-->

SMS Gratis

Sabtu, 31 Desember 2011

Surat untuk Pak Gubernur


By : Akhiarden KPK
Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan ke Pontianak post,dengan harapan bisa dibaca sama pak gubernur.Namun,aku tak terlalu optimis tulisan seperti ini mampu menembus ketatnya perang opini di media kebanggaan kalbar itu. Lagipula aku belum cukup pandai membuat kata-kata yang resmi dan formal. Jadi lebih realistis buatku menguplode surat ini di note kebanggaanku. Dan sebenarnya surat ini akan kukirimkan jum’at yang lalu tanggal 17 Desember 2011 ke Pontianak post,minimal di surat pembaca,saat isu mengenai tema ini sedang hangat-hangatnya dibahas di sidang paripurna DPRD Kalbar,kamis tanggal 16 Desember 2011 yang lalu. Tapi kerana sesuatu dan lain hal yang tidak perlu aku jelaskan disini,surat ini baru kukirimkan beberapa hari yang lalu di Pontianak post. Tapi seperti yang aku duga sebelumnya, mana bisa tulisan kayak gini diterbitkan.Apa kata dunia….haha.

Terompet Kenangan

By : Rafa Al Qinansa KPK


Brum... brum...
Riuh kendaraan berderum
Menerobos udara malam
Yang semakin dingin berulam


Ramai sekai taman kota
Berdentam-dentam suara musik mengudara
Berpasang-pasang manusia turut serta
Berbondong-bondong dengan riang gembira

00.00
Preet... preet...
Terompet riuh
Dengan sambutan suara bergemuruh
Kembang api melayang ke angkasa
Kilaunya menyilaukan mata

Namun setelah itu apa yang terjadi?
Terompet dicampakkan
Teronggok sampah berserakan
Perhelatan selesai tak berkesan apa-apa

Hanya sampai disitu?
Keriuhan dan kesenangan sesaat
Bersama euforia yang naik dan turun tiba-tiba

Selanjutnya apa?
Mereka merasa begitu meriah
Sebentar dipestakan
Lalu dilupakan begitu saja

Semburat Keelokan

bY : Rafa Al Qinansa KPK


Bila aku terbangun lagi, aku merasa semua semu..
Perlahan mereka pergi dan bernapas bersama angin..
Lalu hilang semakin jauh dari orbitku..
Akankah kembali bersamaku berevolusi?


Dibalik hujan ia terlihat begitu cantik
Entah apa yang ada dihati sang pujangga untuk melukis
Semburat elok paras yang terkena hujan rintik
Guratan halus mengisyaratkan wajah yang mengkikis

Aku tetap bersamanya
Ingin ku ambilkan bulan untuknya
Sang dewi yang menguasai hatiku
Ditengah hiruk pikuk fana sembilu


Jumat, 23 Desember 2011

Syair Sendu Lagu Melayu

Sumber : Pontianak Post/A.Halim R

KETUK berjalan tak tentu tuju, meniti padang penuh berdebu, terdengar olehnya sebuah seru, “Tingkah kau sudah macam Melayu”. Ketuk tercekat serta termangu, adakah kata untuknya tertuju, memang ada apa dengan Melayu, sampai orang cakap begitu. Ketuk terhuyung berjalan balik, ingin bersadu kepada sahabat baik, kalimat hendak dibahas apik, bersama Mat Belatong yang tak pula cerdik. Bertanya kepada kelik selubang, bukanlah hal yang menjadi pantang, bukankah hadir Yang Tak Berbilang, Allah hadir witir terpandang.

Tatkala sampai di rumah sahabatnya, Ketuk terjelepok di bendul pintunya, haus dan letih tidak terkira, pening dan lapar lebih dari puasa. Mat Belatong terbelalak penuh tanya, memandang sahabat begitu rupa, rupa pemulung iya pula, rupa pengemis juga ada. Ketuk tertelungkup mata tertutup, diseret Mat Belatong terhayap-huyup, macam tak bernapas tapi jantung berdegup, pertanda ia masih hidup. Mulutnya dituang air diceret, Ketuk tersedak terhinjet-hinjet, basah bajunya macam mandi di paret, tapi matanya mulai berkedep.


Pengembara disandarkan di kursi tua, disuguhkan segala apa yang ada, jus avokad lopes parut kelapa, Ketuk melahap bak tapah menganga. Setelah segar pertanyaan diajukan, apakah Ketuk salah makan, apakah terkena penyakit ayan, atau mabok arak Capcuan. Ketuk terdiam mata berkunang, air mata jatuh berlinang, mengenang nasib diri yang malang, kini Melayu-nya pula disindir orang.

Kemudian Ketuk mulai bercerita, mendengar seru di padang kembara, apa pasal begitu terjadinya, memangnya Melayu itu mengapa. Mendengar cerita Mat Belatong tertawa, terpingkal-pingkal berair mata, itu kiranya pasal yang ada, sehingga Ketuk macam orang gila. Setelah tertawa Mat Belatong berkata, wahai Ketuk yang bijaksana, jangan engkau kalut bertanya, memangnya Melayu itu mengapa. Pun tak perlu mencari tahu, siapa orang yang telah berseru, introspeksi diri sangatlah perlu, kenapa Melayu jadi pemeo begitu. Tak perlu pula kita meradang, telaahlah kata dengan hati tenang, niscaya terbuka serta terpandang, apa yang salah dan apa yang kurang.

Lihatlah tingkah orang Melayu, mengaku sebagai umat bermutu, satu akidah ber-Tuhan satu, rapat saf hanya saat salatu. Melayu mengenal pitutur kalam, dunia Melayu dunia Islam, Melayu bukan puak sekolam, tapi lautan luas dan dalam. Melayu bukan pada kulitnya, atau bahasa yang dipakainya, penjunjung Alquran siapa pun dia, nyata agamanya Melayulah dia. Kalau dipahami filosofi andalan, Melayu tak bertingkah yang bukan-bukan, kitab Alquran jadi pedoman, perlu diamal bukan disimpan. Melayu hanya sebuah istilah, untuk mudah bergaul-musyawarah, berkelindan dalam senang dan susah, kuah dan daging sama dilapah.

Piturur lain ada berpadah, adat bersendikan syarak – syarak bersendikan Kitabullah, terlarang sangat umat berpilah, berbantah-bantah berpecah-belah. Saksikan apa yang terjadi kini, sesama ikhwan tidak peduli, sikut-menyikut duduk dan berdiri, lebih mementingkan diri sendiri. Melayu tak pandai lagi bermusyawarah, di masyarakat saja berpilah-pilah, musyawarah jadi ajang debat dan marah, payah bersatu tak ada yang mau mengalah. Mengalah kepada ikhwan seakidah, bukanlah berarti kalah dan punah, melainkan upaya menjunjung marwah, untuk menggapai rida Allah.

Wahai Ketuk manusia bermutu, jangan lagi kita banyak berlagu, tak mau bersatu menghadapi sesuatu, malar bertengkar nak bertinju. Orang pintar berlajar dari pengalaman yang lalu, binatang keledai juga begitu, tak ingin terjerembab ke lubang yang satu, cukuplah sekali bengkak dan biru. Bersatu teguh bercerai runtuh, itu pedoman Melayu yang utuh, tak masanya lagi kalut dan hibuh, contohlah air di pembuluh.

Wahai Ketuk tokoh benua, jangan lagi bersilang-sengketa, rakyat sudah cukup menderita, jangan lagi diadu-domba. Hidung Ketuk kembang dan kempis, mendengar cakap kawan berlapis, hatinya rasa bagai diiris, hidup Melayu sangatlah miris. Melayu melangkah tak tentu rudu, entah kemana arah dituju, payah nian searah setuju, tiada tokoh yang jadi pandu. Yang mengaku tokoh ada selonggok, macam keramak di dalam tanggok, namun kerjanya sangat tak seronok, rakyat dibual serta ditohok. Masyarakat hanya diperalat belaka, untuk kepentingan diri semata, setelah nyaman lupalah dia, hidup untuk mencari kaya saja.

Adakah Melayu lupa dengan kemelayuannya, begitu pula dengan adat budayanya, hidup di dunia bak ular melata, lupa Tuhan hilang leda? Kalau begini padahannya, Melayu payah maju ke arena, berpecah-belah sepanjang masa, orang jadi tauke Melayu jadi unta. Unta gerek itu namanya, macam korban Idul Adha, bertikai bersaing dengan sesama, Melayu tak akan pernah jadi apa-apa.

Mat Belatong bersyair macam orang gila, Ketuk mendengar mata berkaca, cakap halus kasar pun ada, entah diduli entah dicela. Mat Belatong dan Ketuk memang kurang akal, tak pandai politik apalagi ngakal, namun insya Allah bukanlah dajjal, mengharu-biru dunia tak tentu pasal. Hati-hati pula memilih pendamping, juga memilih kawan pengiring, salah pilih kepala menaning, kredibilitas diri jadi séngét senggiring. Di akhir syair inilah madah, jangan meradang janganlah marah, jangan tersinggung tak ada faedah, lebih baik merenung jalan yang genah. Kalau Melayu terus bertingkah, bertikai terus padahal seakidah, tercatat lagi dalam sejarah, orang dapat isi Melayu dapat kuah…hah…hah. ***

Ketika Sepi semakin menyepi

By : Akhiarden KPK




Kulihat sepinya sebuah peradaban
Ketika sepinya kegiatan dibarengi kesepian semangat
Inilah potret para pengemban peradaban
Yang ukhuwahnya sudah mulai memudar


Kulihat gersangnya pewaris kejayaan
Duduk termenung penuh kesenduan
Seakan-akan habis ikut muhasabah seharian
Lantaran sepinya komitmen kedatangan jundi-jundi pilihan

Kulihat generasi pilihan semakin suka menyendiri
Seakan-akan surge untuknya sendiri
Tak peduli lagi dengan keadaan teman seperjuangan
Yang tertatih letih atasi masalah yang ganas menerjang

Kulihat pewaris tahta dakwah mulai lelah
Menanggung beban yang semakin payah
Kulihat nyali jundi-jundi dakwah tak lagi merah
Karena digerogoti nyali putih yang kuat mewabah

Kulihat lisan-lisan tak lagi berkata
Saudaraku kemana kau melangkah selama ini
Sudah lama kutak lihat wajahmu disisi
Adakah beban-beban yang menggelayut dihatimu
Ceritakanlah dan aku akan setia mendengarkannya
Ungkapkanlah boleh jadi aku bisa meringankannya
Atau minimal berat beban dipunggungmu terkurangi

Kulihat Hp-hp kita semakin mahal harga belinya
Tapi anehnya semakin murah kegunaannya
Tak lagi hp ini digunakan untuk mengirim sebait taujih
Mengalirkan kesejukan doa untuk sirami hati yang gersang
Mengirimkan secercah cahaya untuk sinari hati yang gulita

Kulihat tangan kita mulai jarang bergandengan
Kujuga mulai melihat kaki jarang berjalan beriringan
Mungkin karena kesibukan yang mulai menggeruskan kebrsamaan
Atau keinginan menikmati sepi ditengah keramaian


Kudengarkan curahan hati sebuah masjid
Saudaraku katakanlah pada yang lainnya
Aku mulai merasa kedinginan dan kesejukan yang meremukkan tulang
Tak ada lagi kebersamaan tamuku yang menghangatinya
Kini tamuku tak betah berlama-lama
Sehabis menumpang sholat mereka segera meninggalkau sendiri
Tak ada lagi tegur sapa diantara tamu-tamuku itu
Bahkan terkadang kudapati sekedar salampun tak
Sempat diucapkan sesame mereka
Dimana kehangatan ukhuwah mereka dahulu
Saat bersama-sama membersihkan karpet dan lantaiku
Saat bersama-sama saling menanya kabar
Saat bersama-sama mendengungkan lantunan Qur’an
Saat bersama-sama merembukkan suatu persoalan

Kudengarkan kisah mereka yang saling menyalahkan
Tapi tak ada upaya untuk saling membetulkan
Kudengarkan mereka mulai berbicara militansi yang hilang
Tapi tak pernah sungguh-sungguh untuk mengembalikan keadaan


Hari Ini untuk Organisasi,Esok untuk Negeri

By : Ariyanti Ammara KPK








Tema yang diusung oleh panitia penyelenggara HUT Primaraya (Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya) ke-4, 19 Desember lalu itu, begitu penuh makna. “Hari Ini Untuk Organisasi, Esok untuk Negeri”. Sederhana. Simple. Tidak bertele-tele. Tidak panjang lebar. Sederhana. Sangat sederhana. Namun memiliki esensi yang begitu besar. Dasar pemikiran yang seharusnya ada pada diri para aktivis kampus

Bola yang Terlalu Ajaib

By : Rafa Al Qinansa





Tak ada yang mengerti
Mereka lahir berbondong-bondong
Rekayasa indah berseri
Hadiah dari Yang Maha Penolong


Bertumbuh besar seiring masa
Wajah ceria tak terungkap bahasa
Rona gembira membias di wajah
Terpaku pada senyum yang ramah

Lembut pipinya menyentuh hidung
Membuat gemas siapapun yang mengerling
Namun kadang ia tak mau digendong orang asing

Dialah ciptaan yang sangat ajaib
Dari bola yang menggumpal menjadi daging
Berpancang di rahim yang terasa karib
Lalu lahir dengan suara bising
Tangisan yang tipis
Bersambut haru yang manis

Luar biasa bahagianya mereka
Tak sabar menantinya
Melihat buah hati sukses bahagia

Rabu, 21 Desember 2011

Ibuku adalah Malaikatku

By : Beni KPK








I ndah tiap lembaran hari-hariku
B ak cahaya pelangi dilangit biru
U ntaian didikan yang kau berikan
K an selalu hiasi warna hidupku
U ntuk jalani kasih hidup yang digariskan

A ndai saja kau tak ada disini
D engan jiwa kepahlawananmu yang sejati
A ku tak ‘kan pernah bisa
L ewati bumi yang sarat onak dan duri
A wan kalbu yang semburkan hujan
H ingga aku terpahat kuat berdiri

M engalir tetesan air mataku
A pabila terlintas bayanganmu
L ambaikan pelukan manja
A liri desahan nafas hidupku
I ngin ku selalu ada didekatmu
K isahkan cerita indah nan seru
A nugerah Sang Maha Kuasa
T uk diriku, yang tak tergantikan
K arna kau adalah malaikat tercinta
U ntukku, yang dipanggil dengan kata IBU…


Bunda di Ufuk Timur

By : Kana Effendi KPK






“…… jangan pernah meratapi sesuatu yang memang telah jadi scenario-Nya. Jalani dan tapaki itu dengan hatimu yang tenang. Masih banyak jalan yang siap menantimu dan siap untuk kamu arungi. Jangan menyerah dengan hidup. Bersemangatlah menjalani hidup ini. Percayalah, ada sesuatu yang menunggumu diujung sana dan akan membawamu pada kebahagiaan. Berikan yang terbaik dalam hidup yang singkat ini……
Malam itu, dingin dan kaku. Malam itu mencekam. Malam itu semuanya terjadi begitu cepat. Kegaduhan yang sunyi nan memilukan. Hanya tangis yang bicara. Keputusasaan berjalan cepat. Semangat luntur. Kaki-kaki tak tenang. Berjalan mondar-mandir. Malam yang nggak akan bisa aku lupakan……

^^^
Pagi yang cerah kembali datang. Mentari dengan malu-malu membayang dicelah awan-awan putih. Langit bersih tanpa mendung. Burung-burung kecil dibelakang rumah bercicit rendah, bersenda gurau dalam balutan hangatnya sinar mentari. Ranting-ranting dengan kokoh menopang tubuh kecil mereka. Bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, mengajak kupu-kupu untuk mulai menghisap madu manisnya. Ayam-ayam mematuk rumput di halaman. Entah apa yang membuat mereka terlihat asyik. Benar-benar pemandangan yang menghibur. Dan adalah kehidupan pagi dengan wajah cerianya. Ya… aku selalu terpesona dengan indahnya pagi.

Yak… cukup dengan lamunanku. Kewajibanku harus segera dilaksanakan.
“Pagi ayah, pagi Noli!”. Sapaku pada Ayah dan Noriko, adik semata wayangku. Kenapa dipanggil Noli? Karena Noriko belum fasih mengucapkan huruf “R” dan sepertinya lebih unik dipanggil Noli… hehe.

“Pagi Kak Lunna!” jawab Noli dengan roti ditangannya. Ayah hanya menganggukkan kepala, rongga mulutnya masih dipenuhi oleh makanan.

Aku mengambil kursi disamping Noli dan segera menikmati makanan. Sarapan pagi ini adalah “Nasi goreng telur mata sapi ala chef Lunna”. Dengan keterbatasan naluri koki yang kumiliki, aku ingin memberikan cita rasa yang terbaik untuk makanan yang aku masak. Khusus untuk Noli, setiap pagi dia sarapan roti dan susu kesukaannya, tapi ini semenjak aku yang mengambil alih pekerjaan dapur.

“Sudah selesai sarapannya?”. Tanya Ayah kemudian. Aku dan Noli mengangguk bersamaan. “OK. Kita berangkat sekarang!!”. ujar Ayah semangat beriring senyum. Ya… hampir disetiap pagi Ayah selalu menyemangati kami.

Aku bergegas ke kamar untuk mengambil tas punggung kesayanganku yang dengan setia menemani kemanapun aku pergi. Ketika semua sudah siap, aku keluar kamar dan nggak sengaja mataku menangkap potret gambar dalam pigura di ruang keluarga.
“Lunna! Lunna!” Ayah memegang bahuku.

“Ah… eh, iya Yah!”, bulir hangat menyembul dipelupuk mataku.
“Ayo kita berangkat. Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah.”
“Iya, Yah.” jawabku pelan. Andainya saja……

^^^
“Noli ingat pesan Bunda?” tanyaku.
Noli mengangguk. “Noli nggak boleh nakal dan halus lajin belajal.” Aku tersenyum mendengarnya. Jawaban polos dan menyentuh.

“Nah… Noli salam dulu sama Ayah,”
Noli meraih punggung tangan Ayah dan menciumnya. Ayah membelai rambut Noli dan mencium keningnya. Akupun melakukan hal yang sama pada Noli.
“Noli semangat ya… jangan lupa apa?” Tanya Ayah pada Noli.
“Beldo’a sebelum belajal. Hmmm… Noli ingat telus kok Yah, hehe…” Noli tertawa rendah dan sesaat memelukku. “Ayah, kak Lunna… Noli belajal dulu ya. Assalammu’alaikum,” ujarnya kemudian melambai dan tersenyum.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku bersamaan dengan Ayah.

“Kamu juga jangan larut dalam sedih. Tersenyumlah seperti Noli,”
Aku tersenyum hambar. Ya… Ayah benar, aku nggak boleh sedih.
Noli berlari-lari kecil. Terlihat ceria. Setelah bayangan Noli nggak terlihat lagi dan telah asyik bergabung dengan teman-temannya dalam canda “Taman Kanak-kanak”, Ayah mengantarkanku ke sekolah.
^^^
Ada bayangan disana. Berjilbab putih bersih ditimpa sinar terang dalam lorong gelap tempatku sekarang berjalan. Aku nggak tahu dimana. Tapi aku bisa merasakan rasa dingin dan hangat secara bersamaan. Aneh.

Aku menyipitkan mataku. Memastikan apa yang aku lihat itu adalah benar bayangan sesosok manusia. Aku semakin mendekat kearahnya yang membelakangiku. Dan entah kenapa nggak ada rasa takut dalam diriku, padahal aku ini takut dalam gelap. Aku pandangi terus sosok itu. Aku seperti mengenalnya. Dan aku merasa dekat. Dekat sekali. Aku terkesima, ketika sosok itu berbalik menghadapku. Wajahnya…
Dia…

Ada kerinduan dalam senyumnya. Seperti aku. Aku…
Aku sangat ingin memeluknya. Aku berlari untuk menggapai sosok itu. namun yang terjadi, jarak kami semakin jauh. Walau aku berlari, aku nggak bisa mendekatinya. Jauh… menjauh.
“Tunggu!!!”
“Tungguuuuu!!!”
Semakin jauh. Dan hilang…
Aku jatuh terduduk. Kenapa? Kenapa pergi?
Tolong, jangan pergi…

^^^
KLENTANG…
Terdengar bunyi sendok terjatuh. Mengejutkanku dari khayal mimpiku tadi malam. “Noli, kenapa sendoknya dibuang?” tanyaku halus dan memungut sendok yang dibuang oleh Noli.

“Noli nggak mau makan. Noli males mau makan.” Wajah Noli mengambek dan memeluk boneka panda kesayangannya. Ya… itu kebiasaannya kalau udah ngambek.
Aku mengambil sendok baru. “Noli jangan gitu dong. Noli harus makan. Biar tetap sehat. Makan, ya.” Bujukku semanis mungkin.

“Pokoknya Noli nggak mau makan.”
“Hmmm… atau Noli mau makan yang lain. Noli mau apa? Nanti Kak Lunna buatin.”
“Nggak! Noli nggak mau makan. Noli mau makan sama Bunda.”
“Noli… Noli anak pintar kan?! Makan ya, sayang…”
“NGGAK MAU!!!!” tangan kanan Noli meraih gelas plastik yang ada didepannya, kemudian menghamburkannya ke lantai.

Habis sudah kesabaranku. “NOLI!!! KAMU PIKIR KAK LUNNA NGGAK CAPEK NGURUSIN KAMU? CUMA DISURUH MAKAN AJA SUSAH. MAU KAMU APA SIH NOLI?!!” aku lepas kendali. Bisa kulihat dengan jelas wajah Noli yang ketakutan. Air matanya berlinang. Dan…
“KAK LUNNA JAHAT!!!!” Noli berlari ke kamar dengan isak tangis. Aku tertegun dengan ucapan Noli. Aku jahat?

Jujur, aku sama sekali nggak bermaksud membuat adik kecilku menangis dan meneriakinya seperti tadi. Aku benar-benar lepas kendali. Aku berlari mengejarnya. Tapi terlambat. Pintu kamar Ayah telah dikunci oleh Noli. Aku berulang kali mengetuk pintu kamar Ayah.

“Noli… maafin Kakak. Kak Lunna nggak bermaksud marahin Noli. Maafin Kak Lunna, Noli. Buka pintunya ya…” nggak ada jawaban. Hanya pecahan isak tangis Noli. Aku ingin sekali memeluknya. Ini salahku. Seharusnya nggak bersikap kasar seperti tadi.
“Noli, buka pintunya. Kakak mohon!!” tetap nggak ada jawaban.

Setengah jam aku duduk menunggu didepan pintu kamar Ayah. Noli masih tetap nggak bergeming. Ucapan… eh bukan, teriakanku tadi benar-benar telah menyakiti hati adik semata wayangku. Seharusnya kesedihan nggak membuatku menjadi kasar, sampai-sampai harus meneriaki adikku sendiri. Ternyata, aku belum dewasa dalam menghadapi masalah.

^^^
Aku memutuskan untuk menenangkan diri. Taman belakang menjadi pilihanku. Spontan mataku menatap jejeran bunga disudut pagar. Bunga-bunga mawar yang selalu terawat oleh penanamnya. Namun kali ini ada yang lain dari bunga mawar itu. Apa karena bukan penanamnya sendirilah yang merawatnya saat ini?

Walaupun begitu, bunga-bunga mawar itu mampu membuatku tersenyum. Satu hal yang masih kusuka, walaupun terlihat lain, bunga mawar itu masih mampu bermekaran dengan indah dan berseri. Seperti itukah hatimu saat ini Bunda?

Setelah merasa tenang, aku kembali masuk kedalam rumah. Aku mengamati seisi ruangan. Seperti tempat asing saja. Aku menyapukan tanganku pada vas bunga didekatku. Debu yang tebal dan abu kehitam-hitaman menempel dijari telunjukku. Aku tersenyum geli. Betapa selama satu bulan ini, aku membiarkan si debu berkeliaran bebas di rumah.

Sedetik kemudian aku teringat Noli. Aku mendatangi kamar Ayah. Aku pegang gagang pintu dan memutarnya. Masih terkunci.

Nggak terdengar lagi suara isak tangisnya. “Noli… Noli!!!” aku mencoba memanggil. Masih nggak ada jawaban. Apa Noli tertidur?
Dengan gontai aku melangkah ke kamarku. Aku benar-benar menyesal. Maafiin Kakak, Noli…

^^^
“Kak Lunna!” Samar-samar aku seperti mendengar suara Noli. “Kak Lunna!” kini giliran badanku digoyang-goyang oleh tangan mungilnya. Seperti mimpi. “Kak Lunna, bangun!!” Pintanya. “Noli mau minta maaf sama Kak Lunna.”
“Noli!!” Aku terkesiap dari tidur siangku dan spontan duduk.

“Kak Lunna, maafin Noli ya…”
“Sini, duduk dipangku Kakak.” Noli naik ke atas tempat tidur dan duduk dipangkuanku. “Iya deh, Kakak maafin Noli. Kak Lunna juga minta maaf ya, karena tadi udah marah-marah sama Noli.” Aku mencium pipinya yang gemuk.
“Noli… maafin Kak Lunna, OK.” Ia tertawa.
Aku memeluk erat Noli. Seperti nggak ingin lepas darinya. Ya... 13 tahun penantianku, akhirnya aku mendapatkan adik yang aammmaaaatt lucu. Seharusnya aku menjaganya dengan baik.
“Kak Lunna, Noli lindu sama bunda,”
“Hmmm?”
“Noli pengen lihat bunda,”
“Emmm… Noli sabar ya, besok kan kita pergi lihat Bunda. Ok!”
“Oki doki!” Noli menjawabnya dengan senang.
Aku mencoba ceria. Aku nggak ingin ngelihat Noli sedih lagi. Padahal, jauh didalam hatiku, aku lebih rapuh dari Noli.
Kruyuk… kruyuk…
“Kak… Noli lapal,” sontak aku tertawa.
Noli… Noli…

^^^
Waktu berjalan lambat tapi pasti. Malam berganti siang, siang kembali malam. Tiba-tiba hatiku mengharu. Detak jantung nggak menentu. Kerinduan berada pada batas puncaknya.

Noli yang berjalan, menggamit lima jariku, asyik bernyanyi, ceria tersenyum. Andai aku bisa seperti Noli. Aku menarik nafas panjang, melegakan pernapasan yang mencekat, melegakan suasana hati yang nggak karuan.

B 407. Kamar berukuran sedang, bercat putih bersih. Disanalah seseorang terbaring. Aku masuk perlahan seolah nggak ingin mengejutkan seseorang yang terbaring didalamnya. Semua sama. Sama seperti satu bulan, dan satu minggu lalu saat aku kesini. Yang terdengar adalah mesin detak jantung. Yang berjalan adalah cairan dalam selang infus itu.

“Nenek dan Bibi dimana, Yah?” tanyaku pada Ayah.
“Tadi Nenek dan Bibimu, Ayah suruh makan dulu.” Aku mengangguk. “Oh ya, Lunna. Kamu jaga Bunda ya… Ayah mau shalat Dhuhur dulu.”
“Iya, Yah.”
“Noli nggak boleh ribut. Jaga bunda baik-baik, ya…” pesan Ayah.
“He-em,”

Sepeninggal Ayah, aku mengambil kursi tak jauh tempatku berdiri dan meletakkannya tepat disamping kanan ranjang Bunda. Noli aku dudukan ditepian ranjang. Aku duduk, menghadap tubuh Bunda yang semakin menyusut. Wajahnya terlihat semakin tirus. Garis hitam dibawah matanya semakin melebar. Namun bagiku, itu sama sekali nggak mengurangi kecantikan Bunda sedikitpun.

“Bunda, hali ini Kak Lunna ulang tahun, loh…” Ujar Noli membuatku kaget. “Bunda nggak mau ngucapin selamat ulang tahun sama Kak Lunna? Noli kaangeeen… sama Bunda.” Kemudian Noli mengecup kening Bunda.

Ya… hari ini aku ulang tahun. Dan hari ini terjadi dua momen hari sekaligus, hari bahagia dan sedihku. Tadi sehabis shalat subuh, Ayah dan Noli berdiri didepan pintu kamarku untuk mengucapkan “selamat ulang tahun”. Kejutan sederhana penuh arti. Ayah menghadiahkanku kerudung putih yang saat ini kupakai. Sedangkan Noli memberiku bros lucu yang sekarang aku pakai juga. Namun, hadiah terbesarku yang sebenarnya adalah Ayah dan Bunda yang penyayang serta adik kecilku yang lucu. Mereka nggak akan tergantikan oleh hadiah mahal apapun.

“Bunda, ayo bangun!” bisik Noli pelan ditelinga Bunda.
Seketika ruangan itu sepi dari suara. Hanya terdengar suara detik jam dinding disudut kiri atas. Baik aku dan Noli, sama-sama diam terpaku…
Tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik…
Benarkah yang kulihat? Bunda membuka matanya. Oh, Ya Allah Bunda membuka matanya. Aku ternganga, terpana.

“Bunda!!” panggilku dan Noli bersamaan. Perlahan mata Bunda terkatup lagi. “Bunda!!”
Noli tersenyum senang. Aku juga nggak boleh nangis. Aku harus tegar. Mata Bunda yang terbuka untuk waktu 10 detik, aku artikan sebagai bahasanya mengucapkan selamat hari memabahagiakan untukku. Ulang tahun putrinya yang ke 6570 hari. Terimakasih Bunda…
^^^
Minggu pagi yang cerah. Aku masih teringat dengan peristiwa kemarin. Ayah yang aku ceritakan tentang peristiwa itu, berkali-kali mengucap syukur. Begitu mengesankan. Baru hari itu Bunda membukakan matanya, walau hanya sebentar.
Aku yang mengingat hal itu, nggak bisa tertidur lama. Disudut sana, Ayah dan Noli pulas tertidur diatas sofa. Mereka kelelahan. Aku menulisan sebait puisi untuk Bunda.

Syair Indah Untuk Bunda
Pernahkah kau melihat senyum termanis?
Itu adalah senyuman Bunda,
Pernahkah kau mendengar teriakan merdu?
Itu adalah Bunda ketika marah,
Bunda… kan kunanti saat-saat itu lagi…

Bunda, kaulah ufuk timur kami. Engkau selalu berdiri di ufuk timur untuk membangunkan dan mengingatkan kami. Cahaya yang dahulu muncul, bagiku adalah cahaya seorang Bunda. Sinar ufuk timur membawa harapan dan kehidupan baru, seperti itulah Bunda. Kau memberikan kehidupan baru dalam harapan kami. Kaulah sinar ufuk yang sesungguhnya.

Aku melihat wajah Bunda yang tirus itu. terlihat senyum berserinya walau samar. Ya Allah, tolong bangunkan Bunda dari tidur panjangnya dengan sinar cahaya-Mu. Ketika Bunda terbangun nanti, tak ada kata terucap selain kebahagiaan.
Bunda… Lunna tahu, Bunda selalu menyayangi kami. Lunna tahu, penyakit yang tengah menderamu, nggak menghalangi semangat Bunda untuk berjuang dan melawan penyakit itu. Lunna tahu, dalam diam pun hati Bunda nggak putus-putusnya melantunkan do’a, mengharapkan yang terbaik untuk kami. Begitupun juga kami. Bunda, berjuanglah. Kami menantimu. Cepatlah sembuh.
Bunda… we love you… (Ayah, Lunna, Noli).

T A M A T

Sang Dewi Itu Kusebut Ibu

By : Rafa Alqinansa KPK





Layar terkembang bahtera melaju
Kini berlabuh di dermaga beriak syahdu
T ersemai cinta berpeluh penyejuk kalbu
Malaikat berkata, akulah yang mereka rindu
Aku tak ingin hidup sendiri
Di semesta nan penuh rasa iri


Kelopak mataku mengedip lambat
Pandangku menyentuh paras sumringah
Guratan lelah begitu kentara merona wajah
Kecantikan hati nan bersyukur nikmat

Dialah Sang Dewi untukku…
Setia mengkadoiku senyum indah nan ikhlas
Wujud mutiara hati nan tak kan kusam
Aku terlalu angkuh berniat membalas
Budiku hanya bagai setitik cahaya dalam dian temaram

Sang Dewi itu ku sebut Ibu…
Terima kasih Ya Allah..
Kau hadiahi aku bidadari di bumiMu
Setia bermunajat untukku di tiap malam biru
Bersamanya kurasakan hangatnya kasih
Dari penyemai benih kasih yang tak kenal letih

Ya Allah..
Berikanlah ia tempat yang paling mulia disisiMu
Berikanlah ia wewangian surgaMu
Dan berikanlah ia senyum terindah dariMu

Happy Mother's Day for all of Mom in the world.. :)

Jumat, 16 Desember 2011

Alamat-alamat (E-Mail) Surat Kabar Nasional

Bila anda bermaksud ngirim artikel, tulisan, berita, info mendadak dll. ke media yang anda inginkan, barangkali di sini akan anda dapatkan. Jika ternyata sudah berubah, mohon maklum. Bahkan saya mohon diberitahu jika ada perubahan alamat. Ini pun saya dapat dari temen2 di blogger ini. Mudah-mudahan manfaat.....



SURAT KABAR NASIONAL

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
opinion@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
jktpost2@cbn.net.id

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
editorial@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
sundaypos@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
features@thejakartapost.com

JAWA POS
E-mail Address(es):
editor@jawapos.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
kompas@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.co.id

KOMPAS
E-mail Address(es):
kcm@kompas.com

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
webmaster@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksimedia@yahoo.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
widabdg@seputar-indonesia.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@seputar-indonesia.com

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
rekor@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
medika@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
sekretariat@republika.co.id

HARIAN IBU
E-mail Address(es):
redaktur@harianibu.com

SURAT KABAR JAKARTA

MERDEKA
E-mail Address(es):
merdekanews@yahoo.com

HARIAN INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@harian-indonesia.com

RAKYAT MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@rakyatmerdeka.co.id

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo@harianjakarta.com

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo_jakarta@yahoo.com

INVESTOR DAILY
E-mail Address(es):
koraninvestor@investor.co.i

KOMPAS INSIDE
http://www.kompasinside.blogspot.com

SURAT KABAR JAWA BARAT

KOMPAS JABAR
E-mail Address(es):
kompasjabar@kompas.co.id

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
koransp@suarapembaruan.com

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
opini@suarapembaruan.com

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
info@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
opinish@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
redaksi@sinarharapan.co.id

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@gmail.com

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@yahoo.co.uk

METRO BANDUNG
E-mail Address(es):
metrobdg@rad.net.id

KORAN SUNDA
E-mail Address(es):
koran_sunda@yahoo.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@pikiran-rakyat.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
cakrawala@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
kampus@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia_pr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
gelora@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
dwi@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
otokirpr@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
didih_otokir@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
mardjanzen@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
prminggu@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
khazanah@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
beritapr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
percil@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
wakhu@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT (BUDHIANA)
E-mail Address(es):
budipr_bdg@yahoo.com

TRIBUN JABAR
E-mail Address(es):
tribunjabar@persda.co.id
atau tribunjabar@yahoo.com

SURAT KABAR JAWA TENGAH DAN JOGJA

KOMPAS JATENG
kompasjateng@kompas.co.id

KOMPAS JOGJA
kompasjogja@kompas.co.id

SUARA KARYA
E-mail Address(es):
redaksi@suarakarya-online.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
humainia@yahoo.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@suaramer.famili.com

SOLO POS
E-mail Address(es):
litbang@solopos.net

SOLO POS
E-mail Address(es):
redaksi@solopos.net

WAWASAN
E-mail Address(es):
redaksi@wawasan.co.id

BERNAS
E-mail Address(es):
bernasjogja@yahoo.com

BERNAS
E-mail Address(es):
editor@bernas.co.id

KEDAULATAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@kr.co.id

RADAR KUDUS
E-mail Address(es):
radarkudus@hotmail.com

SURAT KABAR JAWA TIMUR

KOMPAS JATIM
kompas@sby.dnet.net.id

SURYA
E-mail Address(es):
surya1@padinet.com

SURABAYA NEWS
E-mail Address(es):
surabaya_news@yahoo.com

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
redaksi@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
tya@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
surabayanews2003@yahoo.com

DUTA MASYARAKAT
E-mail Address(es):
dumas@sby.centrin.net.id

RADAR SURABAYA
radarsurabaya@yahoo.com

SURAT KABAR BALI, SUMATERA, KALIMANTAN DAN SEKITARNYA

SURAT KHABAR BALI DAN SEKITARNYA
BALI POST
E-mail Address(es):
balipost@indo.net.id

BISNIS BALI
E-mail Address(es):
info@bisnisbali.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpostbali@yahoo.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpos@indo.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@kupang.wasantara.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@persda.co.id

SURAT KHABAR KALIMANTAN
RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
afoez99@gmail.com

RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
redaksi@radarbanjarmasin.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@yahoo.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@persda.co.id

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
bpostmania@telkom.net

PONTIANAK POST
E-mail Address(es):
redaksi@pontianakpost.com

KALTIM POST
E-mail Address(es):
redaksi@kaltimpost.net

SURAT KHABAR SUMATERA
RIAU POS
E-mail Address(es):
redaksi@riaupos.co.id

LAMPUNG POST
E-mail Address(es):
redaksilampost@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
bangkapos@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
redaksi@bangkapos.com

BATAM POS
E-mail Address(es):
redaksi@harianbatampos.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sriwijayapost@yahoo.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sripo@persda.co.id

RIAU TRIBUNE
E-mail Address(es):
riautribune@yahoo.com

SERAMBI
E-mail Address(es):
serambi@indomedia.com

SERAMBI NEWS
E-mail Address(es):
redaksi@serambinews.com

MAJALAH

Berikut ini beberapa majalah yang beredar di sekitar kita.

READER'S DIGEST
E-mail Address(es):
Respati.Wulandari@feminagroup.com

READER'S DIGEST
E-mail Address(es):
editor.rd@feminagroup.com

SALAFY
E-mail Address(es):
majalahsalafy@ygy.centrin.net.id

SINYAL
E-mail Address(es):
redaksi@majalahsinyal.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
redaksi@hidayatullah.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
majalah@hidayatullah.com

SWA
E-mail Address(es):
swaredaksi@cbn.net.id

SWA
E-mail Address(es):
sekredswa@yahoo.com

TEMPO
E-mail Address(es):
koran@tempo.co.id

TEMPO
E-mail Address(es):
teknologi@tempo.co.id

TRUST
E-mail Address(es):
redaksi@majalahtrust.com

ANNIDA
E-mail Address(es):
annida@ummigroup.co.id

BOBO
E-mail Address(es):
bobonet@gramedia-majalah.com

FORUM
E-mail Address(es):
forumkeadilan@yahoo.com

FORUM
E-mail Address(es):
redaksi@forum.co.id

GADIS
E-mail Address(es):
info@gadis-online.com

GATRA
E-mail Address(es):
redaksi@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
gatra@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
surat@gatra.com

GE MOZAIK
E-mail Address(es):
ge_mozaik@ganeca-exact.com

GONG
E-mail Address(es):
gongetnik@yahoo.com

HAI
E-mail Address(es):
hai_magazine@gramedia-majalah.com

HEALTHY LIFE
E-mail Address(es):
read_healthylife@yahoo.com

INFOLINUX
E-mail Address(es):
redaksi@infolinux.co.id

INSIDE INDONESIA
E-mail Address(es):
admin@insideindonesia.org

INTISARI
E-mail Address(es):
intisari@gramedia-majalah.com

MAJALAH ILMIAH QUAD
E-mail Address(es):
quad@brawijaya.ac.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
hsantoso@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
eniman@paume.itb.ac.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
unjani@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
fmunjani@bdg.centrin.net.id

MATABACA
E-mail Address(es):
ade_trimarga@yahoo.com

MATABACA
E-mail Address(es):
adetri@matabaca.com

MATABACA
E-mail Address(es):
redaksi@matabaca.com

MATRA
E-mail Address(es):
matranet@rad.net.id

NEOTEK
E-mail Address(es):
redaksi@neotek.co.id

PARAS
E-mail Address(es):
majalahparas@yahoo.coma

TABLOID

TABLOID

TABLOID INTELIJEN
E-mail Address(es):
tabloid_intelijen@yahoo.com

TABLOID ROAMING
E-mail Address(es):
redaksi@tabloidroaming.com

TABLOID SMS
E-mail Address(es):
tabloid_sms@yahoo.com

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
trendigital@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
ahmad.djauhar@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
web@bisnis.co.id

JURNAL

Berikut ini alamat beberapa jurnal.
JURNAL
E-mail Address(es):
jurnal@cbn.net.id

JURNAL ILMIAH HUKUM LEGALITY...
E-mail Address(es):
heru@umm.ac.id

JURNAL ISLAM
E-mail Address(es):
jurnalislam@yahoo.com

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM
E-mail Address(es):
i3ti@indosat.net.id

JURNAL RISTEK
E-mail Address(es):
jurnal@ristek.go.id

JURNAL SAINS MATEMATIKA TEKN...
E-mail Address(es):
jmst@utlab.ut.ac.id

Sumber : http://alamat-media.blogspot.com/
Thx.
Kategori : tips dan trik

(SUMBER:http://yoeswibi.blogspot.com/2008/03/alamat-alamat-surat-kabar-nasional.html)

Kamis, 15 Desember 2011

Inikah Pendidikan?

By :Oleh : Rafa Alqinansa (Nany Safrianty)
@MUSEUM KAL-BAR (agenda Kafe KPK), 15 Desember 2011




Masih belia, 12 tahun
Rambut sedikit pirang
Legam dibawah sinar terang


Tanyalah dia, kau sekolah?
Ia lama diam, lalu menggeleng
Sekolah itu barang mewah
Begitu kiasan matanya yang oleng
Resah membawa hidup yang lelah
Sisi lain yang miris

Berkeliling menggendong adik yang menangis
Ia sekolah?
Entahlah...
Tertidur di hiruk pikuk lalu lalang
Kelelahan demi sereceh rupiah
Dimana jaminan pendidikan itu?
Yang mereka tahu, hanya memebanting tulang
Supaya dapat esok yang cerah

Bagaimana dengan kita?
Duduk di ruang kelas
Mendengar pengajar bercerita
Ruangan yang nyaman dan selaras
Pernahkah kita mensyukurinya sejenak saja?
Apa jadinya jika kita adalah mereka?
Sanggupkah kita menjadi mereka?

Penolong Pendidikan

By : Herni As Syifa KPK





Sayup-sayup suara hati mungkin tak akan terdengar. Ketika ribuan anak bangsa merasakan ketidakadilan di negeri sendiri. Kita merdeka namun ternyata terjajah.
Bila hati hanya berontak tanpa gerak, maka hanya ada satu kata yang terucap, yaitu “percuma”. Hatimu menjerit, namun tak sebuah tindakan yang dilakukan, maka selamanya kau akan menjadi ahli teriak, mengalahkan para penyanyi rocker di atas panggung.

Banyak manusia tak punya makna apalagi manfaat, bagi diri pribadi apalagi umat. Banyak berbicara tanpa berbuat, maka muncul istilah pemimpi abadi, yang bermimpi bagai asap yang terbang tinggi namun ia hina, tak bermanfaat, bahkan hanya akan menyesakkan dan memunculkan kegelapan.

Banyak bertindak tanpa perencanaan, maka memunculkan kecerobohan. Semua yang dilakukan asal-asalan, tak punya visi misi yang jelas. Sehingga hidup hanya sekedarnya saja. Terserah angin membawa.

Menjadi ahli pendidikan hanya sekedar, maka tak akan ada manfaat dirimu di sana. Itulah sebabnya mengapa hari ini pendidikan di Negara ini semakin tak terkendali.pudar makna, tak bernilai sama sekali.

Pakar pendidikan tak terhitung jumlahnya. Tapi tak membawa dampak berarti bagi anak bangsa. Hati telah menjadi lunak oleh dunia, hingga tak mampu membawa kebaikan bagi kecerdasan para generasi muda bangsa. Itu semua karena mereka memiliki hati tapi tidak digunakan untuk melihat kebesaran Allah. Mereka punya telinga, tapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah.

Seandainya mereka paham bahwa sekecil apapun tindakan kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak, maka tak aka nada yang berani mengabaikan tanggung jawab itu. Apalagi terkait pendidikan yang menyangkut banyak kepentingan umat.
Semoga kita menjadi jiwa-jiwa yang dapat memperbaiki system dan mengubah keterpurukan system pendidikan di negeri ini. Menjadi penolong pendidikan. Tak hanya berkicau seperti burung yang terlalu banyak protes, tapi sedikitpun tidak didengar oleh pemerintah kita. Terjun, ambil bagian dalam system, maka kita akan menjadi salah satu suara yang didengar.

Senin, 12 Desember 2011

You Are Smart

By : Yunsirno
Dewan Penasehat KPK





“You are smart!” dengan spontan kupuji salah satu peserta belajarku.
Tapi ia malah menjawab. “No, sir, I am not smart”. Dengan spontan pula saya kaget.
“So, are you stupid?” tanya saya kemudian.
Ia malah menggeleng, “No, mister …”


“So …” saya jadi bingung karena ada pilihan tapi keduanya gak dipilih.
“Not smart, but not stupid”
Di lain waktu, saya tanya peserta seminar di sebuah kampus, “Apakah Anda kaya? Jika iya, angkat tangan!” Tak ada satu pun yang tangkat tangan.
“Lalu apakah Anda miskin? Yang miskin silahkan angkat tangan?” Tak ada pula yang mengikuti.
“Lalu?” tanya saya.
“Sedang-sedang aja …... “
Dan isi percakapan di paragraf di atas bukan hal aneh. Ini sering kita jumpai di sekitar kita. Memang tidak menyebut diri pintar atau kaya adalah salah satu tanda bahwa kita adalah masyarakat yang rendah hati. Tapi ketika “tidak mau” mengaku bodoh atau miskin, sementara pilihan sudah habis tentu agak mengherankan. Dan sosiolog terkemuka Mochtar Lubis mengatakan bahwa salah satu cirri masyarakat kita adalah cari aman.

Sebenarnya ketika mengaku pintar, maka si murid khawatir kemudian hal itu akan menjadi beban bagi mereka. Bisa saja setelah mengaku pintar, mereka malah ditunjuk menjadi utusan sekolah misalnya, atau malahan soal-soal tes diperberat. Sementara mengaku bodoh mereka pun enggan. Karena jelas ini menjatuhkan harga diri, dan malah akan sering disorot atau diberi perhatian khusus. Maka para siswa ini mengambil jalan aman : “kami tidak pintar dan juga tidak bodoh.” Dengan ini tentu mereka berharap tidak dibebani sebagaimana orang pintar dan tidak disorot sebagaiamana sisiwa bodoh. Main aman saja.
Begitu pula ketika ditanya tentang, kayakah kita? Tak ada yang mau mengaku miskin, karena takut jatuh harga diri, dipandang rendah dan takut dikasihani. Tapi sebaliknya gak mau juga mengaku kaya. Karena konsekuensi kaya adalah harus banyak memberi. Padahal belum tentu isi dompet mencukupi untuk diri sendiri.


Saya Bukan Orang Soleh

Dan lebih lucu lagi jika masuk wilayah agama, masyarakat kita makin menunjukkan keanehan. Hampir tak ada orang di sekitar kita yang mau mengaku sebagai orang soleh. Mereka jadi enggan ke masjid sering-sering, karena khawatir dilabeli ustadz. Dan kalau sudah dapat label begitu, mereka merasa hidup kok jadi gak bebas lagi ya. Tapi sebaliknya tak ada seorang pun yang mau mengaku sebagai pendurhaka. Aneh, kan? Padahal jelas-jelas lawan kata sholeh adalah durhaka.

Inilah salah satu tipikal masyarakat kita, suka bermain di wilayah abu-abu. Akhirnya orang seperti ini jadi cenderung oportunis. Di kampus mengaku tidak miskin, tapi beasiswa untuk membantu mahasiswa miskin diambil juga. Di masyrakat, ia tidak mau jadi pedagang atau wirausahawan tapi memilih jadi pelayan masyarakat (PNS), namun banyak amanahnya dijualbelikan, ada proyek negera, dia jadi makelar ala bisnis.

Ibu Hebat Pak Habibie

Dan tahukah Anda bahwa tipikal orang seperti ini sulit meraih kesuksesan. Karena jelas integritas mereka hilang, tak punya prinsip dan orang lain pun hanya mau berhubungan dengannya saat ada kesempatan untung saja. Mereka tidak akan pernah bisa maju, walaupun tidak susah susah amat. Yah, mediocre gitulah …

Coba Anda baca biografi BJ Habibie. Lihatlah apa yang dipesankan sang ibu kepada anaknya saat berkuliah di Jerman! Nak, jangan engkau ambil beasiswa. Itu untuk mahasiswa tidak mampu. Ibu masih mampu membiayaimu… Sebuah integritas kelas satu yang ditularkan sang ibu pada anaknya. Maka wajarlah Habibie menjadi orang hebat negeri ini, karena ia dilahirkan dari seorang ibu yang hebat.

Dan Jepang lebih “gila” lagi. Lihat yang dilakukan pemuda-pemudanya. Mereka bahkan tidak mau “dikuliahkan” orang tuanya. Mereka pinjam uang orang tuanya, dan mereka akan berusaha untuk mengembalikannya. Mereka tidak aji mumpung. Tapi mereka sudah punya harga diri bahkan di depan orang yang melahirkan mereka.

Mudah-mudahan kita tidak menjadi satu dari sekian banyak warga bangsa oportunis. Tahunya bagaimana? Jawab pertanyaan saya di atas, “Anda kaya atau miskin?” dan “Anda pintar atau bodoh”. Dan silahkan nilai diri Anda sendiri@

Perputaran Waktu

By : Uswatun Hasanah KPK









Ketika rasa itu berubah menjadi asa
Jiwa raga bagaikan makhluk tak berdaya
Terlena dibuai indahnya dunia


Bergetarlah seluruh badan yang bernyawa
Serasa persendian ini tak mampu menopang hidupnya
Adakah yang salah dengan jiwa??

Mentari itu datang dengan tiba-tiba
Sedang ia tak menyadarinya
Apalagi mengharapkan hadirnya
Jauh sekali dari prasangka

Bukan berarti ia tak suka
Ketika mentari bisa memberinya bahagia
Memberikan kehangatan di dalam jiwa

Namun, ia tak menduga
Selekas itu mentari menyapa dunia
Sedangkan musim itu belum tiba

Wahai mentari, enyahlah engkau dari dunia ini
Karena, hadirmu belumlah memberikan arti
Ah.. Seandainya mentari bisa mengerti
Dan mendengarkan suara hati

Namun, apakah salahnya?!
Sedang mentari hanya beredar sebagaimana mestinya
Karena jiwalah yang harus memahaminya

Pada Rabbnya ia meminta
Ya Rabb.. berilah kekuatan jiwa
Agar tegak menghadapi tipu daya dunia

Wahai angin yang membawa musim
Cepatlah engkau berlalu
Bawalah mentari bersamamu
Berputarlah seiring dengan perputaran waktu
Sampai waktu itu datang kepadamu

Sabtu, 10 Desember 2011

Tuhan Sembilan Senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Taufik Ismail

Malu Aku (Jadi) orang Indonesia

Di negeriku,selingkuh birokrasi peringkatnya didunia nomor Satu
Dinegeriku,sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan

Dinegeriku anak lelaki,anak perempuan,kemenakan,sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah,paman,dan kakek
Secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu
Dinegeriku komisi pembelian alat-alat berat,alat-alat ringan,senjata,pesawat tempur,kapal selam,,kedele,terigu,dan peuyeum dipotiong birokrasi
Lebih separuh masuk kantung jas safari
Dikedutaan besar anak presiden,anak mentri,anak jendral,anak jendral,anak sekjen,dan anak dirjen dilayani seperti presiden,mentri,jenderal,sekjen,dan dirjen sejati,agar orang tua mereka bersenang hati
Langit akhlak roboh,diatas negeriku berserak-serak………..
Hokum tak tegak,doyang berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard,Geylang Roard,lebuh Tuan Razak,
Berjalan aku di sixth Avenue,Maydan Tahrir,dan Ginza,
Berjalan aku di Dam,Champs Elysees,dan Mesopotamia
Disela khalayak aku berlindung dibelakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Aku malu jadi orang Indonesia

Sajak Karya Hamka

Di atas runtuhan Melaka
Lama penyair termenung seorang diri
ingat Melayu kala jayanya
pusat kebesaran nenek bahari

Di sini dahulu laksamana Hang Tuah
satria moyang Melayu sejati
jaya perkasa gagah dan mewah
"tidak Melayu hilang di bumi"

Di sini dahulu payung berkembang
megah bendahara Seri Maharaja
bendahara cerdik tumpuan dagang
lubuk budi laut bicara

Pun banyak pula penjual negeri
mengharap emas perak bertimba
untuk keuntungan diri sendiri
biarlah bangsa menjadi hamba

Inilah sebab bangsaku jatuh
baik dahulu atau sekarang
inilah sebabnya kakinya lumpuh
menjadi budak jajahan orang

Sakitnya bangsaku bukan di luar
tapi terhunjam di dalam nyawa
walau diubat walau ditawar
semangat hancur apakan daya

Janji Tuhan sudah tajalli
mulialah umat yang teguh iman
Allah tak pernah mungkir janji
tarikh riwayat jadi pedoman

malang mujur nasibnya bangsa
turun dan naik silih berganti
terhenyak lemah naik perkasa
tergantung atas usaha sendiri

Riwayat lama tutuplah sudah
sekarang buka lembaran baru
baik hentikan termenung gundah
apalah guna lama terharu

Bangunlah kekasih ku umat Melayu
belahan asal satu turunan
bercampur darah dari dahulu
persamaan nasib jadi kenangan

Semangat yang lemah buanglah jauh
jiwa yang kecil segera besarkan
yakin percaya iman pun teguh
zaman hadapan penuh harapan

Hamka

Tak tahu aku Apa jati diriku Kini

Kita hampir paripurna jadi bangsa porak poranda
Terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara didunia
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia kini,sudah untung

Pergelaran tangan dan kaki Indonesia diborgol
Diruang tamu kantor pegadaian jagat raya,dan
Dipunggung kita kaos oblong dicap sablon besar-besar,Tahanan IMF dan Bank Dunia
Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu didunia,
Diusir pula ditangga pelabuhan,
Terapung-apung dilautan
Kita sudah tidak mardeka lagi
Indonesia sudah masuk kedalam masa kolonialisme baru,dengan penajajah yang banyak Negara sekaligus,
Nilai-nilai luhur telah luluh lantak
Berkeping-keping dan hancur,
Berserakan dkubangan lumpur

(Taufik Ismail)

Kamis, 08 Desember 2011

Puisi Hatiku

By : Arie Ammara KPK



Puisi hatiku…
Terkadang sanggup ku menyelaminya
Karena airnya begitu meluap-luap laksana air bah
Namun tak jarang ia kering
Laksana sumur kemarau panjang


Puisi hatiku…
Terkadang membahana hingga ke angkasa
Menerbangkan asa
Hingga sinarnya mampu terangi jiwa yang hampa
Namun tak jarang
Ia laksana si lumpuh yang tak kuasa berjalan
Untuk hanya menggerakkan jari-jemari kakinya

Puisi hatiku..
Terkadang menari indah
Meliuk-liuk bagai dedaunan yang diterpa sang bayu
Bergetar halus laksana daum bambu yang di sapa semilirnya angin
Namun tak jarang ia luluh lantak
Laksana timah yang bertemu dengan api

Puisi hatiku…
Terkadang menyanyi
Nyanyian syahdu sang pujangga kala merindu
Namun tak jarang ia laksana terbelenggu
Diam membisu

Puisi hatiku………

Senin, 05 Desember 2011

Ibu Malaikat Kehidupanku

By : Fea Adzkia KPK

















Ibu....
Bidadari duniaku....
Kau anugerah terindah di kehidupanku
Kau begitu lembut tetapi bukan berarti lemah
Kau begitu mempesona namun tetap bersahaja
Kau begitu istimewa ibu...
Karena kekuatanmu membuat ibu spesial di mataku
Tanpamu ku tak bisa hadir di dunia ini
Betapa besar kasih sayangmu ibu...


Ibu....
Kau mengandungku
Kau terjaga saat tidur malamku...
Kau khawatir memikirkanku di saat ku terbaring sakit
Menyediakan segalanya yang menjadi keperluanku
Betapa besar jasamu ibu...
Dan semua itu tidak akan terbalas dengan materi sekalipun

Ya Allah...
Sang Pemilik Cinta....
Jaga dan lindungi Ibuku...
Tidak ada harta yang paling berharga selain dirinya
Istiqomahkan ia agar selalu berada di jalan-Mu
Dan masukkan ia ke dalam golongan insan Surgawi


Ibu....
Malaikat duniaku...
Ku akan selalu mendoa’kanmu
Di tiap malamku....
Sembah sujudku selalu unt

Aku ingin Usiaku sampai Kiamat

By : Akhiarden KPK

Aku ingin usiaku sampai kiamat
Aku ingin namaku abadi hingga hari akhir nanti
Aku ingin namaku membumi

Aku ingin karyaku mengangkasa diseantro dunia
Aku ingin tulisanku berenang di semua lautan
Aku ingin tulisanku dibawa astronot keluar angkasa
Aku ingin karyaku jatuh menjadi hujan menyirami hati-hati yang gersang
Aku ingin karyaku seperti mentari yang mampu sinari kegelapan pikiran
Aku ingin karyaku seperti embun yang hadirkan kesejukan nurani
Aku ingin karyaku seperti oksigen yang selalu dibutuhkan setiap detik
Aku ingin karyaku seperti angin yang selalu bawa kesegaran
Aku ingin membuat jus tulisan berbahan mentari,angin,oksigen,lautan dan embun

Hidup Untuk Ibadah

By :Akhiarden KPK

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(Adz Dzariyaat: 56)

Saudaraku,
Hadirnya kita didunia ini adalah untuk menyembah Allah SWT.Betapa lemahnya kita sebagai seorang hamba.Jantung,paru-paru,hati,peredaran darah,usus,lambung dan segala organ dalam tubuh kita sendiri kita tak punya kuasa untuk mengaturnya.Semunya bekerja berdasarkan perintah dari yang menciptakannya.Betapa bergantungnya kita kepada Allah SWT,dan sepantasnyalah kita tiada pernah sombong walau sedetikpun.Umur kita sampai saat ini juga merupakan kemurahan pemberian Allah SWT

Saudaraku,
Kenapa belum juga tergerak hati kita untuk kembali kepada Allah.Memantapkan azzam kita menjadi hamba pengabdi,yang selalu memberikan amal terbaik kepada sang pencipta.Semua energy yang kita miliki,hendaknya dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan perjalanan kita menuju ridhonya.Ketahuilah,perjalanan kita tak selamanya mulus.Selalau ada riak-riak yang menyebabkan perjalanan tersendat.Maka siapkan bekal sebanyak—banyaknya untuk hilangkan kepenatan dan kelelahan.Seorang hamba tiada pernah beristirahat mempersiapkan bekalnya,sebelum perjalanan yang panjang harus berakhir.

Sungguh merugi mereka yang mengisi hari tanpa beramal.Melewati hari tanpa ibada.Bukankah perjalanan kita akan berakhir.Maka bagaimana mungkin dalam perjalanan selanjutnya kita tak mempersiapkan bekal.

Ingat sahabat,kita bukan hewan dan tumbuhan,yang kehadirannya hanya didunia ini saja.Maka wajar kalau kerjaan mereka hanya makan,tidur dan kawin.Mereka tidak mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan didunia ini.Sementara kita diberikan akal pikiran untuk mencapai kesempurnaan pengabdian.Betapa banyak kita temui mereka yang menjalani aktivitas kehidupan tak ubahnya aktivitas yang dilakukan binatang.Makan,minum,kawin.Roda kehidupannya senantiasa berputar dikisaran aktivitas itu.Tanpa aktivitas lain.Tanpa ibadah,tanpa amal,tanpa baca Qur’an,tanpa sholat,tanpa amal social dan tanpa aktivitas mengabdikan diri pada Tuhannya.

Sungguh menyedihkan,hidup yang singkat ini diisi dengan tidur-tiduran.Diisi dengan aktivitas keduniaan tanpa menyisakan sedikitpun aktivitas menjemput pundi amal untuk dibawa kenegeri akhirat.Bukankah akhirat itu kekal,tiada berakhir? Surga terlalu sayang dilewatkan dengan mengisi hidup tanpa amal.Maka selagi nafas masih dikerongkongan,mari beramal dengan penuh kesungguhan.Ada begitu banyak peluang amal yang Allah sediakan setiap harinya,yang sayang sekali untuk dilewatkan.Jangan jadi orang yang miskin di akhirat nanti karena ketiadaan bekal amal yang dibawa.Jangan sampai kita jadi orang yang menderita didunia dan terlempar keneraka.

Jadilah pribadi bahagia didunia,sentosa di surga.Lenyapkan segera riak-riak kemalasan.Lempar jauh-jauh kelalaian.Mari genggam surga dengan cinta pada sang pencipta.Rengkuh keridhoanNya dengan amal terbaik yang mampu kita persembahkan setiap harinya.Setiap perputaran waktu adalah masa dimana memutarkan amal-amal terbaik yang sanggup kita lakuakan.Sudah saatnya kita kembali kejalur penciptaan yang sesungguhnya.Cukuplah dosa yang kita lakukan dimasa lalu,sebagai kenangan kekonyolan kita sebagai seorang hamba.Kita perbaiki dan tutupi lubang-lubang aibnya dengan amal terbaik kita.

Mari bersama buat sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal unggulan.Sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal kebaikan kepada siapapun.Setiap kita pasti ditanya tentang apa yang kita dilakukan didunia.maka selagi ada waktu dan nafas masih ditenggorokan tak ada waktu terlambat untuk kembali berlayar,mengudara,menempuh perjalanan untuk menjemput pundi-pundi pahala yang Allah sediakan.Setiap kita istimewa,maka jadilah pribadi istimewa dihadapan

Sahabat Hingga ke Surga

By : Siti Uswatun Hasanah KPK

Kutatap langit malam, penuh dengan kedamaian
Cakrawala nan megah bertambah indah
Dihiasi bulan purnama dengan pancaran cahaya
Kerlap-kerlip bintang kejora menemaninya di atas sana

Sesaat ku sadari
Sunyi nan damai menyelimuti
Tiada lagi canda, tiada tawa
Tiada air mata duka, maupun bahagia

Kutanyakan pada bulan dan bintang
Dimanakah sahabat-sahabatku berada???
Semua terdiam seribu bahasa

Ah… semua tetap sama
Tiada yang berubah
Sekali lagi ingin ku katakan padanya
Tiada yang berubah

Langit yang ku pandang masih langit yang sama
Bulan masih bersinar indah, ditemani bintang kejora
Tiada yang pergi…
Tiada yang berganti...

Ya… semua tetap seperti dulu
Tiada yang berubah di hatiku

Walau raga tak lagi bersua
Hadirnya telah memberiku berjuta warna
Bersemayam indah di dalam jiwa

Wahai sang bayu…
Dapatkah engkau mendengarku
Ku titip salam rindu untuknya
Sahabatku yang ku cinta

Ya Rabbi..
Padamu ku meminta
Jadikanlah mereka
Sahabatku hingga ke syurga

Sabtu, 03 Desember 2011

Sebuah Sajak Cerita

By : Rafa Alqinansa

Tersibak di antara pohon bambu
Jatuh dari mega nirwana
Kau dan aku berdiri bersisian
Memandang lengkungan apik sinar terang

Kata orang
Segeralah kau meminta inginmu
Pada terangnya yang jatuh di retina
Berharap semua yang indah
Semua yang lalu ingin terulang

Namun kiranya masa itu adalah kecerobohan
Tak kah kau ingin menatap hari esok?
Daripada menunggu inginmu dikabulkan
Oleh sinar silau melampau

Kuberikan sebuah sajak cinta
Berisi rintihan hati dan harapan
Untukmu yang kupuja
Inginku bersuara
Tuhan, Kau bersinar dalam jiwaku