-->

SMS Gratis

Rabu, 30 November 2011

kata-kata akan Powerless

By : Yunsirno

Pembaharu dunia islam itu, Hasan al Banna memilih untuk tidak menulis buku. Tentu ini sebuah pertanyaan besar bagi para pemerhati sejarah. Bagaimana mungkin pemimpin gerakan yang berpengaruh itu tidak menulis. Otak di kepalanya bukan tidak berisi sehingga ia tidak bisa merangkai kata-kata di atas pena. Kokohnya sistem tarbiyah yang ia bangun dan eksisnya Ikhwanul Muslimin sebagai gerakan islam modern jelas membantah anggapan itu. Lalu mengapa kira-kira? Tahukah Anda jawabannya?
Ceramah yang Sia-sia
Berapa juta kata sudah terlontar dari mulut - mulut mulia para ulama, ustadz, dan guru-guru kita. Bahkan betapa indahnya pula kata-kata para penceramah, dan pembicara ditaburkan di depan para audiens. Lihat apa hasilnya? Para audiens hanya tertawa sambil manggut-manggut menyimak indahnya untaian kata para pembicara itu.

Saking terpesonanya, mereka berharap akan mengikuti ceramah atau materi berikutnya. Para motivator dan trainer laris dimana-mana. Bukan karena peserta ingin berubah. Mereka hanya rindu joke-joke dari si pembicara. Ceramah ustadz-ustadz dinanti jamaah bukan semata karena mereka ingin mendekatkan diri pada Allah. Maaf tapi kebanyakan mereka hanya ingin melepas penat dunia dengan siraman-siraman yang menghibur, dan barangkali saja hidayah itu akan masuk.

Apa artinya dua fakta di paragraph di atas? Tak lain bahwa sia-sia belaka semua kata-kata indah yang dirangkai di atas pena di lembaran buku-buku kita, dan hampa sudah semua kata-kata elok para pembicara jempolan itu jika sang penulis dan sang pembicara berharap kata-kata mereka mengandung magic. Magic yang akan menggiring para pembaca dan audiensnya untuk berubah mengikuti apa yang mereka serukan.

Jangan Bicara di Podium , Memimpinlah!
Kata-kata itu akan powerless, kehilangan semua kekuatannya saat kita hanya berpaku pada menjadi pembicara atau penulis semata. Kita harus turun langsung menuntun pembaca atau audiens kita melaksanakan apa yang kita sampaikan. Kata-kata hanya sekedar pintu masuk yang membuka lebar hati orang lain untuk menerima kehadiran kita.

Lihat banyak pejuang besar sukses menggerakkan umat manusia bukan lewat rentetan ceramah di podium setiap pekan, bukan pula lewat buku yang teratur ditulis dan diterbitkan untuk menyapa pembacanya. Bukan sama sekali bukan.

Jenderal Sudirman tak perlu menabur kata-kata untuk membuat rakyat Indonesia menyingsingkan lengan bajunya. Pangeran Diponegoro tak perlu juga membakar dengan siraman rohaninya untuk menyadarkan rakyat Jawa untuk bangkit. Itu pula yang dilakukan pejuang Islam seperti Ali bin Thalib, Usman bin Affan sampai Umar bin Khattab, mereka bukan penulis ulung atau orator cemerlang. Pun junjungan kita, Rasulullah yang bahkan seorang ummi.

Maka itulah alasannya Hasan al Banna untuk tidak menulis. Ia ingin mencegah jangan sampai para pejuang sudah merasa berjuang dengan tulisannya saja. Ia secara tak langsung mengkritik para penabur kata-kata untuk tak sekedar mengandalkan kekuatan bahasa. Hasan al Banna mengajak kita untuk mengubah lewat perbuatan. Ia turun langsung menyapa umat, mengelus kepalanya, dan membisikkan kata-kata hikmah, sekali saja. Setelah itu umat itu ia bimbing sedikit demi sedikit menuju ketaatannya.

Bukankah ini juga yang dilakukan semua tokoh besar dunia. Mereka tidak membuai kata. Mereka hanya memakai kata untuk awal menjebol hati manusia agar mau berpaling padanya. Berpaling, mendengar lebih lanjut dan mengikuti bimbingannya. Maka otomatis semua orang sukses besar adalah para pemimpin. Yaitu mereka yang mau turun gunung melihat kesulitan yang di bawah, membantunya, sambil mengarahkannya pada tujuan yang sama.

Karena itu jangan salahkan pidato cemerlang Martin Luther King, Barrack Obama atau orator dahsyat, Presiden pertama kita, Bung Karno. Kata-kata mereka memang mempesona. Dan mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa kata-kata hanya menjadi magic diawal, setelah itu tugas kepemimpinanlah yang melanjutkannya. Dan jika kedua kekuatan itu bersatu, maka akan mudahlah kesuksesan itu diraih. Karena kata-kata mereka tak hanya omong kosong belaka.

Rehat Sejenak, Lalu …
Dan jika mereka sudah sukses memimpin, maka mereka akan rehat sejenak. Mereka akan kembali menyapa umat manusia dengan ceramahnya yang sudah berisi dan menulis buku yang sudah terbukti. Saat itulah kata-kata mereka menjadi sangat powerful. Maka wahai pemimpin yang sudah mengecap perjalannya, kabarkanlah dan berbagilah semangat dan prinsip-prinsip itu lewat keindahan kata-kata kalian.

Dan wahai para orangtua, guru atau pemimpin. Itulah sebabnya kenapa kata-kata kita mati kutu di depan anak, murid dan anak buah kita. Karena yang keluar dari mulut kita hanyalah sekedar nasihat, bukan kepemimpinan yang kita contohkan dan bimbingkan langsung. Maka orangtua, guru dan pemimpin bukan ditunggu kata-katanya, tapi ditunggu gerakannya untuk ditiru dan komitmennya untuk membimbing anak, murid, dan anak buahnya.

Dan mungkin ini juga yang membuat Hasan al Banna ditembak mati masih muda oleh di usianya yang agen-agen Amerika sebelum ia sempat rehat sejenak membagi prinsip-prinsip hidupnya. Bukannya Hasan al Banna tidak mau dan tidak bisa menulis. Maka menulislah sebelum ajal itu tiba…. Menulislah untuk berbagi@

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Oleh Yunsirno yang punya target membuka Sang Bintang School di kota mana dia berceramah dan tersebarnya buku Keajaiban Belajarnya agar kata-katanya tak seindah di mulut dan di buku semata.

Bukan Usia yang Menentukan

By : h_rnew Asy-Syifa KPK

Seperti biasa, setiap hari kamis, aku sholat zuhur berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumahku. Setelah mengambil wudhu, aku langsung mencari mukena di lemari tempat mukena diletakkan. Karena telah iqomah, aku langsung mengambil shaf depan di samping wanita yang dari tadi kulihat terduduk.

Badannya kurus, dan rasanya tak asing lagi bagiku. Sebelum imam takbiratul ihram, aku mencoba melihat siapa gerangan wanita itu. Ternyata dugaanku benar, ia adalah wanita tua yang pada kamis minggu lalu pernah kutemui ketika sholat dzuhur juga. Kemarin aku sempat berbincang-bincang dengannya. Aku memanggilnya nenek, karena usianya sudah cukup tua bagiku, Kemarin ia masih bisa berdiri, tapi sekarang sholatnya hanya dengan duduk.
Subhanallah.. Dalam hati aku merasa takjub, dan tanpa henti memuji nama Allah.
Seorang nenek tua itu masih bersemangat untuk sholat berjamaah di masjid walaupun jika dilihat kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk sholat di masjid. Aku tak kuasa menahan titik-titik air jatuh dari mataku, membayangkan bahwa begitu besarnya Allah yang telah merekayasa segala sesuatu, menciptakan orang-orang yang begitu mencintai-Nya, hingga di senja usianya. Allah juga menciptakan para pembangkang yang tak pernah mau bersujud kepadaNya walau sedetikpun. Ia ciptakan itu semua semata-mata untuk dijadikan bahan pembelajaran bagi orang-orang beriman.

Selesai sholat, aku dan teman-teman yang ikut berjamaah satu persatu menyalami sang nenek tadi. Kami membantu membukakan mukena untuk beliau, karena saat itu beliau agak sedikit kesulitan. Aku pun menggiringnya keluar masjid bersama temanku. Aku sempat bertanya, “Nenek dengan siapa ke sini?” Beliau mengatakan “Dengan suami”.

Aku semakin takjub, penasaran sekaligus merasa kagum luar biasa saat itu. Rasa tak sabar ingin melihat siapa suami nenek yang kami iring saat itu. Ketika kami selesai memakaikan sandal nenek, tiba-tiba terdengar suara menyapa dari belakang,

“Waah, terima kasih banyak yang nak,,semoga mendapat pahala dari Allah”seorang kakek-kakek menyapa kami. Kami terkejut, dan hanya bias menjawab “sama-sama kek,”.
“Kami pergi dulu ya,” ucapnya lagi sambil menggandeng tangan sang nenek. Kami hanya tersenyum.
Ada sejuta rasa yang muncul saat itu. Rasa haru, takjub, kagum bercampur menjadi satu. Aku masih melihat mereka berjalan bersama menuju sebuah mobil sedan berwarna putih. Dan mereka pun pergi meninggalkan kami di masjid.

Semangat mereka begitu luar biasa bagiku, karena dalam usia senja, mereka tetap rajin beribadah. Jika dilihat saat ini, berapa banyak anak muda yang begitu malas untuk bersujud barang sejenak menyembah Tuhannya. Mereka lebih memilih bersujud di bar-bar, mall dan diskotik, atau tempat-tempat yang tidak bermanfaat. Na’udzubillah…

Kesetiaan kakek nenek tadi memberikan inspirasi nyata akan besarnya cinta Allah kepada setiap makhluknya. Dan hari ini ia titipkan cintanya kepada sepasang orang tua tadi. Semoga minggu ini aku bisa bertemu dengan mereka lagi.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah nyata ini. Kejelian melihat sekeliling kita akan membuat jiwa kita kaya akan ilmu.
Wallahu’alam..

Memo Memoria

By : Rafa Alqinansa (Nany Safrianty)

Hai, Memo!

Mungkin sesuatu yang diinginkan belum tentu baik untuk kita kan?
Kau harus mengkaji lagi lapis demi lapis detil sesuatu itu
Kadang mencintai itu mudah, namun melupankannya amat sulit
Jika badanmu terasa panas di musim dingin

Seperti itulah rasanya jika kau merasa bertolak belakang
Kau akan merasa dunia terbalik bersama dunia yang kau pilih
Titik temu itu akan semakin semu dalam cakrawala tak berujung

Aku sayang ibuku, aku juga sayang ayahku...
Tapi kenapa masih ada yang menyiakan mereka
Tenteram disisimu, itu yang mereka mau
Walau anak itu tidak merasakan cinta dari orang tua
Tapi ia selalu merasakan cinta dari Sang Pemilik Cinta

Aku tak ingin berkhianat padanya yang masih jauh
Tak terbayangkan olehku bagaimana rupanya
Tentu aku tak bisa menjangkaunya
Sadar, aku tidak akan bisa punya daya untuk sampai ke sana
Entah sampai kapan itu bermuara

Jumat, 18 November 2011

"Mencari Hilal"

By : Akhiarden KPK

Suatu sore yang cerah saat menjelang berbuka puasa,si Duin dan sitrinya tampak sangat berbahagia.Mi,kata duin menyapa istrinya.Ada apa bi,jawab istrinya?.Jadi gak ye besok lebaran?,Tanya duin lagi. Insya Allah lebarannya jadi bi,kalau hilal sudah kelihatan sore ini,kita tunggu saja sidang Istbat kementrian agama.Mendengar jawaban istrinya,si duin tampak berbinar-binar.Dipandanginya mata istrinya lekat-lekat.

Senyumnya makin mengembang saat meihat istrinya kebingungan ditatap seperti itu.Matanya seolah-olah tidak mau terpejam saat memandang mata istrinya.
Istrinya yang kebingungan ditatap seperti itu,langsung bertanya,”ada apa bi melihat umi seperti itu?”.Pasti abi sedang mengagumi kecantikan umi ya?.Benar kan?.Jawab jujur!

O bukan mi,abi lagi mencari hilal dimatamu…..hehe.

Kamis, 17 November 2011

Gemericik

By : Rafa Alqinansa KPK

Indah mengalun di pohon akasia
Titik berbulir penyejuk
Indah diterpa angin Melanesia
Berebut menyeruput bertelunjuk

Kau ada saat lelah membasuh
Piaskan cahaya yang menusuk ari kulitku
berharap kau bergurau tanpa sauh
beranjak dari tajamnya ujung kuku

entahlah apa yang telah kulukis
mungkin itu hanya gemericik imajinasi
yang ku inginkan saat ini masih persis
seperti yang dulu berhalusinasi

kan kujala rintikmu bersama matahari
walaupun dengan asa yang semakin tipis
aku tetap mengagumi
sungguh akan tetap mengagumi

"Keheningan di Waktu Subuh"

By : Beni KPK

Unggas jago telah berbangkit dari singgasananya
Berusaha teriak memecah keheningan subuh yang sunyi
Sang fajar telah meluncur naik k permukaan
Perlaha ia tampilkan sinar indahnya
Hiasi jagad raya dengan gemerlap sinarnya

Mata terbuka dari lelapan panjang
Setelah menerima rangsangan dari telinga
Yang mendengar adzan berkumandang
Menggetarkan alam dan seluruh isinya

Raga segera merebahkan diri
Dari ranjang tempat menabur mimpi
Beriring langkah keluar ambil air suci
Kini, raga tegap berdiri
Tangan mendekap erat tanda kekhusyu'an
Mengantar pikiran fokur dan tertuju pada Satu

Dalam sujudku, aku berdo'a
Ya... Allah , terima kasih atas kesempatan hari ini
Mataku masih terbuka tuk melihat indahnya dunia
Telingaku masih bisa mendengar
Lantunan-lantunan suara memuji-Mu
Lidahku masih bisa bergerak
Dalam membaca tasbih mengagungkan-Mu
Tanganku masih sempat bergerak
Temani kaki dalam beribadah kepada-Mu

Aku menangis saat ku teringat
Kenikmatan yang Dia berikan
Tak pernah berhenti walau terkadang hati ini angkuh
Tak pernah luntur walau terkadang hati ini kufur
Tak pernah hilang walau terkadang hati ini berpaling
Engkaulah yang Maha Luar Biasa kasih-sayang-Mu
Tak pernah hilang dan terputus
Untuk hamba-Mu setiap saat, setiap waktu
Allahu Akbar..., Allahu Akbar..., Allahu Akbar...

Rabu, 16 November 2011

Cinta yang Memuliakan

By : Akhiarden KPK



Seringkali kita terjebak dengan cinta yang tak membuat kita mulia.Disergapi dengan perangkap-perangkap syaitan.Dibumbui oleh bisikan-bisikan jahat iblis yang menginginkan kita terjerumus kelembah nista.Cinta yang tak disadari telah menghancurkan kehidupan,menghempaskan masa depan,mencabik-cabik harapan dan menurunkan status kemuliaan kita sebagai makhluk pengabdi.

Sesungguhnya kumbang tidak akan pernah mengisap sari bunga yang belum mekar.Lebah pun demikian,hanya mengambil sari bunga yang sudah siap dipetik.Begitulah kehidupan cinta antara dua insan.Saling mengisi dan memberi ketika sudah tiba saatnya cinta itu dibingkai dengan syariat nikah.Apapun yang kita lakukan telah menjadi sesuatu yang halal dan mendatangkan pahala.Bukan cinta monyet ala pacaran.Kalau kau menginginkan berpacaran,lakukan itu sepuas-puasnya setelah ikatan syariat itu (nikah) mengikatnya.

Sudah cukuplah kita menikmati masa-masa pacaran yang membuat hidup kita tak produktif.Banyak waktu luang yang sia-sia hanya untuk memikirkannya seorang.Bukankah banyak orang lain yang harus kita cintai.Kalau kita mencintai orang lain yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah SWT maka kita akan dicintai oleh orang yang kita cintai.Kehidupan memang seperti itu,memberi dan akan kembali kepada sang pemberi.

Ada banyak hal yang harus kita lakukan.Ada banyak ilmu yang belum kita kuasai.Ada banyak keahlian yang belum kita gapai.Ada banyak peluang amal yang belum kita raih.Ada banyak orang yang perlu kita nasehati.Ada banyak masjid yang kosong melompong.Ada banyak orang yang belum pandai mengaji yang harus diajari.Ada banyak pengemis dijalanan yang harus disantuni dan diajari keahlian.Ada banyak lautan kebaikan yang belum kita seberangi.Ada banyak tantangan kehidupan yang belum kita daki.Ada banyak orang yang harus kita bahagiakan.Bagaimana mungkin masa muda yang singkat ini kita isi dengan pacaran yang jelas-jelas membuat hidup kita terpasung? Setiap hari memikirkan dia.Ketika makan memikirkan dia.Ketika berjalan memikirkan si dia.Ketika belajarpun memikirkan dia.Bahkan ketika sholatpun masih sempat-sempatnya memikirkan dia.Dimana cinta kepada Allah telah kau letakkan? Kemana cinta kepada Rasullah telah kau hanyutkan? Akan kemanakah cinta kepada orang tua simpan? Dan hendak kemana cinta kepada sesama kan kau terbangkan?

Ketahuilah,hidup kita amat bergantung kepada Allah.Udara segar yang kita nikmati setiap waktu semuanya adalah karunia Allah SWT.Mudah bagi Allah jika tarikan nafas kita tersendat dengan pilek atau mungkin membuat kita harus bernafas dengan bantuan tabung oksigen.Sesungguhnya amat banyak yang harus kita syukuri dalam hidup ini.Sebanyak hamba Allah yang harus kita cintai.

Suatu hari para pentolan iblis mengadakan syuro membahas perkembangan proyek penyesatan manusia.Pemimpin syuro menanyakan kepada peserta,siapa manusia yang menjadi prioritas utama untuk disesatkan.Ada banyak yang mengemukakan idenya.Ada banyak saran yang telah dipaparkan.Ada begitu banyak analisis yang telah diungkapkan.

Namun sepertinya semua pendapat yang diajukan tak membuat pimpinan rapat gembira,sampai kemudian senyuman dibibir pimpinan rapat merekah ketika Seorang peserta rapat yang terkenal paling lihai dalam menyesatkan manusia,sebut saja “MR.PC”, berbicara,”Wahai pimpinan,telah jutaan orang yang berhasil aku sesatkan selama ini,menurutku orang yang harus jadi prioritas utama kita sesatkan adalah para kawula mudanya.Karena mereka dalam proses pencarian jati diri.Apabila mereka mampu kita sesatkan,yakinlah kita akan memiliki pengikut yang banyak dihari akhir nanti.Cara yang paling efektif menjebak mereka adalah dengan budaya pacaran.Kita rasuki pikiran mereka dengan nikmat semu dari pacaran.Kita buat hati mereka hanya memikirkan sang pujaan sepanjang waktu.Kita buat mereka kebablasan hingga terjebak kelembah zina.Kita dorong mereka agar berlama-lama menikah dan menyukai hubungan haram.Karena ketika mereka diwaktu muda telah kita sesatkan,yakinlah dimasa tuanya mereka akan menjadi pribadi yang lemah dan tak punya harapan.Semua peserta rapat diam dan khidmat mendengarkan penuturan iblis muda ini,tampaknya idenya langsung diterima.

Pimpinan rapat memutuskan ide dari iblis muda ini harus dilakukan.Maka dibentuklah satuan-satuan “Trainer Pacaran” yang akan disebar ke enam benua di dunia,dibawah komando iblis muda bernama kumbang tadi.Sebelum menutup syuro berjam-jam itu,pimpinan rapat mengingatkan kepada semua peserta sebuah dialog dari sesepuhnya 1400 tahun yang lalu dengan Rasulullah SAW.

Rasulullah :

“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”

Iblis :


“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”


Setelah membacakan kutipan singkat dari dialog Rasulullah dan sesepuhnya tersebut,pimpinan rapat langsung menyampaikan kesimpulan syuro hari itu:

•Tingkatkan lagi kualitas dan kuantitas dalam menyesatkan manusia melalui bermacam cara yang telah dilakukan sebelumnya.Kreatif dan inovatiflah selalu dalam memanfaatkan peluang,sekecil apapun.Usahakan setiap hari ada manusia yang tersesatkan aqidahnya,pikirannya,dan hilang semangat mengabdinya.

•Cara efektif dalam menjerumuskan kawula muda adalah dengan mengajari mereka budaya pacaran.Usahakan mereka terjebak ke jurang zina,yang membuat kemuliannya sebagai hamba pengabdi sirna.

•“MR PC” siapkan perangkat-perangkat dan satuan-satuan kerja dalam satu komando.Setelah rapat ini “tafadhol” semua tim yang telah ditunjuk tadi menemui “MR PC”.Buat juga renstra untuk setahun kedepan.Godok juga program kerja saat hari Valentine tahun ini.Akhir desember kita ketemu lagi disini.Tunggu saja sms info syuronya.

•Tetap semangat sahabat,jalankan misi yang telah kita sepakati bersama.Ingat kehadiran kita didunia ini untuk menggoda dan menyesatkan mereka kelembah neraka.Sesungguhnya neraka itu luas,gak asyik kalau hanya kita-kita saja yang menghuninya.Jangan terlalu banyak istirahat,bermalas-malasan,ingat kiamat sudah semakin dekat.

Sahabat,mari bersama-sama,kita jaga diri kita dari godaan “MR PC” dan konco-konconya.Jangan berikan kesempatan sedikitpun kepada mereka untuk membentangkan”jarring-jaring perangkapnya”.Ingatlah cinta yang memuliakan itu adalah cinta yang didasari oleh rasa cinta kepada Allah.Tempatkan cinta Allah dalam kasta tertinggi siapa-sapa yang berhak kita cintai dalam hidup ini.Raihlah cinta yang memulikan itu dengan semangat mengabdi tanpa henti.Ingat bidadari surga menanti lelah-lelahmu dalam kebaikan,lelah-lelahmu dalam mempertahankan kesucian cintamu kepada Allah.Surga juga menantikan hadirnya bidadari tercantik yang berasal dari dunia ini.Maka pastikan kau itu,ukhtifillah.

Senin, 14 November 2011

Lebah Hutan

By : Uswatun Hasanah KPK
***
Pagi itu Mentari mengintip malu-malu, mengiringi nyanyian daun-daun yang melambai-lambai ditiup angin. Para petani, hilir mudik menuju ladangnya masing-masing menggunakan kendaraan khasnya “gerobak sapi”. Begitulah suasana desa tempat Ia dilahirkan dan dibesarkan. Daerah pegunungan bumi Sebalo yang jauh dari keramaian dan nuansa keangkuhan kota. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, termasuk orang tuanya. Gurunya menyebut daerah mereka sebagai surganya bumi sebalo, karena hampir semua tanaman perkebunan bisa tumbuh disana.
Disanalah Ia dilahirkan. Upsss… sorry tadi udah disebut di atas. He..
Ia telah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Kalau tidak ingin terlambat, sebelum pukul 06.30 ia harus sudah turun dari rumah. Rumah papan disamping balai desa itulah rumahnya. Rumah sekaligus istana bagi mereka sekeluarga. Di sana mereka tinggal ber-Empat. mas Adi setelah tamat SMA merantau ke kota, ngak mau jadi petani katanya. Nunggu bisa beli truk sendiri baru mau bertani. So.. tinggallah mamak, bapak, Ia dan adiknya si bunggsu.
“Ani.. ayo berangkat..” sapa windi dari jalan.
“Pak, mak.. Ani berangkat dulu..Assalamu’alaykum..”
Ia cium tangan kedua orang tuanya, dan secepat kilat ia sambar sepeda mini kesayangannya. Ia kayuh sepedanya mengikuti rombongan teman-teman yang baru lewat di depan rumah.
***
Teng… teng… teng…
Lonceng berbunyi nyaring, seolah-olah berbicara menggantikan bapak ibu guru untuk menyuruh murid-murid berkumpul di halaman sekolah. Lonceng tua yang di gantung di depan kantor itu, ketika di pukul akan menghasilkan tumbukan hebat, dan serta merta keluarlah gelombang bunyi dengan frekuensi tinggi yang bisa memekakkan telinga orang yang ada di dekatnya.
Ani dan kawan-kawannya baru memasuki gerbang sekolah ketika dentuman lonceng itu berbunyi.
“Ayo-ayo cepat.. udah kumpul tu..” Kata windi, kepada teman-temannya.
“ Nyantai teman.. ngak kena hukum bah..” Sahut temannya yang lain.
Mereka segera menaruhkan sepedanya digarasi, dan langsung berlari memasuki kerumunan murid-murid yang berkumpul di halaman sekolah. Biasa.. satu bulan sekali, tiap hari sabtu ada kerja bakti, jadi ngak belajar. Maklumlah.. sekolah di desa. kalau dibiarin lama-lama rumputnya bisa setinggi lutut.
Setiap sabtu pagi, mereka juga mengadakan senam bersama. SKJ 1997, membangkitkan semangat juang untuk menjaga kesehatan. He.. he.. itung-itung, sekalian buat pemanasan sebelum terjun kelapangan untuk membasmi rumput-rumput liar yang ada di halaman sekolah mereka. dan setengah jam kemudian, senam selesai… barisanpun dirapikan kembali.
“Anak-anak.. hari ini kita bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah kita. bapak harap tidak ada yang duduk-duduk nyantai dan main-main. Cepat selesai dan cepat bersih, setelah itu.. kita pulang.” Pak Tri, wakil kepala sekolah mengambil alih komando. Yap.. pak Tri salah satu guru yang disegani di sekolah mereka. Badannya tinggi, besar dan berwibawa. Anak-anak SMP itu, tidak ada yang berani melanggar apa yang di perintahkannya. Coba aja kalau ketauan ada yang bertingkah, walaupun nampak dari jauh, pasti langsung dihampirinya dengan membawa kayu kecil di tangannya.
***
“ Ndi.. mau kemana..?” tanyanya kepada windi.
“ Kekantin yok.. mau ikut..?” Sahut Windi.
“Ndak ah.. malas, aku nitip es ya..”
“ok..”
Ani dan beberapa temen cewek yang lain lebih suka bermain dan bercerita di kelas, atau sekedar menggambar indahnya panorama alam di papan tulis. Tapi keseringannya sih menggambar benang kusut. Atau kadang-kadang meniru gaya guru-guru menjelaskan pelajaran. Sedangkan anak-anak cowoknya, ah.. entahlah. Pada berhamburan ndak karuan. Ada yang lagi kejar-kejaran main bola di lapangan belakang sekolah, ada juga yang sedang memanjat pohon asam di dekat lapangan.
Ani menerawang menembus jendela kelasnya. Lapangan sepak bola yang letaknya tepat di belakang kelas 1 itu, dengan jelas dilihatnya. Temen-temannya yang cowok bermain sepak bola seperti ayam rebutan makanan. “apalah.. sukanya bermain sepak bola tu.. dahlah panas, capek..” Kata Ani pada temen-tmennya. Yang kemudian diiyakan sama beberapa temennya yang lain. Emanglah.. anak cewek kan ngak suka main sepak bola.
***
Teng.. teng.. teng…
Loncengpun kembali berbunyi. dan sekarang tidak perlu menunggu aba-aba lagi. Tanpa penghormatan, Bubar Jalan!! Belum disuruh bubarpun, semuanya sudah berhamburan seperti anak ayam. Saatnya mereka pulang.
Ani dan temen-temannya keluar dari kelas dan berjalan ke garasi samping sekolah. Jarak kelasnya lumayan agak jauh dari garasi sepeda.
“ Ayo cepat teman-teman..” Teriak Anton pada teman-temannya yang cowok dari kejauhan.
Ani ngak tau apa yang sedang mereka lakukan. Pas nyampai di depan perpustakaan sesaat kemudian terdengar teriakan.
“Lari………..!!” Seperti satu komando, temen-temannya segera berlarian semua.
Ani ngak tau apa yang terjadi, karena posisinya paling belakang. Dan kemudian,
“Aduh…” setengah teriak ani menahan sakit, seperti ada sesuatu yang menghantam kepalanya.
“Ani ndak apa2..” Tanya Windi
“Ndak.. ndak papa kok.. yok cepat pulang yok…” Muka Ani memerah menahan rasa marah, sakit dan air mata. Namun tidak di nampakkannya kepada teman-temannya.
Sepanjang jalan ia tak banyak bicara, di kayuhnya sepedanya cepat-cepat. Jarak rumahnya ke sekolah bukannya dekat, butuh waktu 30 menit untuk bersepeda. Untung aja waktu pulang jalannya banyak turunannya ketimbang tanjakan. Beda ketika waktu ia berangkat sekolah, perlu 3 kali turun dari sepeda ketika naik tanjakan yang tinggi, ya iyalah.. jalan di desa. gi mana enggak coba.. jalannya naik turun, terus aspalnya sudah berlobang-lobang dan batunya betebaran di sepanjang jalan. kalau ngak hati-hati, wah gawat.. bisa jatuh berkali-kali. Kalau jadi kodok sih tinggal lompat. Tapi kalau jatuh terus ketimpa sepeda.
“Kenapa harus aku.. coba mereka aja.. dasar anak cowok suka usil!” gerutunya dalam hati. Ia belum habis pikir ketika Anton sama teman-temannya merencanakan agenda perusakan rumah itu. “Bukankah mereka tidak mengganggu, kenapa harus di ganggu, dan sekarang kenapa aku yang harus kena getahnya..” Rasanya ingin sekali ia marah. Kalau ia bisa, di marahnya habis-habisan anton sama teman-temannyanya itu. Tapi, ia paling tidak suka berhubungan dengan makhluk yang namanya cowok.
***
“Assalamu’alaykum..”
“wa’alaykumsalam..” jawab anti (adeknya) dari dalam rumah.
Ani kemudian masuk dan langsung ke belakang. Ia cuci tangan, kaki dan muka. Kepalanya masih terasa sangat sakit. Mamak sama bapaknya belum pulang dari ladang, karena baru pukul 10.20. Setiap kerja bakti, sekolah biasanya memulangkan murid-muridnya lebih awal.
“ ndok… ambilkan mba’ minyak atau balsam..” mintanya pada adeknya.
“oleskan di kepala Mb’ ya… sakit…” Air matanya udah mau keluar menahan rasa sakit, untung aja ngak sampai matanya ikut-ikutan bengkak. Cuman kepalanya yang belakang ada dua benjolan, ya.. tidak terlalu besar lah, tapi kalau di sentuh pakai tangan, terasa benjolannya dan rasa sakit nya yang pasti.
“ Kena apa mba’..”
“ Di sengat lebah..” Jawabnya singkat.
“Kok bias sih ngak ketauan kalau ada lebah..”
“Iya.. tau.. tapi mba’ ngak sempat lari tadi… temen-temen mba’ sih.. usil, udah tau rumah lebah tu besar, masih di jolok2 pakai galah.. kalau joloknya ngak ada orang sih urusan dia.. tapi ini.. orang lagi pada lewat..” Hatinya belum bisa menerima, rasanya masih kesal sama anton dan temen-temannya yang menggagu rumah lebah tadi.
“mba’ kesal.. ma mereka, Bukan hanya karena mba’ yang jadi korbannya, tapi lebih karena sifat mereka yang jahil dan suka usil yang membuat mba’ lebih geram. Ngak mikir apa kalau perbuatannya itu juga akan merugikan orang lain.” Ia nyerocos mengungkapkan kekesalannya.
“ Ya udah lah mab’.. mau gi mana lagi coba.. nanti juga mereka bakalan nerima akibat perbuatannya sendiri..” hibur adeknya.
“Mba’.. tadi adek ada dapat cerita dari guru agama di sekolah.. mau dengar nggak..?“
“Ngak mau.” Jawabnya singkat dengan muka yang masih agak cemberut.
“Mba’.. dengarkan, pokoknya harus dengarkan..” Sambil digoncang-goncangnya tubuh Ani.
“Iya.. iya.. mba’ dengarkan.. ceritalah..” Ani mengiyakan adeknya, dari pada badannya sakit semua. Adeknya memang seperti itu, kalau punya kemauan harus dituruti.
“Mba’.. tadi Pak guru menceritakan tentang sifat terpuji.” Adeknya memulai cerita.
“ Pak guru mencontohkan tentang lebah.. kata pak guru, lebah itu tidak suka usil… tidak suka mengganggu kalau tidak ada yang menyakiti.. terus katanya lagi, Lebah itu sukanya hanya makan sari-sari bunga yang baik. dan menghasilkan madu yang baik yang sangat bermanfaat bagi manusia..”
Ani hanya diam mendengarkan adeknya bercerita.. “ terus apa lagi..” katanya.
“ makanya kata pak guru, kita harus mencontoh lebah.. tidak boleh suka mengganggu, terus kita juga harus berbuat baik kepada semua orang.. sama orang tua, kakak, adek, teman-teman.. sama semuanyalah.. termasuk sama tumbuhan dan binatang.. gitu..”
“Iyalah tu.. sip.. sip..” Ani menambahkan.
“jadi.. yang mba’ kena sengat lebah tadi tu.. ada hikmahnya juga.. he..”
“ O.. gitu ya.. hmm.. iyalah bu guru…” Ani mengacau adiknya.
“he..he..” sang adik mengekeh kecil memecahkan suasana.
Adek manjanya yang manis, selalu bisa membuatnya tersenyum. Tidak ada satu haripun yang terlewatkan tanpa cerita-ceritanya. Canda tawa merekalah yang selalu menghiasi istana kecil mereka di pegunungan pinggiran bumi Sebalo.





Jilbabku,Kau tak Akan Kuikat Lagi

By : Uswatun Hasanah KPK
***
Langit kapuas yang memancarkan cahaya jingga menyambutnya dengan senyuman hangat. Sejenak ia tertegun mendengar sayup-sayup semilir angin yang berbisik “ selamat datang teman”. Daun-daunpun segera melambaikan tangan menyambutnya dengan penuh keriangan. ia merasa sangat.. bahagia, bisa kembali ke tempat ini. Memasuki pintu gerbang universitas tertua yang ada di bumi Khatulistiwa. ini adalah kali ke dua ia memasuki pintu gerbang itu, dan sekarang ia telah resmi menjadi salah satu penghuni di dalamnya.

Na.. kita udah nyampai.. ini kos kita.” kata kak Lia membuyarkan lamunannya.
“ he.. iya.. kosnya nggak terlalu jauh ya kak dari kampus..”
“ iya.. nggak jauh kok.. jadi ntar bisa jalan kaki..”

Nana segera mengikuti kak Lia menuju kamar mereka. Nana memang sebelumnya tidak pernah melihat atau mencari kos untuk ia tinggal. Untung ada kak Lia yang baik hati yang menawarkan tempat untuknya. Walaupun mereka baru kenal, kak Lia telah menjadi sosok seorang kakak baginya. Kak Lia orangnya sangat supel, jadi bisa mengimbangi sifat Nana yang masih canggung dan cenderung agak pendiam. Mungkin disebabkan Nana masih baru disana.
***
Pagi ini ia kebingungan.. setiap mahasiswa baru diwajibkan berkumpul di kampus. Ia belum tau jalan ke kampus lewat mana. Belum lagi ia tidak punya baju, bajunya masih di paketkan di taksi, karena kemaren ia berngkat pakai motor sama kak Lia. Kak Lia sepertinya tau apa yang ia bingungkan..

“ Na.. ntar kalau ke kampus, sama kak dhe dan angah aja.. satu kampuskan... nanti insyaAllah paketannya kakak ambil, hari ni pakai baju kakak dulu ya..”

“hmm.. iya kak.. makasih kak ye..”

Ia telah bersiap-siap pergi ke kampus.. memakai baju kak Lia… sepertinya ada yang agak aneh.. bawahan baju kak Lia rok.. semua, nggak ada yang celana. dalam hati ia berkata, “kok rok semua.. celana panjangnya mana?? Kan lebih enak kalau pakai celana.”

Iapun berangkat bersama-sama kak dhe dan angah, teman barunya yang ia kenal tadi malam. Kak dhe dan angah sama seperti Nana, mahasiswa baru di kampus orange. Mereka jalan kaki sama-sama, dan sepanjang jalan itu, mereka saling bertanya dan bercerita. Nana agak penasaran dengan teman barunya. Sosok dua orang temannya yang baru di kenal ini emang agak aneh.. dengan jilbab yang melambai-lambai dan rok lebarnya.

“ kak dhe sama angah satu sekolah ya.. dari pesantren mana??” tanyanya kemudian.
“ Iya.. satu sekolah.. Kak dhe ma angah bukan dari pesantren.. tapi dari SMA.. ada apa Na..?? ada yang anehya..?? jawab kak dhe. Sepertinya ia tau apa yang dipikirkan Nana.

“Oh.. dari SMA. Nggak kok.. kirain tadi dari pesantren.. berarti Nana salah dong.. hmm.. jadi malu.. he..” jawabnya sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
Tadinya ia beranggapan temannya itu dari pesantren.. karena selama ia sekolah, belum pernah ia menemukan yang pakaiannnya seperti ini. Bahkan di sekolahnya sekalipun.. yang notabenenya sekolah Islam, karena Nana lulusan dari Madrasah Aliyah. Pada saat itu Nana benar-benar malu dengan teman barunya.. “ masa aku yang dari MAN masih seperti ini sih..” pikirnya dalam hati.

***
“Na.. mau kemana?? Tanya kak Lia.
“Nana mau ke warung kak.. kakak mau nitip ke??”
“O.. ke warung.. belikan sabun ya..” kata kak Lia kemudian. “Pakailah kaos kakinya..”

“ emang ngapa kak..” jawab Nana polos.
“hmm.. Kakikan aurat..” kata kak Lia..
“ iya ya kak.. jadi harus pakai kaos kaki lah ya..”
Ia bertanya pertanyaan yang tidak perlu di jawab. Dalam hati ia agak keberatan, “masa mau keluar ke warung sebentar harus pakai kaos kaki sih.. ”. Tapi kata-kata kak Lia tidak dapat ia tolak. kemudian iapun memakai kaos kakinya, sebuah kebiasaan yang sangat aneh baginya.

Nana tipe orang yang pengikut.. ia tidak suka membantah. Namun bukan berarti ia suka ikut-ikutan.. ia tetap punya prinsip dalam hidupnya. Ketika apa yang disampaikan itu baik dan benar, maka ia tidak punya alasan sedikitpun untuk menolak. “lihatlah apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan”. Sama seperti apa yang yang dikatakan oleh kak Lia hari ini. Ia tau benar tentang hal itu. Bahkan tiga tahun selama ia di Madrasah Aliyah, cukup baginya untuk memahami tentang batasan-batasan aurat laki-laki maupun wanita. Ia masih teringat ketika guru fiqihnya menjelaskan tentang masalah aurat, “ laki-laki itu, auratnya dari pusat sampai ke lutut. Kalu wanita auratnya seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, jadi semuanya harus tertutup, tidak boleh transparan dan menampakkan lekuk tubuhnya.” Ia tidak bisa melupakan begitu saja ilmu yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah.

Pikirannya galau. Ia masih memikirkan dua kejadian yang dialaminya hari ini, hari pertama ia menghabiskan seluruh waktunya di bumi Khatulistiwa.
Ada perdebatan hebat antara nafsu dan nuraninya, nafsu yang sulit untuk di kekang dan cenderung menyeretnya ke lembah kehinaan. Namun hati nuraninya yang disinari cahaya iman, tidak akan pernah sedikitpun berbohong. “kenapa aku tidak pernah memikirkan ilmu-ilmu agama yang aku pelajari di madrasah.

Jadi.. Untuk apa ilmu yang aku pelajari.. tapi ternyata selama ini masih banyak yang belum aku aplikasikan..” Ia teringat akan nasehat gurunya, “ilmu itu ibarat sebuah pohon, ia akan berguna ketika di amalkan, pohon itu akan bermanfaat ketika berbuah. Ilmu yang tidak di amalkan ibarat pohon tanpa buah yang akhirnya akan mati”. Sungguh.. hari ini, menjadi hari yang penuh perenungan bagi nya.

***

Waktupun terus berlalu, Ia mulai belajar membiasakan diri menutup aurat dengan sempurna. Ia bersyukur Allah menyadarkannya lebih cepat .
hampir satu semester ia kuliah. Pada liburan semester ini ia wajib mengikuti PPM yang di laksanakan oleh Himanya.

Hari ini ia berencana membayar uang PPM, kepada bendahara PPM. Ia masuk ke ruang kelas sebelah. Dilihatnya masih ada bebarapa kakak senior di sana.
Tiba-tiba ada seorang kakak menghampirinya..
“ Dek… coba jilbabnya ndak usah di ikat.. ikatannya di lepas aja.. nah kayak gini.. kan bagus.. lebih anggun..” kata kak Nuri sambil melepaskan ikatan jilbab Nana yang masih terikat rapi di depan dada.

Seorang kakak yang sangat ia kenal dan ia segani. Ia tidak sadar bahwa selama ini kakak itu selalu memperhatikannya. Dan ia juga tidak sadar ternyata selama ini, gaya jilbabnya masih sama seperti saat ia masih di Madrasah Aliyah, diikat pas di depan dada. Itu tandanya ia belum berjilbab dengan sempurna, karena jilbabnya belum ia ulurkan menutupi dada.

Ia merasa malu. malu.. sekali.. Teguran lembut kak Nuri ibarat angin puting beliung yang tiba-tiba menghempaskannya.. menyeret dan menyadarkannya. Kak Nuri tidak banyak berkata, ia langsung menunjukkan dengan perbuatannya.
Sejak saat itu ia tidak pernah lagi mengikat jilbabnya. Bisikan-bisikan “Angin Hidayah” mulai merasuki relung-relung hatinya. Dalam diam ia berdo’a, “ Ya Allah.. Jadikanlah aku muslimah seutuhnya.. yang tetap istiqomah untuk melaksanakan perintahmu.”

“jilbabku!! sekarang aku tidak akan pernah mengikatmu lagi. Aku bebaskan engkau menjuntai menutupi tubuhku..”

Dan katakanlah kepada pada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan jangnlah menampakkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya (Q.S An-Nur : 31)

Minggu, 13 November 2011

Jangan Egois

By : Akhiarden KPK
Setiap hari dalam kehidupan kita pasti selalu berdoa kepada Allah SWT,meminta apapun yang kita inginkan.Doa menjadi hobi yang paling digemari oleh manusia ketika mereka mengalami kesusahanSetelah berdoa akan selalu hadir rasa optimis dan berkecambahnya harapan baru dalam melewati titian kehidupan.Hadir rasa yang teramat melegakan hati,seolah-olah tumpukan masalah jatuh satu persatu dari punggung kita.

Namun,pernahkan kita menyadari bahwa kita cenderung egois dalam berdoa,seringkali bahkan teramat sering lantunan doa yang terucap dari lisan kita teruntuk diri kita sendiri.Seandainya kita berdoa hanya lima kali sehari,yakni setiap habis menunaikan sholat fardhu lima waktu.Coba hitung adakah diantara lima kali doa tersebut pernah terlantunkan buat ayah,ibu,kakak,abang,adik,keluarga terdekat,dan teman-teman seperjuangan? Pernahkah dalam lima waktu tersebut ada waktu khusus yang kita sediakan untuk mendoakan mereka?.Kalau jawabannya iya,maka bersyukurlah dan tingkatkan kulaitas ketulusanmu dalam mendoakan mereka setiap harinya.

Jika tidak mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan kita agar ada waktu special yang kita jadikan sebagai waktu memberikan kado terindah buat orang-orang terbaik yang menemani kehidupan kita.Ada banyak orang terdekat kita yang “cahaya hidayah” belum menyinari qalbu mereka.Ada banyak orang terdekat kita yang masih terbiasa bermaksiat,tak patuh jalankan syariat.Kalau nasehat tulus tak selalu dapat kita berikan kepada mereka,bukankah sebuah kiriman doa dapat selalu kita hadiahkan setiap harinya.

Jangan sampai ada kata-kata seperti ini

Hah….dasar kalian pelit wahai anakku.Setiap hari doamu hanya untukmu,tanpa pernah sedetikpun mengangkat tanganmu berdoa untukn ayah bundamu.Sungguh kami semakin menua,usia kamipun tak tahu sampai berapa lama.Tak risaukah kau anakmu dengan keadaan kami,sampai detik ini masih belum bersujud kepada Allah SWT,pencipta kita.Padahal dalam surah Adz Zariyaat ayat 56,telah jelas-jelas disebutkan,bahwa hadirnya kita didunia ini adalah untuk menyembahnya.Kami tak tahu kenapa hidayah itu belum singgah dihati? Kalau banyak nasehat belum mampu menyadarkan kami,mudah-mudahan kiriman doa tulus dari anak saleh yang kami cinta sepanjang hayat,mampu membuka kran hidayah “ALLah” untuk kami.Sungguh kami menginginkan,sebelum menutup mata,kami telah berserah diri kepada Allahhurabbi,merasakan kenikmatan jadi manusia pengabdi.

Hah…dasar kau egois saudaraku.Setiap hari tadahan tanganmu,komat-kamit mulutmu hanya untukmu tanpa pernah tersisakan doa itu untuk kami saudara sepertalian darah denganmu.Tak pedulikah kau dengan kondisi kami yang hari ini masih belum bisa sholat,belum mau menutup aurat dan semakin biasa meninggalkan syariat.Apakah kau hanya menginginkan surga itu untukmu wahai saudaraku.Kalau nasehat tulus jarang kau berikan,kenapalah doa yang teramat mudah dilantunkanpun tak kau berikan kepada kami.Apakah engkau hanya menginginkan persaudaraan kita didunia ini saja.Sementara kita berpisah dan tak pernah bertemu kembali diakhirat nanti?

Hah….dasar kau egois Mutarabbiku.Tak pernah kau doakan kami murabbimu.Padahal ketahuilah,keimanan itu terkadang naik dan turun.Tak pedulikah kau,seandainya kami tak mampu bertahan dijalan ini.Boleh jadi kehadiranmu dan ketulusan doamulah yang membuat kami sanggup bertahan dalam menghadapi suka duka perjalanan ini.Boleh jadi kiriman doamulah,yang buat pelita keimanan dihati kami masih terus menyala.Ketahuilah pelita itu akan padam,jika sumbu hidayah habis termakan api ketidakihlasan dan minyak bahan bakar semangatnya telah habis.Maka doakanlah agar sumbu-sumbu pelita itu selalu diperbaru setiap harinya dan minyak “kekokohan” tekadnya selalu tersedia.

Hah…dasar kalian pelit wahai temanku.Doamu hanya untukmu saja.Tak gusarkah hatimu melihat keadaan kami hari ini.Embun hidayah itu belum mau jatuh dihati kami.Maka wajar kalau kami masih tak tergerak sholat,tak sempat baca Qu’an,tak tertarik mengikuti kajian,tak mau dengarkan nasehat tulus darimu.Hadirkanlah wajah-wajah kami didalam doamu.Mudah-mudahan embun yang kami rindu itu benar-benar menetes di hati kami.Karena kami yakin tak selamanya kau sempat menasehati kami,tapi kami yakin doa tulus darimu kan dapat kau lakukan walau mungkin hanya sedetik,bukankah doa seorang teman/sahabat yang tulus dikala sepi dan tak diketahui teman/sahabat yang didoakan lebih mudah diijabah?

Sabtu,12 November,22.30
Ba’da pengajian pekanan

Spesial untukmu yang selalu melewati hari dengan berdoa untukmu sendiri.
Mari sempatkan satu waktu khusus untuk
mendoakan ayah& ibu,kakak adik & abang.

Keluarga-keluarga dan orang terdekat kita.
Teman-teman yang menemani kita
melewati pergantian hari.Guru,murabbi
dan orang yang telah memberikan inspirasi kebaikan buat kita.

Doakan agar “air hidayah” menyirami hati mereka yang kering kerontang.
Doakan agar”Pelita Keimanan” dihati mereka selalu menyala.
Kalau nasehat tulus tak mulu bisa kau berikan,bukankah doa kan selalu dapat kita lakukan?




Itsar

By : Akhiarden KPK
“Sungguh bahagia Ikrimah bin Abu Jahal.Dulunya dia adalah dedengkot kaum Quraish yang banyak menyiksa kaum muslimin di mekkahNamun subhanllah, Islam telah memuliakaannya dengan meninggal dalam keadaan syahid di medan jihad Yarmurk.Lebihdahsyat lagi dia syahid dalam keadaan itsar terhadap saudaranya sesaat sebelu m ajal menjemputnya”.Kata Duin kepada istrinya suatu hari.
“Ya bi,emang luar biasa Ikrimah,dan sungguh dia telah menjadi inspirasi banyak kaum muslimin sampai hari kiamat nanti”.Komentar istrinya.“Umi,sebetulnya kita semua bisa berlaku itsar seperti halnya Ikrimah bin Abu jahal dengan cara yang sederhana,termasuk kaum akhwatnya”.Lanjut Duin.Yang benar bi,kaum akhwat juga bisa berlaku itsar seperti Ikrimah Bin Abu Jahal?.Tanya istrinya.
Ya donk,bukan hanya mungkin,tapi sangat mungkin.Apalagi dengan kondisi saat ini.
Emang caranya Gimana?

Sebagaimana kita ketahui jumlah kaum akhwat itu kan lebih banyak 2 atau 3 kali lipat dibandingkan ikhwannya.Dengan perbandingan 1:3 atau 1:4. Bahkan mungkin lebih besar lagi tingkat perbandingannya. Benarkan??????
Terus hubungannya dengan Itsar yang bisa dilakukan kaum akhwat apa bi?
Abi rasa,pernyataan abi tadi sudah menjelaskan itu mi.
Pernyataan yang mana bi? Umi masih belum ngudenk ni?
Yah umi,seperti yang abi bilang tadi,akhwat kan jumlahnya lebih banyak dibandingkan ikhwan dengan perbandingan 1:3 sampai 1:4 atau lebih. Abi rasa inilah kunci itsarnya kaum akhwat.Umi juga tahu kan dari banyak akhwat itu tidak semuanya bisa menikah.Kalau ikhwan hanya menikah dengan satu akhwat,pasti banyak akhwat yang tidak menikah.Kasihan mereka mi,gak bisa merasakan surga dunia dan menjalani sunah rasul.Jadi itsarnya kaum akhwat masa sekarang adalah dengan mengikhlaskan atau mendorong suaminya menikah lagi…….Betul mi???,Setuju??
Hemm…..maunya…

Kalau umi sih itsar dengan cara yang lain aja.Tiga syarat yang umi ajukan dulu,jika abi ingin menikah lagi masih berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Ok,Tadi kan abi menjelaskan itsarnya kaum akhwat.Masuk akal juga walaupun cukup berat untuk menjalaninya.Lalu itsarnya kaum ikhwan masa sekarang seperti apa bi?


Itsarnya kaum ikhwan masa sekarang adalah dengan rela dan ikhlas tanpa ragu menikah lagi dengan akhwat yang direkomendasikan istrinya atau hatinya,walaupun mungkin dia sudah sangat berbahagia dengan satu istri sebelumnya….Sesungguhnya itu itsar yang cukup berat untuk dijalani.
Hemmm….

Gagal Ta'aruf

Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, seorang ikhwan yang telah berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Setelah proses awal sukses sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Kali ini adalah proses yang kali ketiga setelah dua kali sebelumnya gagal di tahap awal.

Ikhwan ini pun datang dengan tepat waktu yang telah dijanjikan ustadnya untuk bertemu. Dengan hati berdebar membayangkan sebentar lagi bertemu dengan akhwat calon pelengkap diennya.

Tidak lama kemudian murobbinya datang dan mendekatinya dengan wajah sedikit tegang.

Kemudian dengan hati-hati murobby membisikkan ke telinga si ikhwan: “afwan akhi, akhwatnya membatalkan ta’arufnya”. kata murobbinya.
Belum habis rasa kaget dan kecewanya sang murobby menyodorkan secarik kertas: “afwan akhi, antum baca sendiri saja alasan dari akhwatnya semoga antum paham mengenai alasannya” kata sang murobbinya.

Dengan hati bergetar dibukalah secarik kertas tersebut:

Assalamu’alaikum wr.wb.

Afwan Akhi yang sholeh. Maafkan saya jika tiba-tiba saya berubah pikiran untuk tidak melanjutkan proses ini. Mungkin saya bukan jodoh antum dan bukan pendamping yang cocok untuk menemani perjuangan antum dalam dakwah ini.
Karena saya tidak kuasa melawan keinginan orang tua dan keluarga, dan saya tidak mampu melawan tradisi keluarga.

Ketahuilah akhi bahwa kebiasaan dalam keluarga saya selalu menikahkan dengan keluarga dekat sendiri.

Ketahuilah akhi:
“Nenek nikah dengan Kakek”,
“Ibu nikah dengan Bapak”,
“Paman dengan Bibi”
“Dan Pakdepun nikah dengan Bude lho!”

Jadi saya gak bisa berbuat apa-apa, semoga akhi segera mendapatkan pendamping perjuangan antum.
Wassalam

Sumber: www.alimmahdi.com

Qiyamullail, Hadiah Istimewa Kita

Akhiarden KPK


Sahabat Fillah,Apabila empuknya kasur dan hangatnya selimut masih lebih kau sukai daripada meletakkan kening diatas sajadah dikeheningan malam,niscaya engkaupun akan merasa berat bila suatu saat diminta mengorbankan harta dan jiwamu di jalan Allah.Sebab,QL (Qiyamullail) yang merupakan ibadah gratis dan tidak mengandung resiko saja belum mampu engkau laksanakan,mana mungkin engkau bisa merasa ringan dan ikhlas melakukan ibadah yang menuntut adanya pengorbanan harta,jiwa dan raga darimu
(Akhiarden)


Kubuat tulisan ini untuk mengoreksi diriku dan mudah-mudah-mudahan bermanfaat buatmu,sahabatku.Disaat rasa malas menyerang untuk bangkit mengerjakan Qiyamullail.Maka diri ini akan mengingat kata-kata yang pernah diucapkan lisan sok menggurui ini.

“Sesungguhnya Qiyamullail adalah amalan gratis dan sangat istimewa yang selalu hadir setiap malam.Cukup bangun pada malam hari,misalnya pukul 03.00.Cukup lawan rasa kantuk yang luar biasa dan mata manja yang masih ingin dipejamkan.Cukup baca doa bangun tidur.Cukup segera bangkit dari kasur empuk atau tempat pembaringan yang sangat nikmat.Cukup bergegas kekamar mandi,cuci muka,gosok gigi dan bersuci.Cukup mengganti pakaian atau setidaknya menambahkan minyak wangi kepakaian.Cukup ambil sajadah dan gelar ditempat terenak untuk bersujud.Cukup kerjakan dua rakaat tahajud,ditambah dengan satu rakaat witir.

Cukup tambahkan jumlah rakaatnya sesuai kemampuan dan kemauan.Cukup berdoa apa saja sesuai dengan keinginan.Karena disaat 1/3 malam doa-doa diijabah.Atau setidaknya kita berdoa,”Ya Allah kuatkan hamba yang lemah ini untuk senantiasa bisa bersujud kepadamu dimalam hari yang dingin dan sepi setiap malamnya,dalam keadaan bagaimanapun,”.Setelah selesai silahkan kerjakan aktivitas yang lain.Cukup sederhana dan mudah bukan?

Sungguh kata-kata diatas pernah diucapkan lisan ini dan selalu menjadi penyemangat saat diri ini lemah.Kata-kata diatas juga yang menyebabkan diri ini takut dengan ancaman

Ash shaf:2-3

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Amalan gratis ini sungguh istimewa,namun banyak orang-orang yang tiada berkemauan mengerjakannya.Jadi teringat kata-kata agung sang Al Faruq.
‘salah satu hal yang membuatku betah hidup di dunia ini adalah karena adanya Qiyamullail,”.

Subhanallah,begitu pentingnya Qiyamullail buat sang Umar,sampai-sampai dia tidak betah berlama-lama hidup didunia.Teringat juga cucunya sang As Shidiq,”Urwah bin Azzubair” yang tiada pernah melewati malamnya tanpa Qiyamullail,kecuali pada saat malam kakinya diamputasi karena penyakit ganas yang menggerogoti kaki yang senantiasa menopang dirinya mengerjakan Qiyamullail.Teringat juga sang pemilik dua cahaya,”Ustman Bin Affan” yang pernah mengkhatamkan Qur’an saat Qiyamullail.Mereka benar-benar telah menghidupkan malam yang mati dan sunyi dengan amal istimewanya.

Para pejuang kebenaran yang telah pergi dan namanya masih abadi hingga kini,hingga kiamat nanti,adalah orang-orang yang tidak pernah melewatkan malamnya tanpa Qiyamullail.Idealnya para pejuang kebenaran hari ini adalah orang-orang yang juga mewarisi semangat itu. Karena jika Qiyamullail saja,amalan gratis yang tidak menuntut pengorbanan apapun tidak sanggup dikerjakan,bagaimana mungkin kita bisa sukses mengerjakan amalan lain yang menuntut pengorbanan harta dan jiwa?


Mari berhenti sejenak, kita baca lirik “Munajat seorang hamba” dari Hijjaz berikut!


Dikala malam sunyi sepi,Bani insan tenggelam dalam mimpi,Musafir yang malang ini pergi membasuh diri,Untuk mengadap mu oh tuhan,Lemah lutut ku berdiri,Di hadapan mu tangisanku keharuan,Hamba yang lemah serta hina,Engkau terima jua mendekati,Bersimpuh dibawah duli kebesaran-Mu,Tuhan hamba belum pasti,Bagaimana penerimaanmu,Dikala mendengar pengaduanku,Ku yakin kau tak mungkiri,Dalam wahyu yang Kau nuzulkan,Kau berjanji menerima pengaduanku,Dan Kau berjanji sudi mengampunkan ku,Dari segala dosa yangku lakukan,Ampunan mu tuhan,Lebih besar dari kesalahan insane,Hamba yakin pada keampunanmu tuhan,Bukan tidak redha dengan ujian,Cuma hendak mengadu pada mu,Tempat hamba kembali nanti di sana
(Hijjaz :Munajat Seorang Hamba)


Terima kasih hijjaz,kau ajarkan kami bagaimana seharusnya kami mengisi malam yang sepi.Semoga mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya kita bersemangat merengkuh kenikmatan Qiyamullail dan menjemput keutamaannya.Tidak pernah absen kecuali dengan udzur yang syar’i.Saling mengingatkan dan menguatkan.Mari bergabung dalam barisan QL (Qiyamullail Lovers)

Murobby Kaget

Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya.Tibalah pada waktu dan sebuah tempat yang telah di janjikan murobby. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan.

Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad’unya yang malu-malu ini,

“Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum?”

“Sudah Ustadz, saya mantap sekali stadz, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?”
Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan.

“Eh..gimana antum! Yang itu istri ana!”

sang ikhwan, dengan wajah yang tidak karuan “Gubrakk”

sang ustadz “Gubrax kuadrattt!!!”

Sumber :www.alimmahdi.com

Gara-gara Flasdisk

by: Rafa Alqinansa


Aku tak ingin semua berlalu begitu saja. Aku ingin di setiap detik aku hidup bisa menjadi sejarah indah yang bisa kukenang seumur hidup. Dan akan kuceritakan itu pada anak cucuku di masa tuaku. Masih banyak target-target hidup yang belum ku jalankan, walupun sudah terencana dalam benakku. Aku ikut banyak organisasi untuk pendewasaan diriku dan aku usahakan untuk aktif di lima organisasi yang telah aku ikuti.
Hari-hari ku lalui dengan kesibukan. Bahkan, aku sering pulang larut malam karena kegiatanku. Aku merasa tak enak hati dengan orangtuaku. Hanya di pagi hari saja aku bisa membantu membersihkan rumah. Setelah itu, aku pergi dan kembali bergelut dengan organisasi-organisasi. Yah, begitulah aku yang sekarang. Walau kadang aku kecewa dengan diri sendiri, karena belum bisa membuat kedua orangtuaku bangga.
^_^

Saat itu aku sangat lelah. Aku baru saja pulang mengajar les privat. Tapi aku harus kembali mengerjakan laporan kegiatan yang belum rampung kukerjakan dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Aku segera mengobok-obok tasku untuk mengambil flashdisk yang berisi data-data penting. Dari mulai urusan kuliah, urusan organisasi, hingga urusan pribadi yang tak boleh diketahui orang lain. Tapi, aku tak menemukan keberadaan flashdisk-ku. Padahal di hari itu, aku tak meminjamkan pada siapapun flashdisk itu.

“Ma…ada liat flashdisk Ribka nggak?”, tanyaku pada Mama yang sedang membuat kue.
“Loh, mama nggak tahu..Ribka kan nggak pernah naruh flashdisk sembarangan..”, jawab Mama enteng sambil mengadon kue.
“Yah..jadi kemana dong?”
“Mungkin jatuh di kampus…”

Hmm..mungkin yang dikatakan Mama benar. Lalu, aku menghubungi teman-teman yang bersamaku dikampus hari ini. Tapi, tak ada satupun yang tahu perihal flashdisk-ku. Kali ini aku menghubungi orang yang tak bersamaku di hari ini. Tapi entah kenapa, pikiranku tertuju pada Mas Rangga, abang kelasku saat SMA yang sudah lama akrab denganku. Ia keturunan Jawa tulen, oleh karena itu aku memanggilnya dengan sebutan “Mas”. Orang yang berlainan dengan kampusku, dan aku tidak bertemu dengannya hari ini. Tapi, aku bertemu dengannya kemarin. Lalu, aku memutuskan untuk meneleponnya.

“Halo, Assalamu’alaikum..”, sapaku membuka pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam. Ada apa nih, Rib? Tumben nelpon? Kangen yah? Atau kamu…”, sahutnya tanpa memberiku kesempatan berbicara.

“Ntar dulu! Ribka belom ngomong udah nyerocos aja nih!”, kataku ketus.
“Iya, iya, maaf…trus ada apa?”
“Hmm…liat flashdisk Ribka nggak?”

“Loh, jauh banget nanyain flashdisk sampai ke Mas? Ribka mikir Mas yang ngambil flashdisk-nya ya?”, kata Mas Rangga dengan nada curiga.
“Bukan gitu maksudnya, Ribka kan cuma nanya. Kali aja bener Mas yang megang flashdisk Ribka sekarang”, kataku.

“Oh, gitu..selamat ya!”, suaranya bernada mengejek.
“Selamat buat apaan? Orang lagi mumet juga!”, geramku.
“Selamat mencari flashdisk! hahaha..”katanya sambil tertawa.
“Tapi…”,
Tut, tut, tut, tut…

Tiba-tiba Mas Rangga menutup telepon. Padahal aku masih ingin bertanya-tanya.

Duh…siapa sih yang resek bawa flashdisk ku? Untung saja, data-data kuliah dan organisasi sudah aku salin ke Chiba, laptopku. Tapi di flashdisk itu, ada data yang benar-benar aku perlukan. Ada cerpen yang telah ku buat untuk kukirimkan ke koran. Dan cerpen itu adalah tiketku agar bebas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah yang berkaitan dengan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sudah kebiasaanku, setiap menulis cerpen hanya ku simpan di flashdisk. Tapi, sekarang aku kehilangan cerpen itu saat aku benar-benar membutuhkannya. Aku hanya bisa cemberut.
^_^

Tiga hari berselang…
Aku masih belum menemukan Klik, flashdisk-ku tersayang. Yang nggak cerewet dan selalu bebas virus-virus berat yang membahayakan PC orang lain. Tapi, terkadang mengandung virus-virus ringan yang sangat banyak. Yah, begitulah Klik. Hehehe…

Malamnya, Mas Rangga bertandang kerumahku untuk menitip pamflet acara di kampusnya. Seperti biasa, ia enggan masuk kedalam rumahku. Aku kembali menanyakan flashdisk-ku.
“Beneran nggak ada ngeliat flashdisk Ribka?”
“Emang isinya apaan sih?”
“Isinya itu, ada cerpen yang udah selesai dan mau Ribka kirim ke koran. Supaya bebas UAS. Hehehe…”
“Oooh...kasihan, mau ngirim cerpen supaya bebas UAS, malah flashdisknya nggak ada”, ejeknya.
“Ih, udah ah! Bukannya bantu nyariin, malah bantu ngeledekin Ribka mulu nih!”, kataku ketus.
“Ya udah…kalo gitu gini aja…Abang pulang dulu ya…Assalamu’alaikum”, dengan segera Mas Rangga menstarter motornya dan berlalu dari pandanganku. Dasar menyebalkan!
“Wa’alaikumsalam”, jawabku lirih.
^_^

Keesokan paginya, aku bergegas ke kampus. Aku bangun kesiangan karena membuat cerpen hingga larut malam. Tapi, cerpennya masih belum selesai. Aku ketiduran di depan Chiba. Tapi, nasib baik masih berpihak padaku. Dosen menyeramkan itu belum masuk ke kelas. Setidaknya, ada sedikit waktu untukku menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. Betapa leganya aku…
“Teman-teman, hari ini Pak Theo nggak masuk karena ada urusan di luar kota. Aku baru aja dapet SMS nya nih…”, kata Bobi, ketua tingkat kami sambil menunjukkan ponselnya.

Fiuh…aku lega sekali mendengarnya. Jadi, aku masih bisa melanjutkan membuat cerpen. Cerpen ku berjudul Perginya Sang Adinda, yang mengisahkan kasih sayang kakak kepada adiknya yang cacat fisik dan memiliki komplikasi berbagai penyakit dalam. Cerpenku ini penuh dengan keharuan dan perjuangan. Rencananya akan ku kirim besok saja, kalau hari ini aku bisa merampungkannya. Dan aku harap bisa diterima di koran. Semoga.
^_^

1 bulan kemudian…
Klik-ku belum juga ditemukan. Aku bingung dan resah. Apa sih untungnya ngambil flashdisk yang harganya nggak seberapa, dengan kapasitas Cuma 1 GB? Kalo ketemu dengan orang yang ngambil, bakal aku tabok! Bila perlu akan ku jadikan tukang ojekku antar jemput kuliah selama masa hilangnya flashdisk itu. Lumayan, ngirit bensin. Hehehe…

Hari ini hari Minggu. Papa ku biasa membeli koran hari Minggu. Aku selalu menunggu beliau membeli koran di hari Minggu. Dan berharap cerpenku dimuat tentunya.
Benar saja, aku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Cerpenku dimuat! Tertulis nama lengkapku dan nama kampusku. Aku bersorak dalam hati dan juga bersorak sorai dengan suara. Sehingga rumah ribut karena teriakan girangku. Dan adik-adikku mengomel karena keributanku.

“Alhamdulillah, ya Allah..cerpenku diterima. Itu artinya Ribka bebas UAS! Ma…Pa… Ribka nggak ikut UAS dan langsung dapat nilai sempurna. Ribka senang banget!”, ceritaku pada orang tuaku yang sedang bercengkrama sambil loncat-loncat kegirangan.

“Haduh…lihat deh, Pa. Begini nih kalo lagi senang berlebihan. Hati-hati nak, nanti perutnya sakit gara-gara kebanyakan loncat-loncat”, kata Mama mengingatkan.
“Masa sih bisa di muat? Coba sini Papa lihat”, kata Papa ku seraya mengambil koran yang sudah nggak karuan bentuknya. Lalu, Mama juga ikut melihatnya. Mereka tersenyum bersamaan. Membuatku tersenyum lebih mengembang lagi. Sampai kurasakan pegal bibirku puas tersenyum. Tapi, tiba-tiba Mama mengernyitkan dahinya.

“Rib, kamu yakin ini cerpen yang kamu kirim kemarin?”, tanya Mama.
“Yakin dong, Ma. Memangnya kenapa?”, tanyaku lagi.
“Hmm…Mama sempat lihat cerpen kamu waktu kamu ketiduran di depan laptop. Tapi, judulnya bukan ini, deh… Coba kamu lihat,” ujar Mama sambil mnyerahkan koran kepadaku.
Dan betapa terkejutnya aku, judul cerpen yang ku lihat bukanlah yang ku kirim kemarin. Aneh, judul cerpen itu adalah judul cerpen yang hilang bersama Klik. Timbul tanda tanya besar dalam hatiku. Siapa yang mempublikasikan cerpenku hingga di muat di koran? Pasti ia yang telah mengambil Klik.
^_^

UAS pun tiba. Untuk mata kuliah yang satu ini, aku senang bukan kepalang. Aku bebas UAS. Aku hanya mengumpulkan guntingan cerpenku kepada dosen.

“Wah…bagus,bagus…karya kamu sudah bisa diterima di koran. Nanti akan ibu baca cerpennya. Kamu ibu nyatakan bebas UAS dan langsung mendapat nilai sempurna”, tutur beliau.
Aku benar-benar bahagia bisa lolos dari UAS mata kuliah ini. Yang bebas UAS hanya aku dan Airin, sahabatku. Kami merasa tidak enak juga dengan teman-teman. Tapi, kami sudah berusaha untuk ujian ini. Dan alhamdulillah karya kami mendapat respon positif dari media. Aku dan Airin menjauh dari lokasi UAS. Kami tak ingin mengganggu konsentrasi teman-teman yang sedang berjuang. Semangat teman!

“Rin, sebenarnya cerpen yang dimuat dikoran itu…”
“Kenapa cerpennya, Rib? Yang jelas, kamu nggak plagiat kan?”, tanya Airin.
“Nggak kok, Rin…itu murni karyaku. Kamu tau kan flashdisk-ku hilang sekitar 1 bulan yang lalu?”, tanyaku.

“Iya, aku tau… Kalo nggak salah, kamu bilang disitu ada cerpen yang udah kamu siapin buat dikirim kan?”, kata Airin mencoba mengingat-ingat.
“Nah, itu dia, Rin… Cerpen yang dimuat itu, cerpen yang ada di flashdisk-ku! Aneh kan?”, kataku.
“Hah, masa sih, Rib? Kok bisa?”
“Aku nggak tau, Rin… Kenapa yang ngambil itu nggak permisi dulu ke aku?”, kataku lesu.
“Ah, kamu ini… Kalo pake permisi bukan hilang flashdisk-nya, tapi dipinjem! Ngelawak bu?”, kata Airin yang dilanjutkan dengan tertawa. Aku menggembungkan pipi sambil cemberut melihatnya. Ia salah tingkah, lalu berusaha mengendalikan dirinya.

“Tiap lagi mumet, aku di ketawain. Sama aja tuh kayak Mas Rangga! Sebeeeeell tau!!”, gerutuku.
“Iya deh, maaf yaa…sahabatku yang centil, Ribka Arsya Maharani…”, kata Airin mengejek.
Aku masih cemberut dan tak menanggapi Airin. Tapi, Airin kelihatan berpikir sambil menaruh jari telunjuk menopang dagunya. Lalu tiba-tiba…

“Aha! Kamu udah coba tanya sama Bang Rangga?”,kata Airin mengejutkanku.
“Bikin kaget aja kamu, Rin! Udah aku tanyain sama dia. Seingatku, aku nanyain sejak… tiga hari flashdisk-ku hilang!”, kataku dengan nada meninggi.
“Jiaah…coba deh kamu tanya lagi. Bisa jadi dia tuh yang ngambil flashdisk kamu. Coba aja lagi..”, kata Airin menyarankan.

“Ntar malem deh, aku coba tanyain lagi. Jam segini dia sibuk”, kataku.
“Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin. Ke kantin yuk?”, ajak Airin.
“Yuk, lagian udah haus juga nih…hehe”
^_^
Malamnya, aku ingin mencoba menanyakan kembali tentang flashdisk itu. Pada saat aku ingin menelepon, ponselku bordering. Ku lihat layar ponselku.
 Mas Rangga Jelek
memanggil…
Segera ku jawab telepon darinya.
“Halo, assalamu’alaikum”, sapanya lembut. Ini tak biasanya.
“Wa’alaikumsalam, Mas. Ribka mau nanyain tentang…”,kata-kata ku terpotong.
“Flashdisk kan?”, terka Mas Rangga.
“Iya. Kok Mas tau? Jangan-jangan beneran Mas nih yang ngambil? Haduh, kenapa nggak mau ngaku sih?”, tanyaku penasaran.
“Selamat ya cerpen kamu dimuat di koran”,tuturnya.
“Ih, lain ditanya lain yang dijawab. Jawab dulu dong!”,kataku yang mulai kesal.
“Yeee….kok maksa banget sih? Memang Mas kok yang ngambil flashdisk Ribka! Puas?”, katanya menantangku.

“Hah? Buat apa Mas ngambil flashdisk-nya? Jahat!”, kataku yang hampir saja menangis.
“Awalnya, Mas cuma pengen ngerjain. Habisnya pas kemaren kita ketemu, kamu tinggalin flashdisk-nya gitu aja. Ya udah, Mas ambil aja. Trus, kamu bilang mau ngirim cerpen ke koran. Ya udah, Mas kirimin aja ke koran pake nama kamu dan nama kampus kamu. Alhamdulillah diterima kan? Hahaha… Jangan marah ya, Rib… Ntar manisnya hilang loh! Hahaha…”, ujarnya bercerita dibumbui dengan meledekku.
“Tapi, Mas udah buat Ribka panik sebulan tau! Nyebelin banget!”, kataku menahan kesal.

“Nah, Mas nggak bakalan ngasitau dan ngembaliin flashdisk kamu kalo nggak keterima di koran. Padahal, rencananya mau nahan flashdisk-nya 1 ½ bulan sejak Mas kirim. Tapi, udah terbit duluan. Alhamdulillah dong…hehehe…”,katanya dengan cengengesan.
“Hmm…oke, oke! Mumpung belom terlalu malem, balikin sekarang! Nggak pake lama!”, kataku memerintah.
“Siap, Bos! Mas Rangga yang ganteng akan segera meluncur…Assalamu’alaikum”, katanya menutup pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam…”, jawabku.
^_^

Setelah menunggu sekitar 1 jam, Mas Rangga baru nongol. Dan aku yang menunggu pun makin dongkol.
“Assalamu’alaikum”, sapanya dari atas motor.
“Wa’alaikumsalam”, jawabku. Lalu, keluar rumah menghampirinya.
“Ini flashdisk nya. Eit…eit…eit…”, ia memain-mainkan flashdisk-ku sehingga membuatku sulit mengambilnya.
“Ooh…mau diteriakin maling nih?”, tanyaku menantang.
“Iya deh, iya…nih”, sambil memberikan flashdisk ku.
Mas Rangga sudah memutar stang motornya hendak bergegas pulang. Tapi, aku buru-buru mencegatnya.

“Jangan pulang dulu… Ada oleh-oleh khusus nih, buat Mas. Satu aja nggak apa-apa kan?”,tanyaku sambil bersiap-siap.
“Memangnya apaan?”,tanya Mas Rangga.

BUKK!!
Tabokanku menyentak bahunya dengan keras. Ia mengaduh sambil minta ampun.
“Ampun, Rib… satu aja nggak apa-apa kok. Malah Mas nggak mau dua kali… ampun…ampun…”, katanya memelas.
“Dasar wanita!”, gumamnya. Dan aku mendengar itu.
BUKK!! Untuk yang kedua kalinya.

“Haduh…kan tadi udah dikasih satu…kok jadi gratis satu lagi sih naboknya? Langsung pegel nih badan. Ayo pijitin!”,protes Mas Rangga.
“Ooh..minta sekali lagi?”, tanyaku menahan geram.

“Nggak, nggak… udah baikan kok… ini udah bugar habis di tabok”, sambil memperagakan gerakan bahu yang biasa dipakai senam.
“Halah… Oh iya, satu lagi, Mas harus antar jemput Ribka selama flashdisk itu hilang dari Ribka!”, pintaku.
“Hah? Nggak ada syarat lain?”, tanya Mas Rangga.
“Nggak ada! Deal?”, kataku.

“Terpaksa, deal. Daripada nggak di maafin seumur hidup. Huh…”, keluh Mas Rangga.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Hal ini akan membantuku menghemat uang jajanku sebulan. Lumayan, uang bensin bisa dipakai untuk nabung. Terima kasih Mas Rangga yang baik hati. Hehehe…

Hari yang Suci

By: Beni KPK

Hari-hari yang penuh hikmah nan barokah
Bertabur rahmat beriring maghfirah
Mengisi setiap detik celah hidup
membawa kefitrahan kepada Sang IllahHati… Iman… dan Takwa…
Aku bertanya kepadamu
Hati…
Sucikah dirimu
Dari catatan-catatan hitam menyesatkan…?
Iman…
Kuatkah dirimu
Membimbing hati menuju kesucian…?
Dan takwa…
Sanggupkah dirimu
mengajak hati dan iman
Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan
Dari Wahyu Sang Maha Rahman…?
Hati, iman, dan takwa
Di hari yang suci ini
Ku ajak kalian
Bersatu padu membentuk jati diriku
Ku suguhkan segala-galanya
Dengan penuh kerendahan
Dalam segala keikhlasan
Ku mengharap seutuhnya ampunan
Mendamba nikmatnya keberkahan
Mengantar kefitrahan diri ini
Bersama hari yang suci
Menghadap Sang Illahi Rabbi…

Senja Bertasbih

By : Beni KPK

Sunyi senyap suara lirih
Semilir sang bayu bertiup mesra
Menyelip malu ke setiap ruang dunia
Sayup suara adzan berkumandang
Mendayu-dayu terdengar seluruh dunia
Mengantar siang mewakili senja
Mengucap nama pemilik semesta...
Rinaian air mata membasahi pipi
Berikut hati yang tersuguh pasrah
Duduk bersimpuh di atas sajadah
Merebahkan tangan menengadah
Tetes air mata terus merinai
Tatkala lidah bergerak dibasahi
Lafadz tasbih, tahmid, dan takbir
Mengantar qalbu menuju Maha Besar...

Kefitrahan raga kini terlahir
Saat tenang tanpa masalah
Saat ringan tanpa dosa
Mengantarkan kedamaian jiwa
Terbang tinggi ke langit ke tujuh
Bersama dalam senja bertasbih
Menuju merangkul hadirat Yang Ilahi…

Surat Cinta dari Sang Pencipta

By : Beni KPK

Tertulis kata-kata indah
Melebihi indahnya kata-kata sang puitis
Tidak pula kata-kata si penyair
Bibir tak mampu berucap
Hanya terdiam, menatap kagum
Indahnya untaian kataSurat penuh cinta dari-Nya…

Setiap kata yang terkandung di dalamnya
Memberi makna yang sangat luar biasa
Dituliskan dari firman Sang Kuasa
Diwahyukan kepada Rasul tercinta
Untuk disampaikan kepada para pembaca
Seluruh insan mulia di dunia…

Hati tentram, Hidup menjadi ringan
Otak cerdas, pikiran menjadi tajam
Pasti akan ditemukan
Oleh raga yang terpanggil
Untuk membaca dan mengamalkannya
Disetiap sela hembusan nafasnya…

Kesejukan kalbu
Beriring rinaian air mata terlinang
Mengantar jiwa menyusul kedamaian
Saat telinga menangkap lantunan suara
Membaca ayat-ayat
Surat Cinta Dari Sang Pencipta…

Ibu Malaikat Kehidupanku

By : Fea Adzkiya KPK

Ibu....
Bidadari duniaku....
Kau anugerah terindah di kehidupanku
Kau begitu lembut tetapi bukan berarti lemah
Kau begitu mempesona namun tetap bersahaja
Kau begitu istimewa ibu... Karena kekuatanmu membuat ibu spesial di mataku
Tanpamu ku tak bisa hadir di dunia ini
Betapa besar kasih sayangmu ibu...
Ibu....
Kau mengandungku
Kau terjaga saat tidur malamku...
Kau khawatir memikirkanku di saat ku terbaring sakit
Menyediakan segalanya yang menjadi keperluanku
Betapa besar jasamu ibu...
Dan semua itu tidak akan terbalas dengan materi sekalipun
Ya Allah...
Sang Pemilik Cinta....
Jaga dan lindungi Ibuku...
Tidak ada harta yang paling berharga selain dirinya
Istiqomahkan ia agar selalu berada di jalan-Mu
Dan masukkan ia ke dalam golongan insan Surgawi
Ibu....
Malaikat duniaku...
Ku akan selalu mendoa’kanmu
Di tiap malamku....
Sembah sujudku selalu untukmu ibu....
By : Abdul Rani KPK

Di 28 pemuda bersuara
Di 28 pemuda berjaya

Tak satu tanah air
Tak satu bangsa
Junjung bahasa tak mau jua
Akhir binasa, merdeka tak usah dinantiErat digenggam
Tanah air
Bangsa
Bahasa
Terikat di 28

Sekarang lama tak kulihat
Dimana kau
Kemana kau pemuda 28
Dimana duhai pemuda pejuang

Mengapa yang ada hanya pemuda bobrok tak berdaya
Hafal sumpah pemuda, tapi....
Kenal sejarahnya, tapi....
Tapi.... tapi.... tahu sendiri

Hei kau .....
Lebih suka Amerika
mungkin Italia
Atau Ko.... re....a....

Annyeong haseyo bila berjumpa
Bicara style Cinta Laura
Berdandan kiblat barat tak jelas
Kasihan.... kadang pakaian pun kurang bahan

Tak adakah puing-puing 28
Pemuda menawan tersenyum senang
Menjunjung
Menyanjung
Tanah air, bangsa, dan bahasa


Jangan menyalahkan kawan
Tak perlu liat kiri kanan
Tiap diri cermin sendiri
Menjadi brigade 28 atau 2+8
Menjadi warna 28 atau 2-8
Menjadi bagian 28 atau 2/8

Mari bergabung
Mari berdendang
Bukan bergabung di kematian pemuda pejuang
Bukan berdendang hilang kesatuan

Bergabung dalam laskar pemuda 28
Berdendang meraih kesatuan dan menang

Inspirasiku

By : Rafa Alqinansa KPK

Berkelebat tanpa bayang
Engkau menghantuiku
Aku mengharapkan kedatanganmu
Yang nyata didepan matakuHei, tolong jangan bersembunyi!
Aku membutuhkanmu
Aku menginginkanmu
Aku merindukanmu

Ketika kau menghampiri
Gegap gempita berseri
Jauh kau disana
Aku menunggu merana

Tak pedulikah kau?
Tak rindukah kau?
Pada hati yang pilu?

Karena yang aku cari
Kaulah inspirasiku

Ingin Kumulai Lagi

By Arie Ammara

Langkahku mulai lunglai. Panas benar rasanya hari ini. Alam benar2 tidak bersahabat padaku. Matahari terasa seperti jilatan api yang membakar kulitku. Hufh! Kuseka keringat yang mulai membanjiri muka. Perjalanan masih sekitar 800 meter lagi. Lumayan. Kulirik monol putih yang melingkar dipergelangan tangan kiriku, 13.16. Pantas saja cuaca demikian panasnya.
Ingatanku melayang pada sosok yang kutemui tadi. Ia begitu anggun dengan balutan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya. Balutan jilbab coklat tuanya serasa kontras dengan muka dan matanya yang bulat. Manis. Menarik. Dan aku merasakan kesejukan ketika berbincang dengannya. Tutur bahasanya teratur, diksinya bagus, dan yang paling penting senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya yang tipis. Ramah. Demikian kesan pertama yang aku dapatkan sesaat setelah perkenalan kami. Di antara ratusan orang yang memiliki kesibukan yang sama, kebingungan yang sama denganku, namun hanya dia yang menghampiriku dan mengajak menyelesaikan tugas ini bersama-sama.

“Assalamu’alaykum.” Sapanya.” Daftar ulang juga ya? isi sama-sama yuk..” Ajaknya ramah.
“Tari..” Ucapnya sembari mengulurkan tangannya padaku, setelah cukup lama kami menerobos kerumunan orang untuk dapat keluar ruangan sekedar mencari tempat yang nyaman untuk menulis.
“Mala. Zakiyah Kemala Dewi.” Tanpa diminta aku mulai mengenalkan namaku.

“Subhanallah, namamu bagus. Zakiyah artinya cerdas. Pasti kamu gadis yang cerdas.” Ocehnya. Aku hanya tersenyum menanggapi komentarnya. Ya. Banyak orang yang berkata demikian. Zakiyah berarti cerdas. Dan itu tidak terlalu meleset dari aku yang sebenarnya. Hampir setiap kali terima raport seumurku sekolah, aku tak pernah absen menyabet peringkat tiga besar di kelas, dan tak kurang dari lima kali menyabet juara umum. Aku memang cerdas.
“Kamu sendirian aja?” tanyanya.
Aku mengangguk. Gak lihat apa dari tadi sendiri, batinku.
“Asal mana?” lanjutnya.
“Kapuas Hulu.” Jawabku singkat. Aku memang suka berkenalan dengannya, tapi tidak suka banyak berbicara dengan orang yang baru dikenal, meskipun kelihatannya ia orang baik.
Banyak bertanya pada orang yang baru dikenal malah akan terkesan basa-basi dan buang-buang waktu.

Melihat responku yang biasa saja, ia pun memutuskan untuk focus mengisi beberapa titik-titik yang masih belum terisi di lembar formulirnya.
“Emmm, kamu mau kembalikan formulirnya hari ini juga?” Tanyanya lagi setelah beberapa saat kami saling diam.

Sekali lagi aku hanya mengangguk.
“Kamu bawa raport?” Lanjutnya.
Mengangguk, sekali lagi.
“Aku lupa bawa, jadi terpaksa aku bawa pulang dulu formulirnya. Besok aja deh, aku kembalikan.” Jelasnya.
Aku kan gak tanya. Batinku.
Kulirik monolku lagi. 13.25. Sekitar 400 meter lagi. Keringat di mukaku semakin banyak. Sedikit menyesal juga aku tolak tawaran Tari untuk mengantarku tadi. Seandainya aku terima tawarannya, pasti sekarang aku sudah bisa beristirahat dan merasakan segarnya kipas angin membelai-belai wajahku, sehingga pikiranku melayang-layang dan aku benar-benar beristirahat. Hmmm… Sedapnya…..

*********
Hari ini hari kedua PAMB. Saat waktu dzuhur tiba, aku memilih untuk ikut gabung dengan yang tidak sholat. Tentu saja dengan beralasan aku sedang berhalangan. Nanti ajalah sholatnya, di kost aja, pikirku. Sepertinya ribet sholat di sini. Pasti antri. Akupun mulai bergabung dan mengikuti permainan yang kakak panitia ajarkan. Seru juga. Tapi kita kan capek, masak dikasi’ pemainan terus. Beberapa saat berikutnya sepertinya kakak itu seperti mendengar ocehan dalam hatiku. Ia pun mengganti perminan dengan bercerita tentang kisah seorang istri Nabi, Aisyah.

“Di sini ada yang kenal dengan Aisyah ra, istri Nabi Muhammad saw yang.....
Kakak itu mengkisahkan dengan sangat menarik. Seluruh tubuhnya seperti ikut berekspresi menggambarkan bagaimana. Matanya sesekali membesar dan menyipit. Tangannya bergerak ke sana-kemari dan jilbabnya yang lebar sesekali bergoyang tertiup angin. Cerita dan piawainya dalam membawakan cerita itu membuat kami yang mendengarkan terkesima dan dapat memahami apa yang ia sampaikan sepenuhnya. Kecuali nama-nama yang sangat aneh itu. Aku tak ingat. Jangankan ingat, mengucapkannya kembalipun aku tak bisa.

Sempat terlintas dibenakku. Apa sih yang membuat orang-orang berjilbab besar itu memakai jilbab seperti itu?? Apa enaknya coba. Bukannya suasana di sini luar biasa panasnya. Isssh, tak ku bayangkan jika aku yang memakainya. Dengan rambutku yang sebahu dan selalu ku ikat kucir kuda inipun aku masih selalu merasa panas, apalagi dengan jilbab lebar seperti itu. Dan belakangan aku tahu, jilbab mereka berlapis. Waw!!!

Mendung menggelayut di angkasa. Hanya tinggal menghitung detik saja maka bumi akan segera basah oleh guyuran air dari langit. Teman-temanku yang lain sudah berhamburan pulang dari tadi. Tinggal aku dan beberapa orang laki-laki yang ada. Ini semua gara-gara kami harus menghadap abang PM untuk mempertanggungjawabkan kesalahan kami. Aku terlambat datang tadi pagi, memakai sepatu berlist putih dan tidak membawa roti untuk sarapan. Itu semua gara-gara aku tak bisa tidur tadi malam. Pikiranku benar-benar kacau. Berbagai pikiran terlintas dan membuatku resah. Entah apa yang membuatku demikian galau, perasaanku benar-benar tak nyaman. Baru lewat jam empat pagi mataku perlahan-lahan mulai mengatup dan tak sadarkan diri. Alhasil, aku bangun saat sinar matahari yang menerobos lewat celah jendela kamar kos ku dan tepat mengenai mataku. Bergegas kusingkap selimut dan kulirik sekilas jam weker berbentuk kucing tepat di samping kepalaku. Jam 6:42???!! Tamatlah riwayatku. Aku baru teringat belum membeli persiapan untuk PAMB hari ini. Roti belum dibeli. Sepatu basah karena aku lupa memasukkannya ke dalam, padahal tadi malam hujan turun dengan lebatnya. Terpaksa aku memakai sepatu ber list putih. Hmmmm. Benar-benar tamat riwayatku hari ini. Dan benar saja, aku dapat tugas dari abang PM untuk mencari kenalan senior sebanyak 50 orang selama satu minggu. Yang benar saja?? Aku adalah orang yang paling tidak suka basa-basi. Bagaimana mungkin aku bisa memperoleh kenalan senior sebanyak itu dalam waktu satu minggu??? Satu tahun pun aku tak yakin. Karena selama tiga tahun di SMA, aku hanya memiliki empat orang teman.

Kupercepat langkahku, berharap bisa mengalahkan kecepatan hujan yang mulai turun dan mungkin sekarang butir-butir air itu tengah berebut untuk sampai ke bumi.
“Assalamu’alaykum..” sebuah suara mengejutkanku.
“Wa’alaykumussalam.” Reflek kujawab dan kudapati kakak yang tadi siang bercerita tentang Aisyah berada tepat di sebelahku.
“Pulang kemana? Kakak antar yuk..” Pintanya
Aku sedikit ragu.
“Gak usah kak. Udah deket kok.” Bohongku. Padahal perjalananku masih sekitar 20 menit lagi.
“Sudah hampir hujan, ni. Gak apa-apa yuk, kakak antar.” Bujuknya.

Hm, boleh juga. Degan cepat aku melompat di jok belakang mio nya. Benar saja, baru sekitar lima menit kami berjalan, hujan seperti mengguyur tanpa ampun. Membuat tubuh kami basah. Untungnya tak lama kemudian kami telah sampai di kos ku. Bajuku belum terlalu basah. Namun baju kakak yang telah menolongku telah basah kuyup. Aku melihat sekilas bibirnya bergetar menahan dingin.
“Alhamdulillah sampai, kakak pulang dulu ya.. Assalamu’alaykum..” Pamitnya.
“Wa’alaykumussalam.” Jawabku yang pasti tidak terdengar oleh kakak tadi. Dia sudah melaju meninggalkan aku yang telah ditolongnya. Menerobos butir-butir air yang turun dengan suka cita ke bumi. Tak ada pertanyaan apa-apa di sepanjang perjalanan tadi. Karena mungkin memang kami sibuk dengan doa kami masing-masing agar hujan kalah cepat dengan kelajuan motor yang kami kendarai.

Sekali lagi malam itu aku tak bisa memejamkan mataku dengan cepat, padahal aku ingin segera mengistirahatkan seluruh tubuh yang cukup lelah dengan aktivitas sehari tadi. Mencoba memaksa namun tetap saja mata ini tak mau terlena. Kuraih handphone hadiah terakhir dari abangku satu-satunya dua tahun yang lalu. Ku buka inbox, beberapa buah sms dari nomor baru yang tak ku kenal. Dua hari ini ada nomor baru yang mengirimkan sms ke hp ku.

Janganlah kau memperkecil nilai kebaikan walaupun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (tidak muram). H.R Muslim.

“… Mulailah segala sesuatu dari hati, dilakukan dengan sepenuh hati, dan pahami suasana hati… jika sudah.. maka lihatlah bagaimana banyak hati member hati terhadap hati yang tulus member arti… Indahnya saling berbagi dengan hati.”

Ingatanku kembali kepada kakak yang menolongku sore tadi. Siapa gerangan namanya? Tinggal dimana? Teringat sorot matanya yang teduh dan keningnya yang sedikit menghitam. Aku sering melihat orang-orang dengan kening menghitam adalah orang-orang yang taat. Rajin sholat tahajud, kata orang. Kok kakak itu mau ya menolong orang yang belum dikenalnya?? Tiba-tiba ingatanku meloncat lagi pada Tari. Dari sekian banyak orang hanya Tari yang menghampiri, menyapa dan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Dengan sikapku yang cuek, dia tetap saja berlaku baik padaku, bahkan menawarkan diri mengantarku pulang. Perasaanku mulai gundah lagi. Berkali-kali aku membalik-balik badanku ke kanan dan ke kiri, tetap saja hatiku tak tenang. Tak terasa hati ini merasa sedih sekali dan tanpa kusadari air mataku mengalir begitu saja. Entah mengapa.

*****

“Untung ada seorang kakak yang mengantarku pulang kemarin, kalau tidak pasti aku gak bisa ikut PAMB hari ini. Aku gak bisa kena hujan, pasti langsung demam.” Samar-samar ku dengar seorang perempuan berbicara di depanku saat berjalan menuju kampus.
“Kakak siapa?” Tanya temannya.
“Wah, aku gak sempat tanya namanya. Itu lho kakak yang kemarin ceramah tentang Aisyah..”
Kakak itu.
Sesampainya di kampus, mataku berkeliling mencari sosok kakak yang kemarin menolongku. Kemana dia?? Aku ingin bertanya siapa namanya. Namun sampai waktu istirahat sholat dzuhur juga aku belum menemuinya.
“Hay, Assalamu’alaykum.. Kamu Mala kan??” Sapa seseorang mengejutkanku.
“Tari? Apa kabar?” Sahutku dengan senyum. Entah mengapa bahagia rasanya bertemu Tari pada saat-saat seperti ini.
“Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana?”
“Baik juga.”
“Sholat sama-sama yuk.”
Sesaat aku ragu. Tapi akhirnya kali ini aku ikut ajakan Tari. Tiba-tiba langkahku terhenti. Aku ingat, aku tidak membawa mukena.
“Kenapa?” Tanya Tari.
“Aku gak bawa mukena.”
“O, gampang. Nanti aku carikan pinjaman. Yuk.”
Terpaksa aku harus menunggu jamaah sholat gelombang pertama selesai. Namun Tari memang bisa diandalkan. Berkat bantuannya aku mendapat pinjaman mukena. Hmmm.. banyak juga teman Tari, padahal kita baru tiga hari jadi mahasiswa. Tapi sudah hampir setiap orang Tari kenal.
Seusai sholat, aku masih belum menyerah mencari-cari dimana gerangan kakak yang menolongku kemaren. Mataku masih saja menyapu sekitar, namun nihil.

*****

Sore ini hujan turun lagi. Aku belum bisa pulang jika hujan belum juga berhenti. Untuk itu aku memutuskan untuk berteduh di mushola kampusku. Hanya ada satu pasang sandal di tempat akhwat, begitu yang tertera pada papan kecil di luar ruangan. Aku mendengar samar-samar orang melantunkan Al-Qur’an di dalam mushola. Ku putuskan untuk mengisi saat-saat menunggu hujan reda dengan berteduh di dalam mushola. Baru beberapa menit aku dikejutkan oleh sapaan perempuan yang tadi.

“Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam.” Aku terkejut bercampur senang. Ternyata yang menyapaku adalah kakak yang selama ini aku cari. Setelah hampir satu minggu barulah aku bertemu dengannya.
Kami pun akhirnya berkenalan. Namanya Dewi, mahasiswi tingkat enam prodi Kimia. Dia juga tengah menunggu hujan reda. Ketika hujan mulai reda, dia menawarkan kebaikannya sekali lagi untuk mengantarkanku pulang. Aku tak menolak. Aku merasakan kedamaian dan ketenangan saat berbincang dengannya.

Entah kenapa, hatiku merasakan kesejukan saat aku bersama Kak Dewi. Sosoknya yang biasa, mampu menyentuh sisi gelap dalam hatiku. Senyum tulusnya mampu menyihir mataku. Tuturnya yang lembut seperti merasuk dalam hatiku dan menggetarkannya.

Sesampai di kos, aku lalu membersihkan badanku. Matahari telah beranjak ke peraduannya. Kubuka lemari pakaianku. Terlihat di sana mukena yang terlipat rapi karena jarang kusentuh. Bismillah… aku ingin memulainya lagi.

Masih terdengar sayup-sayup orang mengaji di kejauhan.
Ya Allah, masihkah kau terima sholat hamba-Mu ini???

Untuk Sahabat-sahabatku,,, Untuk Kita,,,

by : Ari Ammara KPK


‘Audzubillahiminasyaitonirrajiim…

Bismillahirrahmanirrahiim

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35)“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Al-Imran: 142)

Dakwah.

Jihad.

Menyeru kepada Allah.

Mengerjakan amal shalih.

Ikhlas.

Sabar.

Syukur.

Aktivis dakwah.

Sebuah predikat yang bukan main-main. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Pekerjaan yang mulia dengan segenap janji-Nya yang luar biasa.

“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. (An-Nisa: 74)

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.”(An-Nisa; 95)

Saudara/i ku seperjuangan. Tugas yang kini kita emban bukanlah tugas yang mudah. Bukanlah tugas yang ringan. Bukan pula tugas yang hanya menjadi sampingan, setelah kita punya waktu luang.

INI TUGAS BESAR. TUGAS BESAR DARI YANG MAHA BESAR.

Mungkin sebagian besar berfikir,

“apakah aku sanggup???”

Aku hanya mahasiswa biasa.

Ilmu ku tak seberapa.

Basic agamaku miniiiiim banget

Amalan ku juga masih ala kadarnya.

Sepertinya aku belum pantas berada di barisan ini.

Atau,

Ma’af, aku off dulu ya..

Aku mau focus kuliah, memperbaiki nilaiku yang sempat mengalami grafik penurunan.

Setelah itu, insyaAllah aku pasti kembali.

Do’akan ya… dan aku pun akan mendo’akan kalian.’

????? Salahkah?????

Ku rasa tidak sepenuhnya salah. Menjadi seorang muslim memang harus pintar, bukan saja dalam hal me nyetting acara kajian, riyadoh, ataupun ngisi studika.

Namun juga dari sisi akademis. IPKnya minimal 3 atau 2,75 lah untuk yang eksak.

Setiap ada tugas, selalu ngumpulkan.

Ga suka telat. Aktif berdiskusi.

Deket dengan dosen.

Ya. Itu bagus.

Bahkan bisa dikatakan HARUS.

Waw,,, berat ya.. Yang gak aktif organisasi saja, yang notabene hanya kuliah tok, tok, (SO) jarang yang bisa seperti itu. Apalagi saya. Saya kan aktif di dakwah. Banyak PR dari Kabid. Ni daftarnya:

1. Cari tema kajian minggu depan
2. Cari pematerinya, kalau sudah dapat langsung dihubungi ya.. Deadline nya H-3
3. Designkan pamflet
4. Masukkan surat ke PD II untuk pinjam tempat
5. dll

Hampir setiap hari setelah kuliah usai, ngerjakan “tugas” dari Kabid.

Belum lagi harus ikut kajian. Kajian pengurus, kajian anggota, kajian A, B C..

Dauroh A, B, C, dst.

Rapat F, G, H, dst.

Belum lagi laporan yang seabrek.

Tugas Gunting tempel dari dosen,

buat makalah,

presentasi.

Hhhhhhhhh…………….

This is our activities…

Lelah…

Capek..

Bosan…

Belum lagi ukhuwah yang rasanya kering kerontang… Merasa sendiri, tak ada yang peduli… Dan berbagai macam hambatan2 lain…

????????

Coba kita pikir….

Itu semua belum seberapa dibanding perjuangan para pendahulu kita…

Nabi Muhammad Saw yang dilempar kotoran, batu, sampai2 kakinya berdarah-darah

Diusir,, dihina,,,, dicemooh,,,, di katakana penipu. Penyihir, dan lain sebagainya

Mush’ab bin Umair yang tertebas tangannya

Abu Bakar yang menginfakkan seluruh hartanya, dan hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya unruk keluarganya

Sumayyah yang ditusuk oleh Abu jahal, musuh islam hingga ia menjadi syahidah pertama

Masyitoh yang digoreng beserta anak-anaknya oleh Fira’un

Belum lagi kisah fenomenal yang hampir kita semua tahu,

Bilal yang ditindih batu besar di atas pasir panas di bawah sengatan matahari, demi mempertahankan keyakinannya akan ke-ESA-an Allah

……………………………………………………………………………………………………………

Sahabat,,,

Perjuangan kita tidak lebih dari seujung kuku dibandingkan dengan mereka.

Kita masih bisa kuliah,,,,

Masih bisa kumpul dengan keluarga,,,,

Masih bisa menelpon keluarga,,,,,

Masih makan enak,,,,

Tidur nyenyak.,,,,

Ada motor,,,

Ada laptop,,,

Ada HP,,,,,

Kurang apa??????????

Bagaimana mungkin kita berharap bisa bersama mereka jika amalan kita jauuuuuuhhhhh dari mereka???

Percayalah sahabat, semua ini tidak akan sia-sia jika kita ikhlas mengerjakannya.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (Al-Imran: 195)

Yakinlah,,,

Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita jika menolong (agama) Allah….

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad: 7)

Semoga Allah senantiasa meridhoi perjuangan kita.

Amin…

‘afwan minkum…

Wallahu’alam…..

Pagi Indah

by : Kana Effendi KPK

Pagi indah menyapa Ria…
Ada gema kehidupan dalam suaranya…
secercah harapan tersimpul di senyumnya…Cahaya sinar berkata lembut…
Lakukanlah yang patut
Jangan engkau tidak menurut…

Pagi indah menawarkan bahagia
Apakah kita akan menerima?
Dengan gembira kita menjawab ‘ya’…

Apakah kita akan berdiam?
Membiarkan pagi indah menjadi suram?
Tentulah tidak kita membungkam…

Wahai teman yang kucinta…
Buatlah pagi indahmu menjadi warna
Jangan ada sesal dan lara,
Karena pagi indahmu karya Sang Maha Pencipta…

Rindu

By : Akhiarden KPK

jiwa ini dipenuhi lautan rindu

Rindu pada sang Rasul mulia

Agar ibadah bukanlah kewajiban tapi ekspresi kesyukuran

Jiwa ini merindu Abu Bakar As ShidiqAgar selalu kubenarkan bisikan kebaikan dari hatiku

Jiwa ini merindu Umar bin Khattab

Agar tak pernah takut diri ini menegakkan kebenaran

Jiwa ini merindu Ustman bin Affan

Agar bisa menikmati indahnya lantunan Qur’an saat Qiyamullail

Jiwa ini merindu Ali Bin Abi Thalib

Agar bisa bersemangat mempelajari ilmu dan menguasainya

Jiwa ini merindu Bilal bin Rabah

Agar tak pernah kalah dengan ujian yang menghadang

Jiwa ini merindu Ikrimah bin Abi jahal

Agar mampu itsar dengan kebutuhan saudaraku

Jiwa ini merindu Ibrahim Bapak para nabi

Agar dalam jalani kehidupan dipenuhi kesungguhan mengabdi tanpa bantahan

Jiwa ini merindu nabi Nuh AS

Agar ejekan demi ejekan tak pernah hancurkan kesungguhan dalam menyampaikan kebenaran

Jiwa ini merindu Abdullah Ibnu Mas’ud

Agar bacaan Qur’anku selalu merdu bawakan kesejukan dihati

Jiwa ini merindu Abu Ayyub Al Anshari

Agar tak ada rukhsah dalam dakwah setelah turunnya At Taubah: 41

Jiwa ini merindu Mushab bin Umair

Agar mampu sinari tempat baru dengan cahaya keimanan

Sungguh banyak lagi manusia-manusia pengabdi yang kurindukan….

Tapi kutak tahu kapan ku bisa melihat wajah-wajah mereka….

Ya Allah,mudahkan hamba yang lemah ini bertemu dengan mereka

Ya Allah mudahkan diri yang hina ini bercengkrama dengan mereka

Ya Allah mudahkan diri yang papa ini mengikuti jejak langkah kebaikan mereka

Kalau tak bisa semuanya,minimal titisannya saja