merindukan saat-saat bersamanya menemani suka duka perjalanan hari?.
Kapan terakhir kamu bertemu dengannya ?.
Seberapa penting kehadiran sahabat yang baik dalam kehidupan mu?.

Siapapun kita,pasti memiliki sahabat.Karena kita diciptakan memang untuk saling mengenal satu dengan lainnya.Kita tak akan mampu menjalani hari tanpa kehadiran sahabat.Sekali lagi siapun anda pasti membutuhkan kehadiran sahabat.

Sahabat yang baik merupakan dambaan setiap orang.Bukan hanya kita hari ini,tapi juga dambaan orang-orang shaleh dahulu.Subhanallah,begitu super pentingnya kehadiran teman yang baik dalam kehidupan,sampai-sampai imam Syafi’I berkata,” “Andai bukan karena bangun diwaktu sahur,dan berteman dengan orang-orang baik,niscaya aku tidak mau memilih tinggal di dunia ini?

Apalah arti kehidupan di dunia ini,tanpa kehadiran seorang sahabat yang senantiasa menjadi penyemangat hari-hari.Penghibur duka,penawar kesedihan,obat hati yang sunyi.Sahabat yang ketika melihatnya membuat semangat yang melemah,menguat kembali.Hati yang keras membatu,menjadi selunak spon.Hidup yang hambar menjadi penuh harapan.Inisiatif yang menggulita,menjadi terang bercahaya.

Namun,tak selamanya sahabat kita sesuai harapan.Seperti kehidupan manusia yang selalu diliputi kekurangan dan kelebihan.Begitu pula yang terjadi dalam membangun jalinan persahabatan.Selalu berwarna dan berdinamika.Hari ini berwarna merah, mungkin besok telah berubah menjadi hijau,dan lusanya malah menjadi kuning atau campuran/paduan dari semua warna tersebut.

Hari ini berteman akur,besok malah ngawur ngidul.Hari ini buat kita tersenyum ceria, besok bisa jadi membuat manyun duka.Hari ini pemberi semangat,besok malah bikin masalah semakin berat.Hari ini memberikan manfaat besok malah hadirkan mudharat.Hari ini memberikan taujih besok malah kata-katanya bikin keki.Hari ini buat tertawa,besok malah bikin nestapa.

Itulah warna-warni dalam persahabatan yang buat perjalanannya terasa mengasyikkan,selalu dinanti dan dikenang.
Sebuah kebaikan dalam persahabatan,tidak muncul dengan hanya menunggu dan berharap agar dilakukan oleh pihak lain.Kebaikan akan terwujud dengan sikap saling berupaya melakukan kebaikan itu.

Rasulullah pernah bersabda tentang perumpamaan dua orang saudara seperti dua tangan yang satu sama lain saling menyucikan.Artinya ada timbal balik dalam kesenangan dan kesulitan serta dalam berbagai suasana.Timbal balik itu artinya mengharuskan adanya sikap inisiatif untuk memulai sesuatu yang baik sehingga semakin lama akan terwujud suasana timbal balik itu.Inisiatif memulai sesuatu yang baik bisa dilakukan dari hal yang sederhana seperti saling mengunjungi.

Alkisah,ada seorang lelaki yang pergi cukup jauh.Lelaki itu pergi untuk sebuah tujuan yang sepintas terlihat sederhana.Ditengah jalan malaikat menemuinya,dan bertanya kepadanya tentang mengapa dia melakukan perjalanan yang teramat jauh.?
“Aku akan pergi menemui sahabatku di kampung ini,” jawab lelaki itu ketika malaikat bertanya kemana ia akan pergi?

“Adakah karena engkau berhutang budi dengan kebaikannya?”
“Tidak,aku ingin mengunjunginya,sebab aku mencintainya karena Allah semata.”
Malaikat itupun menyampaikan kabar gembira,”Ketahuilah sesungguhnya Allah mencintai engkau sebagaimana engkau mencintai sahabat engkau karena Allah.”

Coba perhatikan cerita diatas.Sepintas terlihat sederhana,bahkan bisa dikatakan sangat sederhana.Begitu kalau kita liat sisi dzahirnya.Tapi tidak dengan kacamata batin kita.Cerita ini mengajarkan nilai keutamaan yang sangat besar.Adakah yang lebih berharga dari mendapatkan cinta Allah?.Alangkah indahnya.Adakah yang lebih indah dan terhormat dari mendapatkan kabar cinta Allah yang dikirimkan langsung melalui malaikat?

Subhanallah,tinta emas yang dituliskan oleh generasi terdahulu terdahulu adalah inspirasi yang juga bisa dilakukan oleh generasi selanjutnya,dan nilai keutamaannya juga berlaku sama.Sungguh sederhana yang dilakukan lelaki dalam cerita diatas, dan kitapun sangat-sangat bisa melakukannya,bahkan dengan cara yang lebih baik.

Bertemanlah dengan sahabat yang baik.Niscaya akan kau temui kedamaian dalam hidupmu.Bertemanlah dengan sahabat yang akan membuatmu semakin semangat beramal,semakin ingat akhirat dan kata-katanya membuatmu senantiasa mendapatkan pencerahan.

Pupuklah selalu benih-benih persahabatan yang telah kau tanam.Sirami dengan air kesucian hatimu.Siangi gulma-gulma yang membuat benih persahabatanmu lambat tumbuh.Nikmati selalu kebersamaan dengannya.Karena tak selamanya dia selalu berada disisimu.

Sebelum dia pergi tanamlah selalu pohon-pohon kebaikan bersamanya dan petiklah buah-buah kemanfaatannya.Sebelum dia kembali ke pemiliknya.Sebelum dia mencukupkan waktunya menemani harimu.